Perjanjian ini jadi awal mula pengkhianatan Sultan Haji Banten
Ketika masa pendudukan Belanda, salah satu masalah yang dihadapi oleh rakyat adalah kongsi dagang VOC.
Ketika masa pendudukan Belanda, salah satu masalah yang dihadapi oleh rakyat adalah kongsi dagang VOC. VOC melakukan monopoli perdagangan hampir di semua daerah yang ada di Nusantara. Salah satu daerah yang terkena dampak VOC adalah Banten. Banyak perlawanan yang sudah diberikan oleh Banten kepada VOC. Serangan Banten itu dibalas dengan hal yang lebih kejam oleh VOC. Salah satu teknik adu domba yang dilakukan oleh VOC adalah mempengaruhi putra Sultan Ageng Tirtayasa, yaitu Sultan Haji, untuk melawan ayahnya sendiri. Bagaimana kisahnya? Yuk kita simak bersama.
Setelah mendengar ucapan VOC, muncullah perasaan curiga antara Sultan Haji pada Sultan Ageng Tirtayasa. Segera, Sultan Haji membuat persekongkolan dengan VOC dengan tujuan untuk merebut tahta Kesultanan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa sangat marah mendengar kabar berita ini.
Namun, Sultan Haji tidak gentar. Niat jahat VOC mulai tercium ketika mengajukan syarat dalam persekongkolannya dengan Sultan Haji. Dalam persekongkolan itu, VOC bisa membantu Sultan Haji untuk merebut tahta Kesultanan Banten tetapi dengan empat syarat, yaitu Banten harus menyerahkan wilayah Cirebon kepada VOC, monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC dan Kesultanan Banten harus mengusir para pedagang Persia, India, dan Cina, Banten harus membayar enam ratus ribu ringgit jika melanggar perjanjian dan pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman Priangan segera ditarik kembali.
Karena tidak menyadari adanya adu domba di dalam perjanjian itu, Sultan Haji tertipu dan menyetujuinya. Hal ini bisa mengajarkan pada kita untuk bisa lebih percaya kepada keluarga atau saudara terdekat kita. Jadi, sekarang kamu tertarik untuk bisa mempelajari hal itu lebih lanjut kan? Selamat belajar.
(mdk/iwe)