Perdana di Indonesia Timur, begini kegiatan CSR Toyota di Makassar
Perdana di Indonesia Timur, begini kegiatan CSR Toyota di Makassar. Di wilayah Bugis ini, Toyota Indonesia melakukan kegiatan perbaikan lingkungan terumbu karang di kawasan laut Kota Makasar dan kegiatan edukasi budaya maritim dan konservasi lingkungan kepada kalangan pelajar.
Setelah Pulau Jawa, kegiatan tanggung jawab sosial (CSR) PT Toyota-Astra Motor (TAM) mulai masuk ke kawasan timur Indonesia, tepatnya Makassar, Sulawesi Selatan. Di wilayah Bugis ini, Toyota Indonesia melakukan kegiatan perbaikan lingkungan terumbu karang di kawasan laut Kota Makasar dan kegiatan edukasi budaya maritim dan konservasi lingkungan kepada kalangan pelajar.
Kegiatan CSR bertajuk 'Pinisi bagi Negeri' berupa penanaman terumbu karang di Pulau Samalona, pulau kecil sekitar Makassar, untuk meningkatkan kualitas lingkungan perairan melalui konservasi terumbu karang sebagai ekosistem utamanya. Semenara kegiatan edukasi budaya maritim dilakukan dengan cara membangun kapal Pinisi, yang terkenal sebagai ikon budaya masyarakat Bugis-Makassar.
Frans Ihutan, General Manager Corporate Planning dan Legal TAM, menjelaskan pihaknya telah melakukan konservasi tahap awal dengan menanam 1.800 fragmen terumbu karang, yang akan terus ditingkatkan dengan target 6.000 fragmen terumbu karang. Selain penanaman, bekerja sama dengan Diving Club Universitas Hasanudin, Toyota juga akan melakukan perawatan dan pemantauan perkembangan dan kesehatan terumbu karangnya.
"Kapal Pinisi yang sudah selesai dibangun akan digunakan untuk berlayar ke Pulau Samalona untuk melakukan penanaman terumbu karang. Di atas Pinisi, para pelajar dan masyarakat bisa menikmati konten edukatif tentang budaya maritim dan konservasi lingkungan bahari setiap hari," ujar Frans, saat peresmian program Pinisi bagi Negeri di Pantai Losari, Makassar, Jumat (21/4).
Hadir dalam peresmian itu, Henry Tanoto, Vice President TAM; Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan; M Ramdan Pomanto, Walikota Makassar; serta perwakilan dari Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Henry Tanoto, Vice President TAM, dalam sambutannya mengatakan program "Pinisi bagi Negeri" dirancang bersama Pemerintah Kota Makassar, diler Kalla Toyota, dan masyarakat lewat Yayasan Makassar Skalia. Berbagai kegiatan dalam payung Pinisi bagi Negeri dilakukan untuk menggali potensi generasi muda dalam melakukan perbaikan lingkungan hidup di kawasan pantai Makassar dan kemaritiman. Sejalan dengan semangat Toyota let’s Go Beyond, program Pinisi bagi Negeri diharapkan hasilnya akan sangat bermanfaat melebihi ekspektasi yang diinginkan masyarakat dan pihak terkait lainnya.
“Toyota berharap program Pinisi bagi Negeri berjalan kontinyu, berkesinambungan, mandiri, serta didukung semua pihak. Dengan menjaga kelestarian budaya kemaritiman Makassar, bisa menjadi daya tarik pariwisata, dan masyarakat juga akan semakin teredukasi untuk senantiasa menjaga kelestarian lingkungan laut dan menjadikannya sebagai sarana pendidikan budaya dan maritim yang menarik,” pungkasnya.
Frans menambahkan, kapal Pinisi yang diberi label Toyota ini akan berlayar dua kali setiap hari dengan rute Pantai Losari-Pulau Samalona. Pada Senin-Jumat, kapal Pinisi ini hanya membawa kalangan pelajar sebanyak 20-25 siswa. Sedangkan Sabtu-Minggu, baru masyarakat atau publik bisa menikmati berlayar dengan Pinisi Toyota.
"Edukasi bahari dengan berlayar di Pinisi akan menarik anak-anak muda, karena ada sensasi petualangan di sini," ucap dia.
Program "Pinisi Bagi Negeri" merupakan bagian dari program Toyota Car for Tree. Sejak 2010, Car for Tree diselenggarakan dengan cara menyisihkan sebagian keuntungan penjualan dari setiap unit kendaraan Toyota untuk didonasikan menjadi pohon dan proyek pelestarian lingkungan.
Sebelumnya program Car for Tree dilaksanakan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pada 2011, diresmikan Toyota Toyota Eco Island yaitu taman hijau terbuka dengan konsep edu-eco-tainment dan konservasi lingkungan. Pada 2014, dilanjutkan dengan merevitalisasi Taman Semanggi, sebagai salah satu ikon sejarah dan pusat atraksi di Jakarta.
Mulai 2017, selain memperluas cakupan program ke luar Jakarta dan didasarkan pada potensi lokal yang dimiliki masing-masing daerah, kegiatan pun tidak lagi terfokus kepada penanaman pohon saja.