Gejolak rupiah mengganggu pasar Mobnas Komodo
Kendati sudah mampu memproduksi 120 unit tiap tahunnya, Fin Komodo belum berencana untuk menambah kapasitas produksiya.
Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memukul industri otomotif dalam negeri. Kondisi rupiah yang tidak stabil menyebabkan penjualan kendaraan buggy offroad karya anak bangsa ini mengalami penurunan.
"Berpengaruh sekali, khususnya di penjualan belakangan ini tidak sama seperti tahun kemarin. Selain itu, biaya produksinya terkena imbas juga," jelas Budi Susilo, Presiden Direktur Fin Komodo.
Kendati sudah mampu memproduksi 120 unit tiap tahunnya, Fin Komodo belum berencana untuk menambah kapasitas produksiya.
"Belum ada rencana menambah kapasitas produk, karena melihat demandnya belum bertambah. Kami masih butuh banyak edukasi kepada masyarakat mengenai kendaraan ini," ungkapnya.
Sebagai informasi, mobil Fin Komodo sudah menggunakan sebagian besar komponen lokal. Hal inilah yang membuat harga mobilnya dapat bersaing di pasaran.
"Sudah 80 persen komponen lokal, bahkan mesinnya juga sudah lokal," tambahnya.
(kpl/fid/sdi)
(mdk/otosia)