LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Tangkal banjir dengan sumur serapan

Tidak hanya butuh satu cara, melainkan banyak cara untuk menjinakkan banjir Jakarta.

2013-01-19 14:03:00
banjir jakarta
Advertisement

Tidak hanya butuh satu cara, melainkan banyak cara untuk menjinakkan banjir Jakarta. Pemerintah boleh saja berdalih sudah mengantisipasi banjir dengan membangun dan membersihkan saluran drainase, gorong-gorong, hingga pembangunan kanal-kanal; mulai Kanal Banjir Barat hingga Kanal Banjir Timur. Namun apakah itu cukup? Tidak, demikian jawaban Guru Besar Konservasi Tanah dan Air di Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir Naik Sinukaban.

Sinukaban, yang juga Pengamat Pembangunan Pertanian dan Lingkungan Hidup, itu mengungkap dua hal penting dalam penanganan banjir Jakarta, yakni pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dan pembuatan sumur serapan. Soal DAS sudah dibahas dalam tulisan sebelumnya: Tanpa perbaikan DAS, Jakarta sulit bebas banjir. Kini, akan bicara tentang sumur serapan.

Menurut Sinukaban, sumur resapan dibutuhkan untuk menampung air hujan, sehingga tidak ada lagi air hujan mengalir ke selokan, sungai, dan saluran air lain. Dengan demikian, jumlah debit air yang masuk ke aliran air dan sungai berkurang, sehingga tidak terjadi genangan atau tumpahan air sungai.

Bila setiap rumah, kantor, sekolah, rumah ibadah, tempat parkir, dan tempat yang lainnya memiliki satu sumur resapan, tidak akan ada lagi air menggenang di pekarangan rumah, sekolah, kantor, rumah ibadah dan tempat lain. Dengan perkiraan biaya Rp 2 juta, sumur resapan bisa dibangun di kawasan Cawang ke selatan. Ukurannya tidak besar, sekitar 5x5 meter dengan kedalaman 8,5 meter.

Sumur serapan juga lebih murah dari pada proyek pembuatan danau dengan biaya antara Rp 4 hingga 16 triliun. "Kalau pembangunan sumur serapan ini bisa sediakan oleh pemerintah daerah, persoalan banjir bisa beres semuanya. Kalau setahun semua perumahan warga dibangun serapan air, tahun berikutnya pasti sudah tidak ada banjir," kata dia menegaskan.

Bagaimana dengan biopori? Itu tidak ada gunanya, kata dia. Yang dibutuhkan Jakarta adalah sumur resapan untuk menampung air hujan. Untuk kawasan Jakarta, kira-kira butuh 500 hingga 600 ribu sumur serapan. Ukurannya bisa macam-macam, mulai 5x5 meter atau 10x10 meter. Sumur serapan dibuat di sepanjang DAS yang mengaliri Jakarta. Dengan sumur serapan, miliaran meter kubik air bisa ditampung.

Sementara kalau biopori itu daya serapnya tidak jelas. Sinukaban berharap pemerintah provinsi DKI Jakarta tidak menunda-nunda pembuatan sumur serapan. Intinya bila ingin menyelesaikan persoalan banjir, pemprov harus membuat sumur resapan, dan membenahi DAS. "Itu harus dilakukan dengan sistem partisipasi masyarakat dan pemerintah. Baik itu pemerintah Jakarta dan Jawa Barat."

Gerakan pembuatan sumur serapan ini harus massal, mengikutsertakan semua sektor, baik sekolah, rumah ibadah, gedung-gedung perkantoran juga diikutsertakan tanpa tercekuali. Semuanya harus membuat sumur serapan di setiap rumah. Sinukaban sudah mencoba membuat sumur serapan sendiri di rumahnya. Sumur sedalam 8,5 meter dengan diameter 90 centimeter.

"Bila hujan, tidak ada air yang langsung masuk ke selokan, tapi diserap dulu dalam resapan itu. Kalau itu dilakukan di semua gedung dan rumah banjir, saya yakin bisa ditanggulangi," kata dia menegaskan.(mdk/tts)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.