LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Putar otak lawan kekerasan suporter sepakbola

Kekerasan bukan buat dibanggakan. Harus diperangi supaya tak kembali jatuh korban.

2016-11-03 07:04:00
suporter
Advertisement

Masa-masa kelam sepakbola Inggris itu bisa dibilang hampir lewat. Ingar-bingar adu otot antar-suporter mulai menukik. Namun bukan sama sekali tidak terjadi di dalam stadion, tetapi di luar. Berbeda jauh dari era 1960-an hingga 1980-an.

Di masa lalu, adu jotos dan tendangan jamak terjadi di hampir setiap laga sepakbola level manapun di Inggris. Benih kekerasan itu ternyata sudah tumbuh sejak abad ke-13. Di masa itu, sepakbola belum menjadi kompetisi. Masih bersifat rekreasi dan bahkan sebagai sebuah solusi konflik. Misalnya buat menyelesaikan sengketa. Tidak jarang malah berujung perkelahian antara dua kelompok. Namun banyak pihak sepakat hal itu tidak patut dilakukan, sebab bakal mencoreng olahraga itu.

Seperti dilansir dari situs www.footbalhooligans.org.uk, tabiat hooligan, sebutan buat sikap kekerasan seperti intimidasi hingga perkelahian para pendukung, semakin subur sejak sepakbola dibawa ke kompetisi. Inggris sebagai salah satu tertuduhnya dianggap menyebarkan 'wabah' itu. Para suporter dengan segala cara berusaha menekan lawan. Maka timbul budaya geng di antara para pendukung. Sebutannya macam-macam. Mereka menggunakan stadion sebagai lokasi pertemuan. Jika yel-yel makian mulai dilantunkan kedua pendukung, maka 'perang' segera meletup.

Tentu Inggris tidak bisa dituding sebagai pengekspor budaya kekerasan di sepakbola itu. Pangkal permasalahan itu juga terjadi di tempat lain, tanpa harus 'berguru' dari Inggris. Setelah keberadaan mereka ditekan sejak 1980-an, gelagat mereka berubah. Stadion tidak lagi menjadi medan pertempuran, tetapi mereka memilih bertarung di luar.

Contoh terbaru adalah pada ajang Euro 2016 lalu. Bentrokan pecah antara pendukung Inggris dan Rusia di Lille, Prancis. Pendukung tim negeri Beruang Merah juga memiliki para hooligan yang tumbuh dengan gaya mereka. Di Prancis, Jerman, Belanda, juga terjadi hal sama. Termasuk Indonesia.


Media massa juga bertanggung jawab

Fenomena hooligan merebak sedikit banyak lantaran peran media massa. Di masa lalu, hal itu menjadi santapan surat kabar atau televisi. Awalnya mereka hendak menyuguhkan hal itu buat memberi pengetahuan kepada masyarakat. Namun seiring waktu, justru terkadang berita itu sengaja dibuat sedemikian rupa buat mencari sensasi dan mendongkrak oplah. Seiring waktu, kebanggaan berlebihan terhadap kesebelasan juga menjurus kepada rasisme. Banyak pemain hingga sesama suporter mengalami itu.

Bahkan di Inggris sekitar 1970-an, kantor media massa sengaja menugaskan reporternya mendatangi sebuah pertandingan sepakbola buat menyorot perilaku para suporter.

Bahkan hal itu dikritik oleh Komite Kebebasan Sipil dan Urusan Dalam Parlemen Eropa.

"Media massa menyoroti perilaku kekerasan dan justru memprovokasi aksi lanjutan. Media massa memperlihatkan masalah sosial, seperti kekerasan seputar sepakbola, xenophobia, dan rasisme. Apa yang seharusnya menjijikkan semakin memburuk karena muncul seketika," seperti dilansir dari situs www.sirc.org.

Maka dari itu, karena media massa mempunyai dampak besar, semestinya tidak ikut menggelorakan aksi hooligan. Seharusnya yang dilakukan adalah selalu mempromosikan sportivitas, melawan agresivitas dan chauvinisme, serta menghindari pemberitaan berlebihan.


Memerangi kekerasan di sepakbola

Meski seolah tidak bisa dipisahkan, kekerasan di dunia sepakbola harus dilawan. Sudah beragam cara dicoba, dan mestinya Indonesia jangan ketinggalan. Sebab tingkat permasalahan itu juga mengkhawatirkan.

Di negara lain, peran polisi bukan cuma disiagakan saat laga. Di beberapa negara dengan kasus kekerasan antar-suporter cukup tinggi, penegak hukum sengaja disusupkan ke tubuh geng suporter. Cara lainnya adalah dengan memajukan waktu pertandingan. Hal itu supaya para suporter tidak sempat lagi minum-minum hingga mabuk sebelum bertandang ke stadion.

Kecanggihan teknologi juga patut digunakan. Kamera pengawas mesti dipasang di segala sudut stadion. Gunanya supaya mudah mendeteksi kekerasan dan pelakunya. Termasuk pemisahan area penonton.

Terpenting adalah pembinaan pendukung. Hal itu sudah dilakukan di Belgia sejak 1980-an. Para suporter diberi pencerahan supaya mereka bisa bersikap baik di dalam stadion saat menyaksikan laga kesebelasan jagoannya.(mdk/ary)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.