LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Mulanya kepincut klakson Italia

Mereka bangga menjadi pelopor ramainya tren telolet tanah air.

2016-12-30 06:33:00
Om telolet om
Advertisement

Fenomena 'Om Telolet Om' mewabah di Indonesia belakangan ini. Hal ini berawal dari ekspresi anak-anak saat mendengar suara klakson. Suara klakson diburu oleh para bocah berasal dari klakson bus antar kota antar propinsi (AKAP).

Hal itu pertama kali dipelopori oleh Perusahaan Otobus (PO) Efisiensi. Menurut Manajer Komersil PO Efisiensi, Syukron, klakson telolet pertama kali menarik perhatian sang pemilik perusahaan, Teuku Eri Rubiansah, saat mengunjungi sebuah pameran mobil di Jerman pada 2001 lalu. Teuku lantar jatuh hati dengan klakson bikinan Marco, sebuah perusahaan asal Italia. Saat itu, Eri menebus sebuah klakson seharga Rp 2 juta dan membawanya ke tanah air.

Usai diboyong, Eri justru tak memasang klakson itu di bus miliknya. Klakson itu dibiarkan tersimpan rapi di salah satu sudut kantornya.

Setahun kemudian, saat sedang menunaikan ibadah haji ke Arab Saudi, Eri mendengar ada suara klakson mirip dengan yang dibelinya di Jerman. Akhirnya, Eri memborong beberapa unit klakson dan membawanya pulang ke Indonesia.

"Di Arab Saudi banyak bus yang menggunakan klakson telolet," cerita Syukron.

Sepulang dari Arab Saudi, Eri kemudian langsung meminta supaya sejumlah klakson dibelinya segera dipasang di bus miliknya. Saat itu, PO Efisiensi baru melayani trayek reguler pulang pergi Yogyakarta-Cilacap. Namun, klakson juga dipasang di bus pariwisata milik mereka.


Sempat dimusuhi

Kenyataan selepas memasang klakson telolet ini tak berjalan mulus. Salah seorang supir PO Efisiensi, Krismon menyatakan, pemasangan klakson itu jusru menimbulkan permasalahan.

"Ya dulu awal-awal pemasangan bus Efisiensi sempat dilempari batu kalau melintas," ujar lelaki berusia 43 tahun ini, saat ditemui di pool PO Efisiensi, di Jalan Yogyakarta-Wates KM 6.

Bus mereka dilempari batu dikarenakan suara klakson telolet yang memekakkan telinga. Hal itu membuat pengendara maupun warga yang daerahnya dilintasi bus Efisiensi merasa terganggu. Kejadian buruk itu terjadi pada 2003 hingga 2005.

Lantaran dianggap membahayakan, perusahaan kemudian sempat melarang kepada sopir mereka membunyikan klakson telolet di beberapa daerah. Namun, para pengemudi tetap membunyikannya. Apalagi jika mereka sudah berada dekat agen bus maupun terminal.

"Ketika klakson dibunyikan dan suara telolet terdengar, para penumpang bus sudah langsung bersiap meskipun bus yang akan dinaiki belum kelihatan. Suara klakson telolet bisa terdengar dari satu hingga dua kilometer jauhnya," kata lelaki sejak 2003 menjadi supir bus PO Efisiensi.

Suara telolet, lanjut Krismon, menjadi ciri khas PO Efisiensi. Hal itu menjadi penanda buat penumpang kalau bus mereka sebentar lagi tiba. Krismon mengaku bangga dengan suara klakson telolet. Apalagi perusahaannya bisa dibilang sebagai pelopor.

Syukron menyatakan, harga klakson mereka pakai berkisar Rp 5 juta.

"Kalau sekarang banyak yang suaranya mirip karena sudah banyak yang bisa bikin dan meniru. Tapi yang digunakan oleh PO Efisiensi merupakan asli bikinan luar negeri. Saat ini ke-60 bus milik PO Efisiensi menggunakan klakson dengan suara dan kualitas yang sama," ujar Syukron.

Letak pemasangan klakson tiga corong itu juga berubah beberapa kali. Menurut Syukron, mulanya perangkat itu ditempatkan pemasangan di bagian bawah bus. Akan tetapi karena suaranya bocor ke dalam kabin hingga membikin penumpang kaget, akhirnya posisinya dipindah. Saat ini, hampir semua klakson dipasang di bagian atas bus.

Merebaknya fenomena 'Om Telolet Om' membuat banyak bus selain PO Efisiensi memasangnya. Bagi Krismon, ramainya anak-anak meminta suara klakson telolet menjadi hiburan tersendiri. Ketika dulu suara telolet berbalas lemparan batu, belakangan ini justru diburu.

"Setiap ada yang bawa tulisan Om Telolet Om, atau di pinggir jalan membawa handphone dan merekam bus, pasti saya bunyikan. Semacam bentuk pengakuan saja. Dulunya dilarang, tapi sekarang malah dicari," ucap Krismon.

Advertisement
(mdk/ary)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.