LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Nyawa Miss Tjitjih di tangan Jakarta

"Ya memang kami akan pertahankan bahasa Sunda sebagai ciri khas kami di Miss Tjitjih," ujar Sarifah Rohmah.

2016-05-23 07:34:00
Kesenian
Advertisement

Dunia ini panggung sandiwara
Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura

Mungkin lagu 'Panggung Sandiwara' karya musisi senior Achmad Albar menjadi penggambaran bagaimana Seni Sandiwara Miss Tjitjih masih bertahan hingga kini. Namun menjadi salah satu opera sempat eksis di zaman Belanda hingga kini memang bukan perkara mudah. Banyak faktor di tengah usaha Miss Tjitjih menjaga konsistensi budaya. Salah satunya adalah kendala bahasa.

Kendala lain adalah sulitnya bersaing dengan kesenian lebih modern ketimbang tradisional. "Ya memang kami akan pertahankan bahasa Sunda sebagai ciri khas kami di Miss Tjitjih," ujar Sarifah Rohmah, cucu mendiang Miss Tjitjih saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.

Untuk menyiasati agar pertunjukan ditonton pengunjung, menurut Sarifah, tim dan kelompok Sandiwara sedikit menyisipkan bahasa Indonesia dalam setiap pementasannya. Tujuannya tak lain adlaah menyedot penonton. Maklum, hampir semua anggota seni sandiwara Miss Tjijih memang berasal dar daerah Jawa Barat.

"Di kehidupan sehari-hari kami tinggal di asrama antar sesama seniman di sini menggunakan bahasa Sunda," kata Sarifah.

Beruntung sejak di bawah lindungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 1987, keberadaan Miss Tjitjih masih bertahan hingga kini. Untuk menyiasati dana diberikan Pemprov DKI, tim anggota Miss Tjitjih mengadakan pementasan saban dua minggu sekali.

Sejak berada di bawah Yayasan dibentuk oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih mendapatkan dana hibah kebudayaan dari Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD). Dana tersebut diajukan setiap setahun sekali. Namun kurangnya anggaran membuat para seniman beranggotakan sekitar 80 orang ini harus menyiasati dengan berbagai cara. Salah satunya adalah pengurangan pementasan.

"Kalau pas awal- awal zaman dulu mah hampir setiap malam. Terus jadi sekali seminggu sekarang malah dua minggu sekali," kata Imas Darsih, sutradara tunggal Kelompok Seni Sandiwara Miss Tjijih.

Durasi pementasan pun dikurangi. Jika dulu ketika mereka masih berada di Angke, Miss Tjitjih kerap manggung hingga tengah malam. Namun kini mereka membatasi durasi pementasan. "Dulu bisa sampai jam 12 malam dari jam 8 pagi. Sekarang mah dibatasi sampai jam 10 malam saja," pungkas Imas.

Meski keberadaan Miss Tjitjih tertatih-tatih, namun para anggota masih bersyukur karena kesenian warisan ini masih bisa eksis hingga kini. "Untuk pemain Rp 400 ribu itu per pentas, dari Pemprov. Ya, cukuplah buat dapur ngebul," kata Imas bersyukur.(mdk/arb)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.