Mengincar pemilih bingung lewat media sosial
Masa kampanye Pemilihan Gubernur DKI Jakarta akan berlangsung pada 28 Oktober 2016 hingga 11 Februari 2017 mendatang. Tiga pasangan cagub-cawagub sudah menyerahkan struktur tim pemenangan ke KPU DKI.
Masa kampanye Pemilihan Gubernur DKI Jakarta akan berlangsung pada 28 Oktober 2016 hingga 11 Februari 2017 mendatang. Tiga pasangan cagub-cawagub sudah menyerahkan struktur tim pemenangan ke KPU DKI. Berbagai persiapan sudah dilakukan oleh masing-masing tim. Tak hanya di dunia nyata, tapi di dunia maya melalui media sosial. Tingginya swing voters (pemilih mengambang) dan undecided voters (pemilih yang belum menentukan pilihan) menjadi target mereka.
Meski tidak berada di dalam struktur resmi yang terdaftar di KPU, tim sukses yang berkampanye di media sosial ini disiapkan secara serius. Mulai dari pelatihan, cara kerja, hingga menyiapkan data untuk menangkis serangan-serangan haters (pembenci).
Di Facebook, Twitter, dan Instagram, tiga media sosial yang selalu riuh saat ada pilkada atau pilpres, akun resmi maupun fanspage masing-masing calon mulai meramaikan linimasa atau timeline dengan berbagai informasi positif tentang keunggulan mereka.
Bakal cagub petahana Basuki Tjahaja Purnama punya fanspage di Facebook yang disukai (like) oleh 1,2 juta lebih akun. Dikelola oleh admin, fanspage 'Basuki Tjahaja Purnama' dengan tanda centang (terverifikasi) itu cukup aktif membagikan berbagai hal mengenai kegiatan Ahok selama menjadi gubernur. Begitu juga akun Twitter @basuki_btp yang diikuti oleh 5,7 juta lebih followers. Di Instagram, Ahok juga memiliki akun yang terverifikasi di @basukibtp dengan 1,1 juta pengikut. Dalam postingan terbaru ketiga akun tersebut, terdapat visi dan misi serta program kerja pasangan Ahok dan Djarot 2017-2022. Postingan itu banyak mendapat komentar dan dibagikan lagi oleh para pengikut akun tersebut.
Pasangan Ahok, Djarot Saiful Hidayat, dari penelusuran merdeka.com, juga memiliki akun di Facebook. Tidak ada tanda terverifikasi seperti milik Ahok karena akun itu merupakan akun pribadi bukan fanspage seperti milik Ahok. Isinya, seputar aktivitas Djarot sebagai wakil gubernur DKI.
Sementara pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, juga memiliki akun resmi di Facebook dan Twitter. Anies memiliki fanspage resmi yang disukai 600 ribu lebih akun. Sedangkan di Twitter, akun @aniesbaswedan diikuti oleh 1,1 juta lebih followers. Namun akun itu tampaknya kurang aktif karena postingan terakhir bertanggal 27 Agustus 2015.
Wakil Anies, Sandiaga Uno, sudah lama dikenal aktif di Twitter melalui akun @sandiuno dengan 387 ribu followers. Sebelum ikut Pilgub DKI, Sandiaga rajin berkicau soal motivasi terutama soal bisnis dan hobinya. Dia rajin menjawab pertanyaan atau mention dari followersnya. Sedangkan di Facebook, Sandiaga punya akun terverifikasi dengan pengikut 300 ribu lebih.
Terakhir, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni juga mulai melirik media sosial untuk berkampanye. Namun, penelusuran di Facebook, ada banyak akun yang bernama 'Agus Harimurti Yudhoyono' tidak memiliki tanda ferivikasi. Demikian juga fanspage di Facebook. Belum ada akun resmi pasangan ini. Di Instagram, Agus memiliki akun resmi yang terferivikasi dengan 1,5 juta followers. Isinya foto-foto Agus saat menjalankan tugas sebagai anggota TNI dan foto keluarga.
Pekan lalu, relawan pasangan ini meluncurkan #karibAGUS yang akan menyosialisasikan kegiatan Agus-Sylvi. Ketua Umum #karibAGUS, Humbul Kristiawan menjelaskan, relawan ini diisi oleh kalangan profesional dari pelbagai bidang. Mulai dari bidang ekonomi, tata kota, UMKM sampai terdiri dari unsur dokter. Sebagian besar mereka adalah teman SMA Agus di SMA Taruna Nusantara, Magelang.
Terkait 'pemilih bingung' baik swing voters maupun undecided voters ini, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebut ada 28,2 persen dari responden survei yang belum memutuskan akan memilih siapa dalam Pilgub DKI yang akan berlangsung 15 Februari 2017. Survei dilakukan kepada 440 responden pada 22 September hingga 2 Oktober 2016 dengan wawancara tatap muka. Responden dipilih dengan metode multistage random sampling.
"Pilkada berpotensi dua putaran. Ahok-Djarot ada di posisi pertama dengan perolehan 31,4 persen," kata Tim Peneliti LSI, Adjie Alfaraby di Kantor LSI, Jakarta, Selasa (4/10).
Kemudian, pada posisi kedua diisi oleh pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan perolehan suara 21,1 persen. Sedangkan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni berada di posisi ketiga dengan perolehan suara 19,3 persen.
Sementara Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, dalam rilis hasil survei pada akhir September lalu mengungkapkan, berdasarkan survei pada Agustus 2016, persentase pemilih mengambang Pilkada DKI sebanyak 30 persen. Selain itu, ada 10-15 persen pemilih lain yang belum memberikan keputusan (undecided voters).
Data yang serupa disampaikan Direktur Riset Populi Center Usep Achyar. Para swing voters ini menunggu program dan janji yang akan disampaikan para cagub.
"Terakhir survei kami, angka untuk swing voters masih tinggi, sekitar 15-25 persen. Maka ketiga pasangan calon, harus memanfaatkan tingginya swing voters tersebut," ujarnya di Jakarta, Rabu (28/9).
Usep menjelaskan, pemilih mengambang di Pilkada DKI Jakarta tidak terpengaruh pada parpol yang mengusung calon. Namun yang akan memengaruhi keputusan swing voters adalah visi dan misi, gagasan, serta program yang ditawarkan oleh pasangan calon.
Baca juga:
Agus bakal berusaha yakinkan warga DKI sebagai harapan baru ibu kota
Relawan klaim deklarasi Dulure Djarot dihadiri kader PPP, PKB & PAN
'Dulure Djarot' relawan pendukung Ahok-Djarot di Pilgub DKI
Ruhut: Kalau perlu mundur ya mundur, tapi aku mau tetap di Demokrat
Politisi PDIP: Tidak ada salahnya ajak Ruhut masuk tim Ahok-Djarot