Menggantung harapan dari massa mengambang
Menggantung harapan dari massa mengambang. Kandidat presiden AS masing-masing mempunyai negara bagian andalan yang menjadi lumbung perolehan suara. Namun seringkali dalam tiap pemilu pemilih mengambang yang belum menetapkan pilihannya menjadi faktor penentu kemenangan.
Periode kepemimpinan Barack Obama di Amerika Serikat hampir berakhir. Dua calon presiden kini tengah bertempur memenangkan kursi orang nomor satu di Negara Adi Daya itu.
Donald Trump dari Partai Republik didampingi oleh Mike Pence, sedangkan Hillary Clinton dari Partai Demokrat didampingi Tim Kaine.
Menurut survei yang diadakan oleh stasiun televisi ABC News dan koran the Washington Post, Trump, 70 tahun, dan Clinton, 68 tahun, adalah dua kandidat presiden Amerika Serikat paling tidak diminati selama 30 tahun terakhir.
Dalam jajak pendapat yang dirilis Agustus lalu, orang dewasa yang tidak menyukai Hillary angkanya naik enam persen. Hal itu lantaran isu surel pribadi dan hubungannya dengan yayasan amal milik keluarga ketika dia menjabat menteri luar negeri.
Dikutip dari koran USA Today, Rabu (31/8), di antara orang dewasa di AS, peringkat ketidaksukaan warga terhadap Clinton mencapai 56 persen, sedangkan Trump 63 persen.
Dan bagi pemilih terdaftar, keduanya punya nasib beda tipis. Warga yang tidak suka Hillary mencapai 59 persen dan Trump 60 persen.
Donald Trump dan Hillary Clinton di Facebook © The Next Web
Menilik kekuatan calon presiden secara garis besar, keduanya yang paling banyak memenangkan kaukus dan primary di berbagai negara bagian di AS. Lantas, siapa yang berpeluang lebih besar menggantikan Obama?
Setelah delapan bulan proses jajak pendapat, dua kaukus dan dua pemilihan pendahuluan (primary), Trump dan Hillary berhasil menyingkirkan lawan-lawannya untuk maju sebagai capres dari partai masing-masing.
Dua kandidat kini berlomba meraih minimal 270 suara pemilu (electoral votes) untuk mengunci kemenangan menjadi presiden AS. Angka 270 adalah separuh plus satu dari 538 electoral votes yang tersedia di AS. Angka 538 adalah jumlah total keterwakilan tiap negara bagian di Senat dan Kongres AS berdasarkan jumlah populasi di tiap negara bagian.
Setiap negara bagian memiliki jatah electoral votes yang berbeda. Jatah ini ditentukan oleh banyaknya alokasi kursi Senat dan DPR yang dimiliki tiap-tiap negara bagian. Alokasi kursi Senat dan DPR sendiri bisa berubah berdasarkan populasi penduduk yang ditetapkan oleh sensus sepuluh tahunan.
Saat ini terdapat 538 electoral votes. Jumlah itu ditetapkan berdasarkan 435 kursi DPR (House of Representatives), 100 kursi Senat, ditambah tiga jatah electoral votes untuk ibu kota Washington DC—meskipun kota pemerintah federal ini tidak memiliki wakil di Senat.
Oleh karena itu, dalam setiap pemilu, para politisi selalu membidik negara bagian yang memiliki jumlah electoral votes terbanyak, seperti California (55), Texas (34), Florida (27), dan Illinois (21). Jika perolehan electoral votes sudah mencapai 270 meski didapat tidak dari seluruh 50 negara bagian, maka kandidat itu sudah dinyatakan menang.
Gaya Katy Perry kampanye untuk Hillary Clinton ©2016 REUTERS/Lucas Jackson
Bagi kandidat dari Partai Republik, Texas adalah negara bagian yang selama ini menjadi lumbung suara terbanyak. Sedangkan bagi Demokrat, negara bagian yang menyumbang suara terbanyak adalah California. Negara bagian lain bisa disebut sebagai 'swing states' atau yang bisa berubah mendukung Demokrat atau Republik.
Berdasarkan polling dari Gallup, ada sebelas negara bagian yang menjadi andalan kubu Demokrat untuk meraih suara, yaitu New Jersey, Connecticut, Illinois, Delaware, Hawaii, California, Vermont, New York, Rhode Island, Maryland, dan Massachussetts.
Sedangkan bagi Republik, sedikitnya ada 10 negara bagian yang selama ini menjadi andalan perolehan suara, yakni Nebraska, North Dakota, Tennessee, Kansas, Alabama, Montana South Dakota, Idaho, Utah, dan Wyoming.
Di luar negara bagian andalan masing-masing, kedua kandidat kini menggantungkan harapan kepada massa mengambang yang belum menentukan dukungannya.