LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Mengajarkan agama lewat isyarat

Bahasa yang mudah diterima kalangan tunarungu

2017-02-14 06:34:24
Penyandang Disabilitas
Advertisement

Agama, bagi pemeluknya, diyakini sebagai pedoman menjalankan kehidupan duniawi. Untuk itu, ajarannya harus menyentuh seluruh lapisan manusia. Tak terkecuali, individu yang memiliki keterbatasan fisik.

Belakangan, sejumlah pendakwah di Tanah Air terlihat aktif menyiarkan agama, terutama Islam, di kalangan tunarungu. Salah satu pendakwah itu adalah Farid. Pria 40 tahun itu lebih ingin disebut sebagai penerjemah untuk kaum tuli.

Menurutnya, ajaran Islam lebih mudah diterima kalangan tunanetra ketimbang tunarungu. Ini lantaran kaum tunanetra masih bisa mengoptimalkan indera pendengaran guna mendapatkan pengajaran agama. Di sisi lain, alat bantu untuk memahami ajaran agama juga sudah tersedia. Maka, banyak tunanetra hafal alquran dan menjadi pendakwah.

Advertisement

Sedangkan, tunarungu hanya bisa mengandalkan bahasa isyarat semata. Sayangnya, gerakan tangan untuk menjelaskan ajaran Islam belum berkembang di Indonesia.

Kesadaran akan pentingnya dakwah kepada kaum tunarungu di Indonesia, muncul sekitar sepuluh tahun lalu. Itu diawali dengan kedatangan empat pendakwah Malaysia, tiga di antaranya tunarungu, ke Tanah Air.

Selama sebulan, mereka menggelar pengajian di Masjid Raya Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Mereka juga menggunakan tenaga ahli bahasa isyarat untuk menerjemahkan setiap ceramah. Alhasil, pengajian itu banyak menarik kaum tunarungu. Di antaranya, Aprizar Zakaria yang kala itu merupakan ketua umum gerakan kesejahteraan untuk tunarungu Indonesia (Gerkatin).

Advertisement

"Saya ketemu Pak Aprizar, ketua asosiasi tunarungu yang diakui pemerintah," katanya saat ditemui di Rumah Belajar Miranda, Cipete, Jakarta Selatan, Sabtu (11/2). Di tempat itu, sejak tiga bulan lalu, rutin digelar pengajian dwimingguan untuk tunarungu.

"Dia cerita, kalau di Indonesia itu ada 1 juta lebih tunarungu, sebagian besar muslim yang tidak mengerti salat."

Dua tahun berselang, giliran sejumlah pendakwah Pakistan mengunjungi Indonesia. Serupa Malaysia, dakwah kepada kaum tunarungu di Pakistan juga sudah berkembang.

Sejak 1980, negara Islam ketiga terbesar dunia itu sudah memiliki bahasa isyarat Islami. Bahasa yang kemudian memudahkan jemaah tunarungu Indonesia mencerna setiap ajaran agama disampaikan pendakwah Pakistan.

"Kami bergerak ke seluruh Jakarta-Bogor," katanya. "Dari keliling itu banyak dari mereka tidak mengerti. Kami tanya 'Allah berapa?' Mereka jawab ada tiga, empat, lima tujuh."

Ada juga sebagian dari kaum tunarungu, lanjut Farid, melaksanakan salat. Tapi tak tahu siapa yang disembah.

"Kemudian, mereka kaum tunarungu kami undang ke Masjid Kebon Jeruk. Kami beritahu Allah itu satu. dan mereka kaget. Mereka juga baru tahu Allah tidak makan. Mereka juga kaget, kalau Allah itu tidak tidur."

Sejak itu, dakwah kepada kaum tunarungu kian digencarkan. Hingga, kemudian, terbentuklah Majelis Taklim Tuli Indonesia (MTTI) pada September 2016.

"Mereka maunya di bilang tuli, kalau tunarungu itu seperti ada yang rusak," katanya. "Di luar negeri tidak disebut tunarungu, tapi tuli. Cuma pemerintah bilang tuli itu kasar."

Majelis itu didirikan, salah satunya, oleh Aprizar setahun setelah menuntaskan tugas sebagai ketua umum Gerkatin. Pria paruh baya itu bercerita lewat gerakan tangan disertai suara tak begitu jelas kami tangkap. Farid pun menjadi perantara komunikasi.

Aprizar mengaku mulai bersemangat belajar Islam sejak menghadiri pengajian digelar pendakwah Malaysia pada 2007.

"Sebelum itu, saya nggak paham pesan-pesan yang disampaikan ustaz. Ada orang Malayasia datang dan saya tertarik dan paham," kata insinyur teknik tersebut dalam kesempatan sama.

"Pada 2009, ada lagi dari Pakistan dan saya semangat lagi. Pada 2010 dan 2011 saya belajar lagi."

Melalui majelis itu Amrizal menginisiasi pengajian dua kali sebulan. Setiap Sabtu pekan pertama dan ketiga. Dan, bertempat di salah satu hunian memang disediakan pemiliknya, pengusaha properti Maya Miranda Ambarsari, sebagai rumah belajar bagi orang tak mampu.

"Kami sudah punya taklim, sehingga bisa mengajak teman-teman tunarungu muslim yang sebelumnya suka datang ke Gereja karena di sana ada penerjemah," katanya. "Kami mengundang ustaz normal dan nanti dibantu oleh teman-teman penerjemah."

Seiring itu, MTTI ingin bekerjasama dengan Kementerian Agama guna menyusun bahasa isyarat islami. Untuk itu, Aprizar berencana melakukan studi banding ke Malaysia dan Pakistan.

Rahayu, Staf Direktorat Penerangan Islam Kementerian Agama, mengakui pernah ada pembahasan mengenai penyusunan kamus bahasa isyarat Islami.

"Tapi belum ada perencanaan di Ditjen Bimas Islam," katanya saat dihubungi. "Penyusunannya harus melibatkan Badan Litbang."

Baca juga:
Meski tunarungu tapi haus ilmu
Jangan paksa tunarungu membaca gerak bibir
Keren, pengidap down syndrome pamer karya di New York Fashion Week
Saat penyandang disabilitas bandingkan pengalaman hidup di AS dan RI
Minta tempat duduk di kereta, penyandang disabilitas malah dimarahi
Semangat wanita disabilitas asal Solo membatik pakai kaki

(mdk/yud)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.