Meminum anggur di hari istimewa
Imam masjid mengakui dan menerima keberadaan komunitas Yahudi dipimpin Rabbi Yobbi Ensel.
Dalam penanggalan Yahudi, permulaan hari dimulai sejak terbenamnya matahari. Pada Jumat petang pekan lalu, saat merdeka.com bertamu ke rumah Rabbi Yobbi Ensel di Jalan 14 Februari, Teling Atas, Kota Manado, Sulawesi Utara. Hari sudah berganti Sabbath (Sabtu dalam bahasa Ibrani). Sabbath merupakan ketujuh dalam kalender Yahudi.
“Bagi penganut Yahudi, Sabbath berarti berhenti dari kegiatan duniawi atau hari untuk beribadah,” kata Yobbi. Ketika surya tenggelam, digelar upacara Erev Shabbat atau persiapan Sabbath.
Petang itu, sekitar pukul 17.42, Yobbi, Yulita, dan dua anak mereka menyambut kedatangan merdeka.com. Rumah Yobbi tidak begitu besar, meliputi ruang tamu, dua kamar tidur, dan dapur di bagian belakang. Pot-pot berisi tanaman bunga menghiasai teras bangunan bercat krem ini.
Ruang tamunya berukuran sekitar 9 x 3,5 meter. Di samping kanan kusen pintu masuk terdapat semacam jimat. Terbuat dari campuran logam dan plastik dengan banyak ukiran dan tulisan Ibrani. Benda ini disebut mezuzah dan harus dipasang di pintu masuk rumah penganut Yahudi. Saban keluar masuk rumah mesti memegang mezuzah. Kemudian tangan bekas menyentuh mezuzah harus dicium.
Dalam ruang tamu terpaku Bintang Daud terbuat dari kayu berukuran 20 x 20 sentimeter. Gulungan kitab Torah tersimpan dalam lemari kaca setinggi dua meter. Terus ada rak buku berukuran 1 x 2 meter, tempat menyimpan kitab mazmur dan kitab doa lainnya. Jumlahnya puluhan jilid. Di sebelah rak buku ada menorah bertatak sembilan dari besi dengan tinggi hampir dua meter.
Salah satu pojok ruang tamu tempat menyimpan perlengkapan ibadah. “Erev Sabbath artinya persiapan Sabbath karena di situ tidak ada pembukaan dan penutup,” ujar Yobbi sambil meminta jemaatnya segera memilih tempat duduk.
Yobbi duduk tepat di bawah Bintang Daud. Di atas meja setinggi 70 sentimeter telah terpasang dua lilin menyala dalam tempat khusus dari logam. Enam gelas anggur dari kaca dan perak juga sudah sedia. Di sebelahnya, ada sebotol anggur. Tersedia pula baskom dan gayung dari logam. Mangkuk besar berisi nasi putih, roti tanpa ragi berbentuk segi empat, pepes tuna, serta tumpukan piring dilengkapi sendok dan garpu.
Malam itu ada sembilan orang akan mengikuti Erev Sabbath yakni, Yobbi selaku rabbi, Yulita (istri), Yisrael Ensel (anak), 10 tahun, Yemima Ensel (anak), 6 tahun, Irene Andasia Bala (ibu kandung Yobbi), 50 tahun, Sela Ensel (keponakan), 16 tahun, Chelsea Ensel (keponakan), 15 tahun, Yesaya Lumanau Eettlie, 50 tahun, dan Efraim Lumanau Eettlie, 10 tahun.
Ukuran meja itu hanya cukup untuk enam kursi. Alhasil, Irene, Sela, dan Chelsea duduk di sofa. Yobbi mengenakan pakaian kebesarannya, jubah hitam dan kippah. Sejak awal hingga acara doa itu selesai, pintu rumah dibiarkan terbuka lebar.
Menurut Yesaya, acara malam itu seperti pemberkatan. Upacara itu lebih banyak dilakukan dalam posisi duduk dengan kepala tertunduk tangan tangan menengadah ke atas. Sesekali mereka berdiri sambil menyanyikan lagu pujian dalam bahasa Ibrani. “Kadang lagu pujiannya saya ubah nadanya dengan gaya blues atau country agar tidak membosankan,” ujar Yobbi memiankan gitar buat mengiringi.
Sebelum makan malam, Yobbi berkeliling menyentuh kepala tiap jemaat sambil merapalkan doa. “Sabbath shalom,” ujar tiap orang setelah kepalanya dipegang. Yobbi lalu berkeliling membawakan baskom berisi air dan gayung buat jemaat mencuci tangan.
Setelah selesai, dia mengambil shofar (terompet dari tanduk domba jantan). Panjangnya sekitar setengah meter dengan bentuk bergelombang. Dia meniupkan shofar itu menghadap ke langit-langit rumah tiga tarikan napas. Kemudian shofar ditiupkan tiga kali ke arah pintu masuk. “Itu tanda perayaan Sabbath sudah dimulai dan banyak makna lainnya,” tutur Yobbi.
Kemudian roti dibagikan dan anggur dituangkan ke gelas masing-masing jemaatsetinggi satu ruas jari orang dewasa. Seluruh jemaat lantas meminum anggur masing-masing. Menurut Yobbi, dalam tradisi Yahudi, anggur adalah minuman para raja dan Sabbath merupakan hari istimewa. “Untuk hari istimewa, agar seperti para raja, maka anggur minuman tepat,” kata Yobbi sambil tertawa pelan.
Acara berlangsung sekitar dua jam. Pukul 19.45 semua prosesi doa dan pemberkatan selesai. Acara diakhiri makan malam dengan nasi, ikan pepes, dan sup kuah. Tidak banyak obrolan saat makan malam itu berlangsung. Namun suasana santai menyertai, tiap orang bebas memilih tempat duduk.
Sekitar jam 20.10 terdengar suara pintu diketuk. Yobbi mempersilakan masuk tamunya ini. “Saya Udin Tapi Satu, takmir dan imam Masjid Al-Falah Teling Atas,” katanya menjulurkan tangan untuk bersalaman.
Malam itu Udin banyak bercerita tentang kerukunan umat beragama di Teling Atas. Menurut dia, semua warga di situ sudah mengetahui keyakinan dianut Yobbi dan keluarganya. Sepertiga jam kemudian, Udin pamit setelah menghabiskan kopi dan menikmati sup ayam.
Tak lama berselang, Yesaya dan putranya Efraim menyusul. Rumahnya tidak jauh dari kediaman Yobbi sehingga bisa ditempuh berjalan kaki. Sebelum pamit, Yesaya mezuzah terpsang dekat pintu.
Menurut Yobbi, acara malam itu hanya persiapan Sabbath, juga dilakukan penganut Yahudi di rumah masing-masing. Sedangkan ritualnya dilangsungkan Sabtu pagi.(mdk/fas)