Memilih bertahan meski tergilas zaman
Kini pendapatannya terus menurun. Sehari dia bisa membawa uang Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu.
Memilih untuk tidak menggunakan kernet terpaksa dilakukan Mansur, sopir Metromini 75. Walhasil, pendapatannya sebagai sopir Metromini terus menurun sejak tiga tahun belakangan ini. Sekitar enam tahun lalu, Mansur masih bisa membawa pulang uang sebesar Rp 250 ribu. Jika sedang sepi, seperti hari libur Sabtu dan Minggu, dia membawa sekitar Rp 150 ribu.
"Sekarang penumpang jarang penuh, apalagi hari libur," kata Mansur kepada merdeka.com di ujung pintu keluar Terminal Pasar Minggu kemarin. Namun kini pendapatannya terus menurun. Sehari dia bisa membawa uang Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. "Itu pun tanpa kernet," katanya.
Mansur memilih tidak menggunakan kernet memang beralasan. Bukan hanya dia sopir Metromini yang tidak menggunakan kernet, melainkan banyak temannya sesama sopir juga melakukan hal serupa. Alasannya, penumpang Metromini kian hari terus berkurang. "Kalau pembagiannya tergantung saya. Biasanya, kalau dapat Rp 200 ribu, kernetnya saya kasih Rp 50 ribu," kata Mansur. "Itu sudah termasuk makan sama rokok," ujarnya.
Namun saat ini Mansur memilih tidak menggunakan kernet jika siang hari lantaran sewa penumpang sepi. "Kalau pagi saya pakai kernet tembakan, dua puteran saya bayar Rp 40 ribu," tuturnya.
Rabu kemarin memang banyak Metromini 75 yang beroperasi tanpa kernet. Bahkan untuk menggaet penumpang, sopir menggunakan jasa timer yang berada di ujung pintu keluar terminal Pasar Minggu. Jika penumpangnya lumayan banyak, Metromini di belakangnya bergantian mencari penumpang. Jika bangku Metromini terisi, timer diberi Rp 3000 sampai Rp 5000. "Tergantung sopir ngasihnya, kadang cuma Rp 1500," kata Black salah seorang dari 3 timer.
Jika Metromini 75 masih bertahan, angkutan sejenis Metromini, yaitu Miniarta jurusan Depok-Pasar Minggu kini sudah tidak terlihat sama sekali. Bahkan dari Terminal Depok, tak satu pun sarana transportasi itu terlihat. "Sudah tidak ada sekarang," kata Heru, pedagang minuman di dalam Terminal Depok kemarin.
Hilangnya Miniarta jurusan Depok-Pasar Minggu dikatakan Heru diyakini lantaran kalah bersaing dengan angkutan perkotaan. Apalagi untuk jurusan Pasar Minggu-Depok, Miniarta harus bersaing dengan Mikrolet M 04 yang sama-sama satu tujuan. "Beda dengan dulu, kalau dulu penumpangnya banyak," ujar Heru.
Jika Pemerintah Provinsi DKI Jakarta andil dengan merevitalisasi Metromini dengan meluncurkan Metromini AC, namun dampak itu tak dirasakan bagi para sopir. Justru Metromini kian hari tak diminati penumpang lantaran jalan yang digunakan Metromini kerap dilanda kemacetan. Seperti contoh, Metromini 62, jurusan Pasar Minggu-Manggarai. Untuk menempuh jarak dari Pasar Minggu menuju Terminal Manggarai, butuh waktu hampir satu jam.
Namun para sopir Metromini 62 tetap mempertahankan para kernet untuk membantu mencari penumpang. "Kalau tanpa kernet, makin ribet kalau ngembaliin uang penumpang," kata Daniel Simangunsong. Daniel tetap mempertahankan kernetnya meski penumpang Metromini jurusan Manggarai juga mulai sulit mendapati penumpang. "Kalau pakai kernet, penumpang bisa terpantau," katanya.
Untuk menyiasati setoran, Daniel pun tetap beroperasi saat jam-jam pulang sekolah. Padahal, di Jalan Raya Pasar Minggu, Metromini 62 harus bersaing dengan Mikrolet 16 jurusan Kampung Melayu-Pasar Minggu dan Metromini 640 jurusan Pasar Minggu-Tanah Abang. "Kalau siang kita ngejar anak-anak pulang sekolah," ujarnya.
Nasib para sopir dan kernet Metro Mini memang seolah di ujung tanduk. Mereka menjual jasa di tengah padatnya lalu lintas dan seolah tergerus transportasi seperti TransJakarta dan Bus APTB.
(mdk/mtf)