Masyarakat belum percaya lembaga zakat
Karena pengelolaan belum rapi dan terarah, zakat belum mampu memberantas kemiskinan.
Dua tahun lalu Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memperkirakan potensi zakat nasional mencapai Rp 100 triliun. Hingga kini pengelolaan dananya belum maksimal, termasuk untuk memberantas kemiskinan.
Berikut penuturan Imam besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub saat ditemui Islahuddin dari merdeka.com di rumahnya, belakang Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Kamis (16/8) siang.
Bagaimana potensi zakat dalam menuntaskan kemiskinan?
Itu masih diributkan. Ini artinya pengelolaan zakat itu belum baik. Saat ini masih banyak orang memberi zakat langsung secara pribadi. Itu menimbulkan masalah, banyak orang mati terinjak-injak untuk memperebutkan itu.
Ini sebabnya macam-macam. Faktor pertama, mungkin tidak percaya pada lembaga amil zakat dan sebagainya. Apalagi lembaga itu dibuat oleh pemerintah, langsung tuduhannya korupsi. Kedua, ada egoisme. Ingin disebut wah kalau bagi-bagi uang, padahal itu kewajiban. Mestinya kewajiban itu tidak usah seperti itu.
Kemarin saya bicara di TV One sama Pak Didin Hafidhuddin (Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional). Saya bilang agar orang membayar zakat pada lembaga diyakininya saja. Eh, malah Pak Didin meminta saya diskusi satu meja. Kita memberi saran, malah ia mengajak diskusi, itu aneh.
Tiap tahun pembicaraan potensi zakat tidak pernah berhenti tampaknya tidak ada perubahan berati dari semua itu?
Pertama zakat itu tidak ada kaitannya dengan Ramadan, kecuali zakat Fitrah. Kedua, zakat itu pengelolaannya masih konsumtif, bukan pengelolaan produktif. Memang ada yang tadinya mustahiq berubah menjadi muzakki, tapi jumlahnya belum signifikan karena itu belum dikelola rapi dan terarah. Jadi 117 juta orang miskin itu tidak pernah berkurang jadinya, mustahiq terus.
Lembaga zakat mana yang baik dalam pengelolaanya?
Saya belum membandingkan karena saya tidak terlibat langsung dalam hal itu. Belum tahu negara mana yang bagus. Di negara lain juga masih ada perusahaan memberikan langsung kepada orang miskin, langsung dengan antrean panjang. Tapi saya tidak tahu sampai terjadi injak menginjak seperti kita tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena kita jumlah mustahiqnya terlalu banyak.
Tahun 2008 saat saya di Amerika, terjadi kematian pembagian zakat di Pasuruan, Jawa Timur. Saya langsung kontak salah satu ulama di sana, apa itu disengaja untuk memicu seperti itu. Tapi, kata kawan-kawan di sana itu murni kecelakaan. Sedih saya mendengar itu (dengan mata berkaca-kaca). Padahal potensi ada.
Baznas itu bisa menerima 1,7 triliun tahun lalu, kata Pak Didin. Kalau sekarang saya tidak tahu secara persis, itu dikemanakan. Tapi kelihatannya kemiskinan di Indonesia itu tidak berkurang. Tetap masih banyak orang miskin. Belum berperan secara optimal.
Kenapa ulama masih saja banyak diam dengan pola pengelolaan zakat saat ini?
Informasi saya dengar, ada sebuah lembaga amil zakat, gaji ketuanya mencapai Rp 35 juta. Padahal dana zakat itu mengalir terus tiap bulan. Itu menjadi pertanyaan. Satu, itu bukti kuat tidak terbantah, badan-badan amil zakat sering memasang iklan di televisi dan itu tidak murah. Belum lagi di koran-koran.
Bukannya itu untuk menarik agar orang berzakat?
Kalau itu benar tujuannya, tidak masalah. Tapi kalau benar informasi kepala amil zakat, gajinya hingga Rp 35 juta, melebihi gaji dirjen di kementerian yang gajinya sampai enam juta. Mungkin saja orang kurang percaya dengan lembaga amil zakat.
Apa anda ragu mendengar hal itu?
Kita tidak perlu pesimistis. Kita kerjakan saja seperti apa dicontohkan nabi. Itu saja prinsip saya. Rasulullah itu tidak hanya ibadah di masjid saja, juga bagaiamana mengelola anak yatim, janda-janda miskin.(mdk/fas)