Masjid Jenggot bikin sewot
Masjid kini tidak lagi menjadi alat pemersatu umat Islam. Bahkan sebaliknya, masjid telah memecah belah kaum muslim.
Masyarakat sekitar barangkali tidak ingat lagi nama asli masjid itu. Mereka kerap menyebut tempat ibadah eksklusif di kawasan Kalisari, Cijantung, Jakarta Timur, itu sebagai Masjid Jenggot.
"Gerbangnya sering dikunci, hanya dibuka kalau ada kegiatan kelompok mereka saja," kata Kiai Sam, warga setempat, saat dihubungi merdeka.com Kamis pekan lalu. Mereka yang dimaksud adalah orang-orang berjenggot dengan setelan pakaian khas Pakistan disebut syarwal kamis dan celana cingkrang setinggi betis.
Orang-orang ini, kata dia, merasa Islam mereka anut paling benar dan sesuai tuntunan Nabi Muhammad. Mereka mengklaim sebagai pengikut ulama-ulama salaf atau disebut kelompok salafi. Sebab itu, mereka suka menyebut bidah terhadap amalan-amalan ibadah tidak pernah dicontohkan Rasulullah, seperti tahlil.
Masjid serupa juga ada di Bekasi, Jawa Barat. Keberadaan golongan celana cingkrang itu membuat orang-orang berbeda aliran sewot. "Dulu kami biasa mengadakan maulud atau baca Yasin di masjid. Sejak mereka berkuasa di sana tidak bisa lagi," ujar seorang ibu.
Seorang sesepuh setempat sering bersitegang atau cekcok dengan pengurus masjid karena menganggap amalan di luar kelompok mereka sebagai bidah atau sesat.
Ketua Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdatul Ulama Kiai Abdul Manan al-Ghani mengaku sangat prihatin dengan kelompok-kelompok itu. "Ini bagian dari penyebaran Wahabi," tuturnya saat dihubungi secara terpisah.
Miris sekaligus memalukan. Masjid kini tidak lagi menjadi alat pemersatu umat Islam. Bahkan sebaliknya, masjid telah memecah belah kaum muslim.
Baca juga:
Seatap dua Tuhan
Siasat serobot marbot
Saling sikut di rumah Tuhan
Mengintip proyek perluasan Masjidil Haram
John Kerry kagumi lokasi Masjid Istiqlal dekat Gereja Katedral