LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Manusia gerobak dan masalah sosial Jakarta

Saban tahun manusia gerobak menyerbu Jakarta ketika bulan Ramadan.

2016-06-17 07:35:00
Manusia Gerobak
Advertisement

Dewi, 30 tahun, dan Senen, 40 tahun, mempunyai pengalaman saat mereka hendak ditangkap oleh petugas Dinas Sosial lantaran keduanya kedapatan sedang tidur di pinggir jalan berserta gerobaknya. Manusia gerobak juga penyandang masalah kesejahteraan sosial lain memang menjadi pekerjaan rumah buat pemerintah Provinsi DKI Jakarta saban bulan Ramadan.

"Seminggu yang lalu di Kebayoran lama, tengah malam saya hampir saja tertangkap Dinsos tapi mereka cuma pegang tangan saya dan saya bisa lepas. Karena ada suami saya, suami saya ngelawan dan kami kabur," ujar Dewi saat berbincang dengan merdeka.com di kawasan Palmerah, Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Meski razia sering dilakukan Dinas Soal saban Bulan Ramadan, namun Dewi dan suaminya tetap bertahan. Senen pun mengaku sudah dua kali ditangkap Dinas Sosial. Namun yang kedua kali, dia berhasil melarikan diri. "Sepuluh orang yang kabur termasuk saya," kata Senen sambil terkekeh.

Senen mengaku tak kerasan tinggal di karantina Dinsos. Dia berkilah makanan yang disediakan tidak enak. Bahkan saat berapa di karantina, dia dan teman-teman lainnya dijanjikan pekerjaan oleh pihak Dinsos. Namun kenyataannya kata Senen, tidak ada pekerjaan sesuai dijanjikan oleh Dinas Sosial. "Nasinya enggak enak, kualitas beras raskin terus cuma dikasih sayur sama ikan asin. Dan kerjaannya cuma tidur, makan aja," keluh Senen.

Biasanya kata Senen, yang sering dirazia adalah golongan pengemis. Tetapi kemudian, makin ke sini pemulung seperti dia juga ikut terjaring razia. Dia juga menceritakan, sering kali pengemis mengecoh agar mereka tidak tertangkap dengan menyamar sebagai manusia gerobak . "Banyak kok, ada yang suka minta-minta tetapi bawa gerobak padahal dia punya rumah. Jadi pura-pura biar enggak ditangkap," tutur Senen.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta, Chaidir mengatakan, keberadaan manusia gerobak saban bulan Ramadan memang menjadi masalah bagi pemerintah. Namun dia menjelaskan, sejatinya keberadaan manusia gerobak juga ikut membantu pemerintah dalam hal kebersihan. Chaidir pun mengatakan jika manusia gerobak tidak termasuk dalam Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

"Bagi kami, mereka bukan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) bahkan membantu pemerintah dalam kebersihan dan itu sebuah profesi yang halal," ujar Chaidir melalui pesan seluler, Rabu lalu.

Meski demikian, Chaidir menjelaskan, permasalahan manusia gerobak terjadi jika mereka melakukan aktivitas mengemis. Apalagi kebanyakan selama ini, manusia gerobak menjadi kedok untuk meminta belas kasih ketika bulan Ramadan. Biasanya mereka melakukan aktivitas mengemis dengan membawa anggota keluarga mereka.

"Mereka keliling dari satu ruas jalan ke jalan lainnya berhenti sambil menggelar kardus untuk duduk sambil menunggu orang berbelas kasih" ujarnya.

Dia menambahkan, untuk membedakan manusia gerobak dengan pemulung bisa dilihat dari isi yang dibawa. Kalau isi gerobaknya berupa barang-barang bekas, mereka masuk dalam kategori pemulung. Untuk mengantisipasi serbuan manusia gerobak, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun kata Chaidir, sudah memetakan lokasi langganan keberadaan mereka.

"Petugas kami yang berada di lima wilayah kota akan berjaga di titik rawan tersebut. Namun, kadang yang menjadi kendala dalam penjangkauan manusia gerobak adalah menyelamatkan gerobaknya karena petugas di lapangan sulit membawanya," ujar Chaidir.(mdk/arb)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.