LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Mampang akan kian terbenam

Warga cemas apartemen Nine Residence bakal membuat mereka kesulitan air tanah.

2014-05-28 09:32:21
DKI Jakarta
Advertisement

Banjir tahunan di Jakarta semakin darurat. Apartemen Nine Residence di Kemang Utara diyakini bakal menjadi salah satu penyulut kian meningginya air kala intensitas hujan tinggi mengguyur ibu kota. Ditambah kusutnya arus lalu lintas di sekitar pembangunan gedung hunian bagi warga berduit itu.

Menurut perwakilan warga Mampang Prapatan 13 RT 001/RW 03, Mahbub Junaidi, sebelum ada proyek Nine Residence, banjir sudah bebas menggenangi pemukiman warga. Dengan adanya pembangunan itu dipastikan air akan lebih tinggi lagi saat musim hujan. Ada ratusan warga siap menerima banjir saban tahun.

"Kalau di kampung bawah, RT 14/RW 02 dan RT 002/RW 03. Di perbatasan semua, Duren Tiga, Tegal Parang, sama Mampang Prapatan. Biasanya saja banjir ditambah tanah resapan dibangun apartemen. Pengembang hitung tidak?," katanya kepada merdeka.com kemarin di rumahnya.

Apartemen Nine Residence berlokasi strategis, tepat di Jalan Warung Buncit Raya, berbatasan langsung antara dua kelurahan, yaitu Duren Tiga dan Tegal Parang.

Tak berhenti sampai di situ, warga juga meminta pihak pengembang memperhatikan arus lalu lintas mulai Mampang hingga Ragunan. Sebab sebelum pembangunan apartemen itu bergulir, lalu lintas sudah macet. Apalagi jika apartemen itu sudah beroperasi, bukan tidak mungkin arus lalu lintas makin kusut.

"Setiap harinya akses lalu lintas bagi warga ikut terganggu, seperti di jalan depan, rencananya pengembang ikut memakai akses Gang 12 Mampang Prapatan," ujar Mahbub. Padahal jalan itu hanya memuat satu mobil menuju ke Kemang dan sekitarnya.

Selain itu, warga juga dihantui kekeringan air tanah jika nantinya apartemen diprakarsai Grup Lippo grup itu berdiri megah. Pengembang pernah menggelar pertemuan dengan warga pada 15 Januari 2013. Mereka berjanji tak akan memakai air tanah tetapi menggunakan jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

"Saat itu konsultan amdal bilang selama pembangunan hingga apartemen jadi tidak pakai air tanah tapi dari PDAM. Kami lihat sendiri mereka gunakan air tanah," ujar Edi Fuad salah satu perwakilan warga RT 002/RW 05, Kelurahan Duren Tiga.

Ketua Departemen Advokasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DKI Jakarta Heru Kundhimiarso mengatakan pengelolaan lingkungan dilakukan oleh pengembang masih sebatas meredam protes atau mencegah terjadinya gejolak masyarakat di sekitar lokasi pembangunan gedung, belum mencakup pengelolaan lingkungan secara utuh. "Sejauh ini belum ada langkah kongkret dari Grup Lippo sebagai pengembang," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Komunikasi Perusahaan Grup Lippo Danang Kemayan Jati mengklaim sejak awal pembangunan semua persyaratan sudah dilengkapi dengan melibatkan masyarakat sekitar. "Kita maksimalkan sampai jam sembilan malam, kalau melewati batas itu ada di pihak subkontrak, pihak penggarap," katanya.(mdk/fas)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.