LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Laju lambat Kopi Bis Kota

"Ya persisnya sejak 1998, ketika mulai masuk kopi kemasan," katanya sambil geleng-geleng kepala.

2016-03-21 06:37:00
Kopi
Advertisement

"Dua tahun belakangan penjualan terus turun, jauh seperti sebelumnya," ujar Martono Widjaja, pemilik Kopi Bis Kota saat berbincang dengan merdeka.com Jumat pekan lalu. Kopi milik Martono adalah Kopi legenda di Jatinegara, Jakarta Timur. Usaha kopinya merupakan turunan dari mendiang orang tuanya. "Sejak kopi sachet itu masuk di pasar, daya saing kita kalah," katanya.

Martono masih ingat betul kilau bisnis Kopi Bis Kota dulu, mulai dari tahun 1970 hingga 1980. Dulu toko kopi 'Sedap Djaya' pemilik lisensi resmi satu-satunya Kopi Bis Kota, saban hari mampu menjual dua ton. Bahkan pertama kali dia turun membantu kedua orang tuanya, beberapa pasar dari Jakarta hingga Depok dikuasai. Namun sejak kerusuhan 1998, usahanya mengalami penurunan. Apalagi pasar-pasar tempat dia memasok Kopi Cap Bis Kota juga ikut menjadi salah satu incaran para penjarah.

"Ya persisnya sejak 1998, ketika mulai masuk kopi kemasan," katanya sambil geleng-geleng kepala.

Namun rasa memang tak pernah bohong, meski digerus serbuan kopi kemasan sachet, Kopi Bis Kota tak pernah kehilangan pembeli. Saban hari, pelanggannya datang buat mencari kopi berbungkus kertas sampul cokelat ini. "Hanya di sini saja kita jualnya," ujar Martono. "Kualitas tetap kita jaga. Kalau sudah biasa minum Kopi Bis Kota, di kasih yang lain juga enggak mau,".

Mesin penggiling sejak zaman Jepang itu masih bisa digunakan. Gemuruh suaranya khas. Biji kopi jenis robusta itu keluar dalam bentuk butiran halus. Aromanya menyengat dan khas. Begitu lah ciri-ciri Kopi Bis Kota. Ketika diseduh, baunya harum. Buat menjaga kualitas, Martono menjamin jika kopi Bis Kota berbeda dengan lainnya. "Tidak ada campuran. Ini kopi murni," katanya. Karena cita rasa itu juga Kopi Bis Kota tak pernah lari ditinggal pelanggan.

Seorang pelanggan mengakui sudah menikmati Kopi Cap Bis Kota sejak dia tinggal di kawasan Jatinegara. Kebetulan, pelanggan itu baru saja membeli setengah kilo kopi di Toko milik Martono. Bagi dia, tidak ada yang lain enak dinikmati selain Kopi racikan khas Jatinegara ini. "Saya sudah 20 tahun," katanya.

Advertisement

Kekhawatiran meredupnya Kopi Bis Kota memang dialami Martono memang bukan tanpa alasan. Serbuan berbagai merek kopi dalam kemasan sachet mempengaruhi para pelanggannya. Apalagi, kopi-kopi kemasan itu banyak ditemukan di setiap toko tradisional. Memang Martono dulu sempat dirayu peminat agar kopi miliknya dibuat dalam kemasan sachet. Namun itu urung dilakukan dengan banyak alasan.

"Kalau orang sudah punya uang bisa jadi kita ditinggalkan," katanya. Meski demikian, di kerasnya saingan bisnis kopi lokal dengan pengusaha kopi raksasa, Martono berharap agar usahanya terus bertahan apalagi anak laki-lakinya merupakan generasi penerus ketika Kopi Bis Kota. Dia berharap generasi penerusnya nanti bisa mengembalikan kejayaan Kopi Bis Kota di Jakarta.

(mdk/arb)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.