Komunitas Manusia Batu, para pejuang di Kota Tua
Idris datang ke Kota Tua tanpa harapan. Baru saja di-PHK. Ini yang mengubah nasibnya.
Matahari mulai tenggelam. Suara musik bersahutan-sahutan. Berbagai hiburan sedang tampil di pelataran museum Fatahilah, Jakarta Barat. Di sisi utara, dua meriam jagur hitam berdiri kokoh sementara dua lelaki bak patung pahlawan diam membatu.
Keduanya tak pernah sepi pengunjung, dari mulai jadi tontonan sampai ajakan foto bersama. Sebuah kotak bertuliskan komunitas manusia batu siap menampung pundi-pundi siapa saja yang memberi. Tak ada tarif dipatok, cukup ikhlas memberi.
Sore itu memang tiba akhir pekan. Dari segala usia. Anak-anak, muda-mudi lalu orang tua membaur menjadi satu. Perhatian mata selalu tertuju pada lelaki yang mengecat seluruh tubuhnya dengan warna kuning dan hitam.
"Kita dari tahun 2012. Memang sudah aktif di sini. Bareng sama Pak Idris," ujar Wakil ketua Komunitas Manusia Batu (Kombat), Sahmal kepada merdeka.com di pelataran museum Fatahilah, Jakarta, pekan lalu.
Di atas meriam jagur, Sahmal terus mematung. Para pengunjung memang tak pernah berhenti kagum dengan aksinya. Mereka tampil setiap Senin sampai Jumat dari pukul tujuh pagi hingga pukul enam sore dan khusus hari Sabtu Minggu dan hari besar lainnya mereka tampil lebih awal satu jam.
Dulu, menurutnya kota tua rak seramai kini. Aksinya mematung dicetuskan oleh kombat dengan kostum para pejuang. Komunitasnya pun disebut para pejuang Kombat. Ada sebagai petani pejuang, Jenderal Soedirman, ada noni Belanda dan dirinya sebagai Pangeran Diponegoro."
Saya masuk bareng awal awalnya sama pak Idris. Ketua Kombatnya," ujarnya.
Ide pertama kali dicetuskan oleh ketua Kombat, Idris. Dua tahun lalu, tepatnya bukan April. Idris datang ke Kota Tua tanpa harapan yang pasti. Tanpa pekerjaan, setelah berhenti menjadi asisten terapis di Bogor. Lalu mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dia pertama kali menginjakkan kakinya di kota tua.
"Saya bingung mau apa waktu itu," ujar Ketua Komunitas Manusia Batu (Kombat), Idris di tempat yang sama.
Dari aksi muda mudi berfoto ria di dua meriam si jagur itu Idris mendapatkan ide untuk menjadi patung tambahan di dekatnya.
"Kok banyak suka foto di di jagur. Akhirnya coba jadi patung pahlawan," kata Idris kepada merdeka.com.
Menurut Idris, seniman manusia patung di Indonesia cenderung hanya menggunakan kostum yang kurang memiliki tema tentang sejarah dan kebudayaan indonesia. Dia ingin mengubah itu dan mengenalkan tema sejarah.
Maka lahirlah komunitas Manusia Batu dengan karakter tokoh pejuang Indonesia. Hal itu ternyata mendapat sambutan antusias dari pengunjung Kota Tua Jakarta.
(mdk/ian)