Jeli mengonsumsi konten di era social media
Informasi dari sosial media ini adalah realita dari citizen journalism, sangat cepat dibanding kebanyakan media.
Internet adalah sebuah inovasi yang mengubah hidup miliaran orang. Mereka yang lahir di kota kecil jauh di pelosok Jawa atau Sumatera bisa mudah berhubungan dengan temannya di pulau lain, negara lain, bahkan benua lain. Ini membuat perubahan besar dalam kehidupan manusia, baik dalam mata pencaharian, edukasi, sistem sosial, cara berkomunikasi, bahkan dalam kebiasaan dan cara hidup.
Menurut data APJII, 60 juta orang Indonesia memakai internet dalam hidupnya. Jumlahnya terus naik dari tahun ke tahun dan diperkirakan akan makin cepat pertumbuhannya dengan semakin luasnya pemakaian smartphone, tablet computer, laptop, dan investasi di bidang telekomunikasi oleh perusahaan-perusahaan seperti Telkomsel, Indosat, XL dan lain-lain.
Perubahan ini memberikan dampak yang serius dalam industri media. Konsumsi media yang dulunya terkonsentrasi di televisi, media cetak, dan radio, terpecah lagi dengan adanya internet. Pemirsa yang sebelumnya menghabiskan waktu menonton acara televisi, punya pilihan lain untuk memindahkan waktunya ke internet.
Sebagai contoh banyak orang muda, yang mendapatkan berita pertama tidak lagi dari televisi, radio atau koran, tetapi dari Twitter, atau dari temannya di FB, atau dari media online seperti merdeka.com, detikcom, kompas.com. Coba tanya ke 10 orang teman yang usianya 20 tahunan kurang atau lebih, berapa banyak yang melihat berita di koran atau televisi atau mendengar di radio?
Internet pun masih terpecah menjadi dua lagi: smartphone atau komputer. Saat ini hidup banyak orang semakin dikuasai oleh layar ponsel. Di Indonesia, konsumsi media melalui ponsel lebih banyak jumlah pembacanya dibanding melalui komputer. Tetapi jumlah waktu bacanya masih lebih lama di komputer dibanding di ponsel, data itu dilihat di Kapanlagi.com Network (termasuk merdeka, vemale, otosia dan bola.net) yang dibaca oleh 12 juta orang setiap bulannya.
Tambahan lagi Smart TV yaitu internet masuk televisi. Samsung dan LG sedang gencar jualan Smart TV, karena resolusi layar televisi sudah seperti layar komputer, tinggal menambahkan wi-fi, internet sudah bisa dinikmati di televisi. YouTube bisa disebut TV On Demand, yaitu acara televisi yang programnya tidak ditentukan oleh broadcaster-nya, tetapi dipilih sendiri oleh pemirsanya. Pemirsa yang ingin tahu sepak terjang Jokowi bisa menontonnya di Smart TV kapanpun dia mau melalui YouTube-nya Pemda DKI.
Selain media di atas, ternyata masih ada satu lagi media yang sangat "powerful", yang lebih cepat menjalar dari api yang membakar hutan. Sebutannya social media. Yang paling santer tentunya Facebook dan Twitter plus Instagram, Google+, termasuk Youtube juga dan beberapa social media buatan dalam negeri: forum Kaskus dan Mindtalk.
Informasi dari social media ini adalah realita dari citizen journalism, sangat cepat dibanding kebanyakan media, sangat realtime. Ini adalah bentuk reality show yang paling "real", meskipun banyak yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Perlu jeli dan waspada dalam mengonsumsinya.
Inilah yang kita sebut dengan "the global shifting of media comsumption", konsumsi media mengalami interupsi besar karena teknologi. Apapun kanalnya, yang terpenting adalah kontennya. Sangat menguntungkan buat konsumen karena mereka makin dimanjakan, di mana ada yang menarik perhatiannya, tempat itulah yang menarik banyak waktunya.