Demokrat: Kekuasaan itu menggoda
Banyak elite Partai Demokrat yang terjerat korupsi saat berkuasa.
Banyak elite partai tersandung kasus korupsi. Demikian pula yang dialami Partai Demokrat. Sebagai partai yang tergolong baru, Partai Demokrat tak lepas dari isu korupsi. Satu per satu elite Demokrat dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terlibat skandal korupsi.
Sebut saja kasus korupsi yang menyeret mantan Ketum Anas Urbaningrum dalam kasus proyek Hambalang, Bendum Demokrat Nazaruddin, Wasekjen Demokrat Angelina Sondakh, Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat Andi Alifian Mallarangeng, mantan Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana hingga petinggi Demokrat lainnya, Jero Wacik. Mereka terlibat kasus korupsi dan suap di berbagai proyek pemerintah.
Menduduki posisi penting di partai ternyata belum menjadi ukuran kepuasan seseorang. Faktor kekuasaan dan kedekatan dengan stakeholder lainnya tak menutup kemungkinan bagi para politisi ini terlibat korupsi. Demikian hal yang dipetik dari kasus yang menyeret enam elite Demokrat di atas.
Wasekjen Demokrat 2015 Didi Irawadi Syamsuddin menilai, banyaknya elite partai yang tersandung korupsi tak lepas dari jabatan yang diemban orang tersebut. Menurut dia, kekuasaan atau posisi yang dijabat seseorang kadang menjadi pintu masuknya perilaku koruptif. Kata dia, kekuasaan itu sebuah posisi yang menggoda orang untuk bisa melakukan apa saja termasuk korupsi.
"Tiap partai kan berangkat dari niat baik untuk memilih elitnya baik ketua umum, sekjen dan sebagainya. Penyebabanya bisa dua kemungkinan, tapi kemungkinan yang sering terjadi itu kekuasaan itu menggoda," kata Didi ketika berbincang dengan merdeka.com di salah satu cafe di bilangan Kuningan, Jakarta Pusat, Jumat (20/11).
"Jadi orang yang punya niat baik seperti ketum dan sekjen di beberapa partai termasuk partai kami mungkin tergoda melakukan hal yang tidak benar," imbuh dia.
Ibarat berjalan di dua rel kereta, kekuasan bisa membawa orang menuju pencapaian sejati atau membawa ia terjerembab dalam lubang yang salah dan akhirnya semua pencapaian pun sia-sia. Seperti kasus yang menyeret elite Demokrat, tak ada yang menyangka sosok idealis nan kalem seperti Anas Ubraningrum atau Angelina pun masuk penjara karena skandal korupsi. Untuk hal ini, Didi mengembalikan semua penilaian kepada masyarakat mengapa orang yang 'dipercayai' masyarakat mudah melakukan korupsi.
"Kalau ditanya mengapa orang tergoda korupsi seharusnya bukan ke kami tapi kepada orang yang sudah lakukan itu, kenapa Anda dulu sebelum jadi ketum dikenal alim tapi korupsi. Kalau ditanya ke saya ya tapi mudah-mudahan suatu saat kami tidak seperti itu," tutup dia.(mdk/rnd)