LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Bisnis terapi kian sepi lantaran Tol Cipali

"Ya sejak dibuka memang jadi sepi," kata Kokom.

2015-08-21 08:50:48
Sisi lain Tol Cipali
Advertisement

Dentuman house musik dangdut saling bersahutan. Di teras luarnya duduk gadis-gadis dengan dandanan menor. Ada yang mengenakan rok mini dan juga celana pendek ketat yang populer disebut celana gemes. Bibir mereka nakal, menggoda setiap pengendara lewat untuk mampir sejenak merenggangkan urat.

"Ayo akang, mampir sini," begitu teriakan seorang wanita berlogat sunda seraya melambaikan tangan di teras sebuah cafe Jalan Pantai Utara Sabtu malam pekan lalu. Cafe itu terletak di Jalan Pantai Utara, tepatnya di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Saban malam, cafe-cafe remang-remang di Jalan Pantura memang menjadi pemandangan lumrah bagi setiap pengguna jalan yang hendak menuju arah Cirebon maupun arah Jakarta. Bisa dibilang geliat dunia malam Pantura memang menjadi magnet bagi segelintir orang yang bergantung hidup dengan mengais rejeki menyediakan jasa pemuas nafsu.

Namun bisnis lendir yang memang begitu kesohor di Pantura itu saat ini mulai redup. Pemandangan pada Sabtu malam pekan lalu menjadi bukti begitu sepinya pengunjung cafe-cafe di kawasan Subang, Jawa Barat.

Hampir semua cafe-cafe malam itu sepi peminat. Hal itu bukanlah tanpa sebab, sejak dibukanya jalan bebas hambatan Cikopo-Palimanan diyakini menjadi salah satu faktor penyebab sepinya para pelanggan.

Kokom, 29 tahun misalnya, janda beranak satu itu mengatakan jika sejak dibukanya Tol Cipali menjelang lebaran kemarin berdampak bagi profesi yang ia jalani. Profesi sebagai terapis sebuah Spa dan pijak refleksi ikut mengalami dampak Tol Cipali. "Ya sejak dibuka memang jadi sepi," kata Kokom saat ditemui di pinggir Jalan Pantura Sabtu pekan lalu.

Biasanya kata Kokom, pengunjung yang datang ke tempat terapinya lumayan ramai. Namun sejak dibukanya Tol Cipali, pengunjung yang datang untuk terapi mulai sepi. Bahkan terkadang Kokom hanya duduk-duduk seharian lantaran tak ada yang singgah untuk pijat terapi. "Kalau sepi ya tidur aja seharian sambil nunggu," ujarnya.

Dampak dibukanya Tol Cipali memang berdampak bagi rumah-rumah yang disulap menjadi tempat pijat terapi. Meski pijat terapi itu ada kesamaan berbau prostitusi karena letaknya berdekatan, namun magnet kehidupan remang-remang tak juga mempengaruhi. Dari segi ekonomi jelas dampak Tol Cipali sangat mempengaruhi para wanita yang berprofesi sebagai terapi.

Menurut Kokom, pelanggan yang datang untuk terapi biasanya para pengguna mobil pribadi. Sebelum Tol Cipali dibuka, saban malam, ada sekitar empat mobil pribadi terparkir di tempat dia bekerja. Saking penuhnya kata dia, pelanggan pun rela antre untuk dilayani.

Hal yang paling berdampak kata Kokom ialah pendapatannya. Selain keuntungan 25 persen dari pengunjung yang datang, Kokom dan empat temannya juga mengandalkan uang tips dari para pelanggan.

Pendapatannya perhari terbilang lumayan. Saban hari paling sedikit para terapis di tempat Kokom bekerja mendapatkan uang tips sekatar Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Namun kini pendapatan itu hanya bisa didapat sesekali.

Terkadang, para terapis hanya mendapatkan uang Rp 50 ribu. Beruntung, Kokom dan temannya tak perlu menyewa kontrakan. Saban hari dia tinggal di tempat kerjanya. "Ya kalau lagi rame bisa Rp 200 ribu," kata Kokom yang kini harus membiayai anaknya seorang diri.

(mdk/mtf)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.