LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Berselingkuh dengan Zionis

Mesir dan Yordania menjadi dua negara Arab membina hubungan diplomatik dengan Israel.

2013-12-18 07:29:00
Zionisme
Advertisement

Keputusan kontroversial itu muncul pada pekan kedua November 1977. Dalam pidato di hadapan anggota parlemen, Presiden Mesir Anwar Sadat menyatakan bakal melawat ke Yerusalem dan berbicara di Knesset (parlemen Israel).

Tidak lama setelah pengumuman itu, Israel mengundang Sadat secara resmi lewat duta besar Amerika Serikat untuk Mesir. Sepuluh hari kemudian, Sadat benar-benar menjejakkan kaki di negara Zionis itu untuk kunjungan kenegaraan tiga hari.

Dia juga melaksanakan janjinya berpidato di Knesset. Sadat menyampaikan pandangannya soal perdamaian, status wilayah penjajahan Israel, dan persoalan pengungsi Palestina.

Ternyata Sadat lebih memusatkan perhatian pada kepentingan nasional Mesir, yakni mendapatkan kembali Semenanjung Sinai direbut Israel sehabis Perang Enam Hari Juni 1967. Sadat tidak peduli dengan kepentingan dunia Arab dan prospek perdamaian Israel dengan negara Timur Tengah lainnya.

Barangkali ini perselingkuhan terbesar dilakoni negara Arab dengan rezim Zionis. Sadat menjadi pemimpin Arab pertama berkunjung ke negara Bintang Daud itu, seperti dilansir surat kabar the New York Times, 9 Maret 1992.

Rupanya lawatan ini menjadi awal perundingan Mesir dan Israel dan akhirnya berujung pada penandatanganan Perjanjian Camp David pada 1979 antara Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin. negeri Piramida ini juga menjadi negara Arab pertama mengakui dan membina hubungan diplomatik dengan Israel.

Normalisasi hubungan kedua negara ini mulai dilaksanakan pada Januari 1980. Dua pemerintah mengirim duta besar masing-masing sebulan kemudian. Maretnya, Mesir dan Israel membuka rute penerbangan antara kedua negara. Di bulan yang sama, Mesir mulai memasok minyak mentah ke Israel.

Atas jasa mereka, Sadat dan Begin berbagi hadiah Nobel Perdamaian pada 1978. Namun, harga mesti dibayar Sadat kelewat mahal. Sejumlah anggota Jihad Islam di Mesir membunuh dia saat parade tahunan merayakan keberhasilan Mesir melintasi Terusan Suez.

Mesir tidak sendirian. Yordania mengikuti jejak mereka dengan meneken perjanjian damai pada 1994 antara Raja Abdullah dan Perdana Menteri Yitzhak Rabin. Perdamaian ini mengakhiri konflik bilateral telah mengakibatkan kerugian sekitar US$ 18,3 miliar. Raja Abdullah menilai Israel sebagai sekutu penting di kawasan, seperti dilansir the Centre for Israel and Jewish Affairs.

Kali ini giliran Israel membayar mahal atas kesepakatan itu. Yigal Amir dari kelompok Yahudi ultranasionalis membunuh Rabin setahun kemudian.

Baca juga:
Sejoli dari Tanah Suci
Belajar mencintai Israel
Dibenci tapi digandrungi
Menteri ekonomi Israel jejakkan kaki di Indonesia
Diplomat Mesir: Rezim Zionis ancaman serius bagi Timur Tengah

(mdk/fas)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.