Berbagai sisi El-Sisi
Ia sosok yang dielu-elukan oleh sebagian rakyat Mesir sebagai tokoh yang akan membawa Mesir pada kemajuan dan demokrasi.
Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Mesir Abdel Fattah el-Sisi adalah sosok multidimensi. Ia sosok yang dielu-elukan oleh sebagian rakyat Mesir sebagai tokoh yang akan membawa Mesir kepada kemajuan dan demokrasi. Ironisnya dia adalah pemimpin militer yang menjungkalkan pemerintahan Presiden Mohammed Mursi yang telah terpilih secara demokratis.
Saat ini ia dipandang sebagai calon presiden Mesir terkuat. Rentetan skenario nampak jelas disiapkan bagi El-Sisi menuju kursi kepresidenan. Pada hari Sabtu (25/1), puluhan ribu orang berkumpul di lapangan Tahrir dan di tempat lain di negara itu untuk merayakan ulang tahun ketiga revolusi 25 Januari. Ribuan orang membawa spanduk dan poster yang mendesak Abdel Fattah - El-Sisi untuk mencalonkan diri sebagai presiden.
Pada Senin (27/1) pagi hari, Presiden sementara Mesir, Adly Mansour, mengeluarkan dekrit presiden yang mempromosikan Jenderal Abdel - Fattah El-Sisi, panglima militer dan menteri pertahanan Mesir, menjadi Field Marshal. Pangkat ini sejajar dengan panglima tertinggi atau jenderal besar seperti di Indonesia dengan bintang lima.
Siang harinya Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir mengumumkan restunya bagi pencalonan El-Sisi dalam pemilihan Presiden Mesir. Dewan itu menyebut langkah pencalonan itu merupakan "mandat dan kewajiban" yang diminta oleh masyarakat.
Siapakah El-Sisi? Tokoh militer yang lahir di Kairo, 19 November 1954 itu pernah menjabat kepala intelijen militer Mesir pada 2010, kemudian menjadi menteri pertahanan pada masa pemerintahan Presiden Mohammed Morsi pada bulan Agustus 2012. Dia kemudian menggulingkan Morsi pada Juli 2013. El-Sisi menjadi panglima militer Mesir dan menteri pertahanan pada pemerintahan sementara hingga sekarang. Promosi pangkat terakhir adalah untuk memperkuat El-Sisi sebagai calon presiden Mesir pada pemilu yang akan diselenggarakan sekitar April mendatang.
Dalam soal karir militer, El-Sisi diremehkan karena tidak pernah punya pengalaman tempur. Karirnya lebih banyak dilewati melalui jalur logistik infantri, informasi, dan intelijen serta atase militer di Saudi Arabia. Selanjutnya posisinya menanjak menjadi Kepala Staf dan Panglima Daerah Militer Utara Mesir yang bermarkas di Alexandria sebelum ditunjuk menjadi Direktur Intelijen Militer.
El-Sisi dinilai banyak kalangan intelektual Mesir sebagai sahabat dekat AS karena pernah belajar di AS, menghadiri berbagai konferensi militer di sana dan aktif dalam kerjasama latihan perang dan operasi intelijen dalam beberapa tahun terakhir. Sikap El-Sisi terhadap Ikhwanul Muslimin yang telah ditetapkannya sebagai organisasi teroris dan penjungkalan Presiden Morsi dianggap mencerminkan perpanjangan tangan kepentingan AS.
Demikian juga sikapnya terhadap warga Palestina dan ancaman terhadap Hamas di Jalur Gaza dianggap sebagai sikap mengambil hati Israel. Banyak analis Timur Tengah menilai bahwa sikap El-Sisi adalah kelanjutan dari para pemimpin militer Mesir sebelumnya yaitu meraih dan mempertahankan kekuasaan serta menghindarkan diri dari konfrontasi dengan Israel.
Pada saat menjadi Menteri Pertahanan di kabinet Morsi, El-Sisi dicitrakan sebagai sosok relijius yang dekat dengan Ikhwanul Muslimin dan sosok istrinya yang memakai hijab penuh cukup menjadi sorotan. Di sisi lain dalam sebuah pidatonya di Angkatan Darat Mesir, El-Sisi pernah menyatakan bahwa ancaman terbesar kepada Mesir bukanlah Zionisme, opresi Barat atau Al-Qaeda, melainkan matinya wacana pembaharuan Islam di Mesir sejak 800 tahun lalu.
Citra El-Sisi juga lagi dibangun sebagai sosok Gamal Abdul Nasser kedua, namun banyak kalangan meremehkan pensejajaran itu karena kebijakan dan apa yang telah dilakukan El-Sisi dinilai tidak berkaitan dengan upaya yang dilakukan Nasser dalam menaikkan harkat dan martabat bangsa Arab dan perjuangan membantu kemerdekaan Palestina.
Betapapun El-Sisi saat ini adalah sebuah kenyataan sejarah yang akan ikut menentukan sejarah Mesir di masa-masa mendatang. Bila El-Sisi terpilih menjadi Presiden itu adalah pilihan rakyat Mesir yang harus dihormati dan juga sebuah pelajaran yang perlu dicermati.
Baca juga:
Syarat sukses perundingan Jenewa II
Warisan Sang Jagal
Mengabadikan derita Palestina
Tingkah pemimpin dan derita rakyat Sudan Selatan
Bara sengketa di atas Laut China