LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. KHAS

Banjir darah dan manusia

Dua tahun konflik Suriah, jumlah pengungsi tembus satu juta dan lebih dari 70 ribu lainnya terbunuh.

2013-03-20 07:00:00
Konflik Suriah
Advertisement

Beginilah nasib Busyra sekarang. Ibu dua anak asal Kota Homs, Suriah ini, kini terpaksa mengungsi ke Tripoli, kota perbatasan di Libanon Utara.

Homs bersama empat kota lainnya, yakni Idlib, Hama, Daraa, dan Aleppo, merupakan basis pemberontak. Tripoli juga bukan kota damai. penduduk di sana terbelah, komunitas Syiah mendukung rezim Basyar al-Assad, sedangkan kalangan Sunni menyokong pemberontak.

Dia bersama kedua anaknya terpaksa berdesakan tidur di sebuah ruangan bersama 20 orang lainnya. "Kehidupan kami sangat buruk. (Biaya hidu) di sini sangat mahal). Saya sulit mendapatkan pekerjaan," kata Busyra kepada para wartawan di kantor pendaftaran UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi) di Tripoli.

Saking takut ketahuan tentara pemerintah, dia meminta nama keluarganya tidak ditulis. Busyra tercatat sebagai pengungsi urutan sejuta, seperti dilansir surat kabar the Huffington Post, Ahad tiga pekan lalu.

Konflik bersenjata antara tentara pemerintah dan pemberontak telah memasuki usia dua tahun pertengahan bulan ini. Jumlah pengungsi sudah tembus satu juta dan lebih dari 70 ribu orang terbunuh. "Dengan satu juta orang pengungsi, jutaan lainnya dalam Suriah tanpa tempat tinggal, dan ribuan lainnya terus menyeberangi perbatasan saban hari, Suriah menjelma sebagai bencana sangat besar," kata Komisioner UNHCR Antonio Guterres. Penduduk Suriah berjumlah 22 juta.

Guterres menjelaskan angka pengungsi melonjak tajam tahun ini. Mereka membanjiri wilayah perbatasan di negara-negara tetangga: Libanon, Turki, Yordania, Irak, dan Mesir. Mereka lari dengan menanggung trauma, tanpa barang-barang berharga, dan kehilangan keluarga. Setengah dari pengungsi Suriah adalah anak-anak, kebanyakan berumur di bawah sebelas tahun. "Tragedi ini harus segera dihentikan," Guterres menegaskan.

Koordinator UNHCR urusan pengungsi Suriah di Ibu Kota Beirut (Libanon), Panos Moumtzis, mengatakan sekitar tujuh ribu warga Suriah membanjiri Libanon tiap hari sejak pertempuran meningkat akhir tahun lalu. Sayang, badan PBB ini kekurangan dana untuk mengurus para pengungsi itu. Dari USD 1 miliar dijanjikan dalam konferensi negara-negara donor di Kuwait, baru USD 200 juta digelontorkan.

Tiap keluarga pengungsi mendapat minimal satu tenda, selimut, dan kasur tipis, serta dua ribu kalori makanan dan 20 liter air.

Krisis kemanusiaan ini harus segera diakhiri. Kalau tidak, PBB sudah memperingatkan Suriah bakal kehilangan tiga generasi.(mdk/fas)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.