Bang Pi'ie, pengikut Soekarno melawan Soeharto
"Ayah menolak ditawari jabatan dan kenaikan pangkat oleh Soeharto," tutur Edi.
Bang Pi'ie diangkat menjadi Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet 100 hari menteri bentukan Presiden Soekarno pada 1946. Pengangkatan itu buah dari perjuangan Bang Pi'ie yang tergabung dan memimpin Laskar Barisan Bambu runcing. Dia memiliki peran melawan cengkeraman penjajah di Jakarta.
Dia ditunjuk langsung oleh Presiden Soekarno untuk mengurusi masalah keamanan rakyat pada saat itu. Sejak pasca-proklamasi kemerdekaan, situasi di Jakarta khususnya memang menjadi tak terkendali. Banyak bandit-bandit menjalankan aksinya. Itu juga yang membuat Tentara Nasional Indonesia kewalahan menangani itu. Namun bagi Bang Pi'ie urusan itu perkara mudah.
Dia dikenal sebagai pimpinan dunia hitam pada masa itu. Semua bandit-bandit tunduk di bawah perintahnya. Selain Bang Pi'ie, anak buahnya juga ikut masuk menjadi anggota TNI. Dari beberapa catatan, strategi merangkul para preman memang dinilai efektif untuk menjaga situasi keamanan. Apalagi Bang Pi'ie dikenal sebagai kelompok dunia hitam dari berbagai kalangan.
Dari penuturan anaknya, Edi Syafi,ie, 57 tahun, ayahnya memang dikenal memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. Bang Pi'ie benci sekali dengan Belanda. Nama bang Pi'ie bukan saja kesohor di kalangan para bandit. Dia juga dikenal sebagai pemberi rasa nyaman para pedangan pasar Senen. Cukup sebut namanya, orang pun segan untuk bertindak lebih jauh.
"Ayah saya memang benci sekali dengan Belanda," kata Edi saat berbincang dengan merdeka.com, Kemarin di Hotel Milenium Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Awal masuk menjadi anggota TNI, Bang Pi'ie berpangkat Kapten. Dia pernah bertugas di Batalyon Siliwangi, Bandung, Jawa Barat. Bukti itu terpampang dalam foto baju yang dia kenakan. Di lengan kirinya ada lambang Batalyon Siliwangi lengkap dengan pangkatnya.
Sebelum masuk ke dalam TNI, dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan, pasukan laskar pimpinan Bang Pi'ie melakukan penyerbuan ke Stasiun Senen. Saat itu bang Pi'ie memimpin beberapa pasukan dari Pemuda KRIS, Pasukan Pemuda Batak, Barisan Keamanan Rakyat pimpinan RE Martadinata. Serangan itu dimenangkan oleh pasukan pimpinan Bang Pi'ie.
Peristiwa ini juga menjadi salah satu peristiwa terbesar dan masuk dalam sejarah pertempuran senen. "Ayah saya yang memimpin penyerangan itu," ujarnya.
Menjadi salah satu orang kepercayaan Presiden Soekarno, nama bang Pi'ie kemudian muncul kembali menjadi menteri. Dia dipercaya mengisi posisi Menteri Negara Urusan Keamanan Rakyat dalam kabinet Dwikora II. Jabatan itu disandang Bang Pi'ie sejak 21 Februari hingga 28 Maret 1966.
Sayang, kesetiaannya pada Presiden Soekarno, menjadi salah satu orang dibenci Soeharto. Bang Pi'ie dituduh Komunis meski sebelumnya dia ikut berjuang memberantas orang-orang PKI di Madiun. Dia ditangkap kemudian dipenjara di Lapas Nirbaya bersama Omar Dhani, Oei Tjoe Tat, Sri Mulyono Herlambang.
Sebelum dilepaskan, Presiden Soeharto memanggilnya untuk mengisi jabatan sebagai duta besar. Kepada Bang Pi'ie Soeharto meminta dia karena masih diperlukan untuk membantu pemerintahan. Namun Bang Pi'ie lantang menolak. Dia juga ditawari kenaikan pangkat menjadi Kolonel. Namun dia ogah menerima tawaran itu dan memilih untuk di rumah saja sebagai warga negara biasa.
Pangkat terakhir Bang Pi'ie Letnan Kolonel. Hingga akhirnya tutup usia, Bang Pi'ie lebih banyak di rumah. Letnan Syafi'ie meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto tahun 1972. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. "Ayah menolak ditawari jabatan dan kenaikan pangkat oleh Soeharto," tutur Edi.
Baca juga:
Darah jawara mengalir di nadi Bang Pi'ie
Bang Pi'ie, jawara Pasar Senen jadi menteri
Kisah perlawanan Pak Sakera hingga mati digantung Belanda
Cerita Teuku Umar melamar Cut Nyak Dhien
Sejarawan Aceh: Cut Nyak Dhien pakai selendang penutup kepala
Heroisme Cut Nyak Dhien, Ratu Perang Aceh bikin hati bergetar