Bagendit dan kampung tukang cukur pejabat
Dari mantan Pangkopkamtib Soedomo hingga presiden SBY tukang cukurnya berasal dari Desa Bagendit, Garut, Jawa Barat.
"Orang Garut itu dulunya tukang gali tanah, bukan tukang cukur," kata Dede Saefudin mantan Kepala Desa Bagendit sekaligus tukang cukur asli Garut membuka perbincangan dengan merdeka.com melalui seluler semalam. Namun pemberontakan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia membuat sebagian warga desa-desa di Garut, Jawa Barat kabur buat mengungsi.
Sejak saat itu, kebanyakan orang Garut memilih bertahan dalam pelarian sebagai tukang cukur. "Di Jakarta dulu memang sudah ada orang Garut yang menjadi tukang cukur," katanya.
Menurut Dede generasi pertama tukang cukur asli Garut terjadi sekitar tahun 1951 sampai 1956. Sukses di perantauan sebagai tukang cukur, membuat sebagian masyarakat di desa-desa Garut tertarik menekuni hal serupa. Hampir semua desa di Garut berbondong-bondong merantau sebagai tukang cukur. Di antaranya adalah Desa Bandar Jati, Kampung Parung dan Desa Bagendit yang banyak melahirkan tukang cukur profesional.
Alih profesi itu pun berlangsung dari Orde Lama hingga Orde Baru berkuasa. Kemudian generasi kedua tukang cukur asli Garut pun lahir sekitar tahun 1979.
"Generasi keduanya membawa masyarakat jadi tukang cukur dan akhirnya pada mandiri," tutur Dede dengan logat sunda.
Tahun itu juga menjadi kelahiran nama Asgar, Asli Garut. Bukan tanpa sebab kelahiran nama itu, saking banyaknya orang-orang di kampung-kampung Garut yang menjadi tukang cukur, menjadikan nama itu sebuah brand yang dipasarkan. Apalagi tukang cukur asli Garut memiliki perbedaan dengan tukang cukur dari daerah lain. Setiap kali habis cukur, pelanggan akan merasakan pijatan yang membuat kepala ini menjadi enteng.
"Kalau di total anggota Asgar ada sekitar 3000 orang," kata Dede
Jangan kaget, jika kebanyakan tukang cukur asli Garut juga merupakan penata rambut pejabat di Jakarta. Satu kampung yang dikenal sebagai kampung tukang cukur pejabat ialah Desa Bagendit. Di kampung itu, ada beberapa tukang cukur yang memang dipercaya untuk menata rambut pejabat. Misalnya, Edo, dia pernah menjadi tukang cukur kepercayaan mantan Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) di masa Orde Baru, Soedomo.
Kemudian juga ada Salimin, dia juga menjadi tukang cukur kepercayaan mantan Panglima ABRI, Faisal Tanjung. Lalu ada juga Agus Wahidin, salah satu tukang cukur kepercayaan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Kalau yang nyukur Pak Harto, namanya Mugni dia tinggal di daerah Salemba," ujar Dede.
Saking terkenalnya Garut sebagai daerah pencetak tukang cukur, ada semacam tradisi yang harus dilewati orang Garut jika ingin merantau sebagai tukang cukur. Menurut Dede, setiap anak muda yang ingin merantau dia harus belajar dulu mencukur rambut di kampung. Kemudian, mereka juga harus menjadi tukang cukur keliling dari kampung ke kampung.
Setelah memiliki modal itu, barulah mereka bisa merantau ke Jakarta. Biar menjadi tukang cukur profesional, kebanyakan tukang cukur asli Garut juga belajar mengasah gunting. Biasanya mereka lakukan ketika sampai di perantauan. "Semua tukang cukur matenginnya di Jakarta" tutur Dede.
Namun belakangan tukang cukur asli Garut juga mengalami dampak dari perkembangan global. Sejak 2011, tukang cukur asli Garut tak mampu bertahan dari gerusan pemodal usaha pangkas rambut dari luar negeri seperti Singapura. Kebanyakan saat ini, orang Garut hanya menjadi pekerja dan bukan lagi pemilik pangkas rambut.
"Kalau dulu tukang cukur orang Garut, bos orang Garut. Kalau sekarang tukang cukur orang Garut, bosnya orang luar negeri" ujarnya.