Tangani Banyak Jenazah, Begini Kronologi Rusaknya Mesin Krematorium di Surabaya
Satu dari tiga tungku pembakaran alias burner nomor satu di Kreamorium Keputih, Kota Surabaya, Jawa Timur mengalami kerusakan karena beban penggunaan berlebih. Ini fakta selengkapnya.
Satu dari tiga tungku pembakaran alias burner nomor satu di Kreamorium Keputih, Kota Surabaya, Jawa Timur mengalami kerusakan.
"Kerusakan itu terjadi pada dinding batu api yang retak dan ada yang pecah, kemudian pintu dinding api juga rusak," ujar Kepala Krematorium Keputih Surabaya, Eko Pramono, Senin (2/8/2021).
Mesin Tak Berhenti Bekerja
©2021 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah
Menurut Eko, kerusakan tersebut terjadi lantaran beban penggunaannya tidak sesuai aturan.
“Seharusnya satu tungku ini digunakan untuk satu jenazah selama 24 jam. Kalau krematoriumnya sampai jadi abu hanya satu jam, tapi setelah itu kan harus pendinginan agar dinding api tidak rusak. Pendinginan ini prosesnya butuh waktu lama,” ungkapnya, mengutip dari liputan6.com.
Peningkatan jumlah jenazah yang meninggal akibat Covid-19 membuat mesin-mesin di Krematorium Keputih tidak berhenti bekerja. Sebelumnya, dalam sehari bisa menerima enam jenazah. Namun, peningkatan kasus Covid-19 membuat Krematorium Keputih menerima hingga 12 jenazah per hari.
“Memang bulan ini kasusnya paling banyak, cuma saya tidak tau detailnya yang pasti kalau sejak ada Covid sudah tembus ribuan,” imbuhnya.
Hambat Proses Kremasi
Penggunaan tungku melebihi kapasitas menyebabkan terjadinya kerusakan pada dinding api, seperti yang terjadi di Krematorium Keputih. Lebih jauh, bisa menyebabkan mesin rusak karena api yang digunakan dapat mencapai 2.500 derajat celcius.
“Sekarang terpaksa kita hentikan karena dindingnya pecah ada keretakan, kalau kita paksakan api bisa merembet ke mana-mana,” tutur Eko.
Matinya satu mesin di Krematorium Keputih menyebabkan proses kremasi terhambat. "Kini hanya empat jenazah yang dapat kami proses per hari," pungkasnya.