Tak Perlu Beli Sayuran, Warga Blitar Pakai Kemasan Minyak dan Ban Bekas untuk Menanam
Jauh-jauh hari sebelum pandemi Covid-19 berlangsung, beberapa warga di lingkungan RW 03, Dusun Klampok, Desa Pandanarum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur kompak memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah untuk menanam berbagai jenis sayuran. Mereka tidak perlu lagi membeli sayuran dari pasar atau pedagang keliling.
Beberapa warga di lingkungan RW 03, Dusun Klampok, Desa Pandanarum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur kompak memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah untuk menanam berbagai jenis sayuran. Mulai dari brokoli, kubis, seledri, bawang prei, bayam, kangkung, sawi, cabai, dan beberapa jenis sayuran lainnya.
Tidak hanya bercocok tanam di tanah, beberapa warga yang lahannya terbatas juga tak mau ketinggalan menanam sayur-sayuran. Mereka menggunakan polybag untuk menanam sayuran. Bahkan ada di antara warga yang juga menanam buah stroberi di polybag.
Inisiatif Pribadi
©2020 Merdeka.com/Qistia Ummah Ch
Menurut cerita beberapa warga sekitar, menanam sayuran di pekarangan rumah sudah dilakukan sejak jauh hari sebelum pandemi Covid-19. Para ibu rumah tangga di lingkungan setempat tidak lagi membeli sayuran dari pasar atau dari pedagang yang menjajakan sayuran keliling kampung untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam keluarga.
Para perempuan yang sebagian besar berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini berhasil menghadirkan kemandirian pangan bagi keluarganya masing-masing. Sekarang ketika ajakan menanam digaungkan di tengah masa pandemi sebagai upaya menciptakan ketahanan pangan di tingkat keluarga, sebagian warga Desa Pandanarum sudah melakukan dan menikmati hasilnya sejak jauh-jauh hari.
“Sudah nanam sejak dulu. Ya ini masing-masing orang pengen nanam apa, ya dia tanam,” ujar perempuan yang akrab disapa Bu Lin (60), saat menunjukkan tanaman-tanaman warga kepada merdeka.com (3/10).
Tidak Perlu Beli Sayuran
©2020 Merdeka.com/Rizka Nur Laily M
Sudarmianto (50), salah seorang penggerak Pandur (Pandanarum Nandur), organisasi yang membidani gerakan gemar menanam di desa setempat menjelaskan, sejak menanam sayuran di pekarangan rumah, para warga yang bersangkutan tidak lagi membeli sayuran dari pedagang untuk memasak menu sehari-hari. Bahkan ada beberapa warga yang berhasil menjual hasil sayurannya kepada pedagang.
“Ada pedagang yang sudah rutin ke sini, ngambilin sayur dari sini. Dia sudah tahu kapan waktunya panen, kontak-kontakan sama ibu-ibu,” tuturnya.
Manfaatkan Kemasan Minyak Goreng dan Ban Bekas
©2020 Merdeka.com/Rizka Nur Laily M
Selain menanam di tanah pekarangan dan polybag, para warga juga memanfaatkan barang-barang bekas untuk kepentingan menanam, seperti kemasan minyak goreng hingga ban bekas. Plastik kemasan minyak goreng digunting bagian atasnya hingga berbentuk sedemikian rupa, selanjutnya diisi dengan media tanam berupa campuran tanah, pasir, dan sekam.
Sementara ban bekas diubah bentuknya menjadi unik, bagian atas ban dibentuk hingga menyerupai bunga yang sedang mekar. Ban diletakkan di halaman rumah dan diisi dengan media tanam. Selanjutnya, biji-biji sawi disebar di atasnya. Tak butuh waktu lama, benih-benih sawi bermunculan. Hanya butuh waktu sekitar dua bulan, sawi hijau yang ditanam di dalam ban bekas sudah bisa dipanen.
Selain memanfaatkan barang-barang bekas, para perempuan di lingkungan yang bersangkutan juga sepakat tidak menggunakan pupuk kimia untuk menyuburkan tanamannya. Mereka menggunakan pupuk yang diramu sendiri dari bahan-bahan organik.
“Kulit pisang, daun bawang, air pesusan beras (air bekas mencuci beras-red), gula merah,” ungkap Lin saat menceritakan bagaimana ia membuat pestisida organik untuk tanaman sayurnya.
“Ada yang bilang hasilnya bisa lebih baik ditambah susu atau yakult,” cerita petani lain, Amin (45) menanggapi.