Sejumlah Daerah di Jatim Ini Berpotensi Gempa, Simak Penjelasan Ahli Geofisika ITS
Laporan Pusat Gempa Nasional 2017 menyebutkan banyak kota di Jawa Timur dilewati sesar aktif yang berpotensi mendorong terjadinya gempa. Ahli Geofisika ITS imbau hal ini untuk pemerintah dan masyarakat.
Laporan Pusat Gempa Nasional 2017 menyebutkan banyak kota di Indonesia dilewati sesar aktif yang berpotensi mendorong terjadinya gempa. Dosen Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Amien Widodo mengungkapkan, sejumlah daerah di Jawa Timur termasuk kawasan yang dilewati sesar aktif.
Dalam laporan yang terjadi dalam bentuk peta bahaya gempa, daerah di Jawa Timur yang berpotensi dilanda gempa akibat sesar aktif tidak sedikit. Di antaranya ada sesar Wonorejo di Kabupaten Banyuwangi, sesar Probolinggo di Kabupaten Probolinggo, dan sesar Pasuruan di Kabupaten Pasuruan.
Waspada
©2020 Merdeka.com
“Kota Surabaya bahkan dilewati oleh dua sesar yang berbeda, yaitu sesar Surabaya dan sesar Waru,” terangnya di Surabaya, Senin (18/1/2021), mengutip dari liputan6.com.
Keberadaan sesar Waru memanjang dari Gresik, melewati Mojokerto, Jombang, Nganjuk, hingga Saradan. Sesar-sesar ini masih aktif, bahkan mengalami pergerakan rata-rata sejauh 0,05 milimeter setiap tahunnya.
"Maka sudah sepatutnya, kita mewaspadai terjadinya gempa dan meminimalisasi kerugian yang mungkin terjadi," lanjutnya.
Langkah Antisipasi
Menurut Amien, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan khususnya Pemerintah Kota Surabaya seharusnya sudah menyiapkan langkah mitigasi, sebelum kondisi tak terkendali.
Peneliti senior dari Pusat Studi Mitigasi, Kebencanaan, dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS itu menyarankan pemerintah untuk melakukan asesmen ancaman gempa, asesmen kerentanan bangunan dan kerentanan tanah, serta asesmen kapasitas masyarakat.
“Bila kawasan tersebut mempunyai kondisi tanah yang buruk dan bangunan yang kurang kokoh, maka bisa dikategorikan kawasan berisiko tinggi,” terangnya.
Sebaliknya, jika kondisi lapisan tanahnya kuat dan bangunan berdiri kokoh, maka kawasan tersebut dapat masuk dalam klasifikasi kawasan berisiko kecil.
Ajak Lakukan Ini
Peta zonasi kawasan dengan tingkat risiko yang rendah hingga tinggi dapat dijadikan acuan mitigasi. Setiap kawasan akan sangat mungkin memiliki arahan mitigasi yang berbeda, yakni sesuai dengan levelisasi.
"Baik itu arahan mitigasi struktural, maupun arahan mitigasi nonstruktural, keduanya sama-sama penting dan perlu untuk diedukasikan kepada masyarakat," terang Amien.
Menurut Amien, pada dasarnya bencana alam tidak akan menimbulkan korban jiwa jika terjadi di kawasan tidak berpenduduk. Meski demikian, juga bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk menghindari kerugian yang besar di kawasan padat penduduk.
“Maka, mari kenali bencana. Kita kenal dengan bencana, kita selamat,” pungkasnya.