Rasisme Adalah Doktrin Superioritas Ras Tertentu Atas Ras Lain, Pelajari Selengkapnya
Rasisme adalah masalah rasial yang sudah mendarah daging di kehidupan masyarakat multikultur di seluruh belahan dunia. Tindakan-tindakan rasisme terjadi dalam berbagai bidang dalam kehidupan bermasyarakat seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, hiburan dan lain sebagainya. Berikut penjelasan mengenai rasisme.
Rasisme adalah masalah rasial yang sudah mendarah daging di kehidupan masyarakat multikultur di seluruh belahan dunia. Rasisme berkembang pesat di suatu negara seiring berkembangnya teknologi dan perdagangan yang mengakibatkan berkembangnya tingkat kemajemukan dalam negara tersebut.
Mitos mengenai ras unggul dan ras kelas bawah adalah faktor penyebab semakin peliknya masalah rasisme yang terjadi di lapangan. Mereka yang dikonstruksikan sebagai ras unggul seringkali melakukan tindakan rasisme terhadap golongan yang diklasifikasikan sebagai ras kelas bawah.
Tindakan-tindakan rasisme terjadi dalam berbagai bidang dalam kehidupan bermasyarakat seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, hiburan dan lain sebagainya. Dan hal ini merupakan fenomena yang langgeng.
Rasisme yang menjangkiti suatu negara multikultur memang membawa dampak yang cukup buruk seperti tingginya angka kriminalitas, bentrokan-bentrokan, prasangka antar golongan ras dan ketidaknyamanan dalam kehidupan bermasyarakat. Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai apa itu rasisme dan bagaimana perkembangannya di dunia modern.
Pengertian Rasisme
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) rasisme adalah paham atau golongan yang menerapkan penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik (seperti warna kulit) dalam masyarakat. Rasisme adalah paham diskriminasi suku, agama, ras, adat (SARA), golongan ataupun ciri-ciri fisik umum untuk tujuan tertentu (biologis).
Rasisme secara umum dapat diartikan sebagai serangan sikap, kecenderungan, pernyataan, dan tindakan yang mengunggulkan atau memusuhi kelompok masyarakat terutama karena identitas ras. Rasisme juga di pandang sebagai sebuah kebodohan karena tidak mendasarkan (diri) pada satu ilmu apapun, serta berlawanan dengan norma-norma etis, perikemanusiaan, dan hak-hak asasi manusia. Akibatnya, orang dari suku bangsa lain sering didiskriminasikan, dihina, dihisap, ditindas dan dibunuh.
Dalam tindak rasisme terdapat intimidasi baik verbal maupun non-verbal oleh oknum tertentu terhadap orang-orang yang dianggap minoritas. Rasisme hadir dalam bentuk perbedaan perlakuan terhadap seseorang yang dianggap berbeda, dengan memberikan penilaian yang diukur berdasarkan karakteristik ras, sosial atau konsep self-mental, yaitu anggapan bahwa jenis kelamin, agama, bahasa, bukan orientasi seksual yang dimilliki seseorang menjadi penentu derajat atau kedudukan manusia dalam perilaku sosial.
Sejarah Rasisme
Mengtip Alo Liliweri dalam Prasangka & Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Masyarakat Multikultur (2005), asal mula istilah ras diketahui muncul sekitar tahun 1600. Saat itu, Francois Bernier, pertama kali mengemukakan gagasan tentang pembedaan manusia berdasarkan kategori atau karakteristik warna kulit dan bentuk wajah.
Berdasarkan ciri fisiknya, manusia di dunia dapat di bagi kedalam empat ras besar. Ras-ras tersebut adalah hitam, putih, kuning dan merah. Seorang tokoh yang memperkenalkan konsep tentang ras adalah Charles Darwin. Darwin memperkenalkan ras sebagai sesuatu hal yang mengacu pada ciri-ciri biologis dan fisik. Salah satunya yang paling jelas adalah warna kulit.
Mengutip publikasi dari Telkom University, secara historis rasisme berkembang ketika ras yang berbeda bertemu dalam konteks kolonialisasi. Spoonley (1990:96) dalam bukunya yang berjudul Ethnicity and Racism mencoba menelusuri jejak-jejak rasisme, ia menyimpulkan bahwa ras adalah sebuah konsep kolonial yang berkembang ketika semangat untuk melakukan ekspansi melanda Eropa.
Mulai saat itu, konsep ras dalam ranah interaksi sosiologis dunia mulai diperkenalkan. Sebagai bagian dari ideologi kolonial, rasisme melegitimasi eksploitasi yang dilakukan masyarakat kolonial kulit putih Eropa terhadap ras lain. Paul Spoonley melacak kasus seperti itu juga menimpa warga keturunan Maori di tengah komunitas ras kulit putih di Selandia Baru. Begitu pula yang dialami masyarakat ras kulit hitam di Amerika (dalam Al Hafiz, Muhammad (2016) Racism In The Post Colonial Society).
Aspek Rasisme
Dari definisi dan sejarah yang telah dipaparkan di atas, dapat diartikan bahwa hal-hal yang termasuk dalam rasisme adalah sikap yang mendasarkan diri pada karakteristik superioritas dan inferioritas, ideologi yang didasarkan pada derajat manusia, sikap diskriminasi, dan sikap yang mengklaim suatu ras lebih unggul dari pada ras lain. Hal ini seringkali terjadi dalam masyarakat multikultur.
Rasisme tidak terlepas dari dua aspek yaitu diskriminasi ras dan prasangka ras (prejudice);
1. Diskriminasi Ras
Istilah diskriminasi ras mencakup segala bentuk perilaku pembedaan berdasakan ras. Bentuk diskriminasi ras tampak jelas dalam pemisahan (segregasi) tempat tinggal warga ras tertentu di kota-kota besar di dunia Barat maupun Timur.
Juga tata pergaulan antar ras yang memperlakukan etiket (tata sopan santun) berdasarkan superioritas/inferioritas golongan. Termasuk di dalamnya pemilihan teman maupun perjodohan. (Adi, 1999:97).
2. Prasangka Ras
Aspek kedua dari rasisme adalah prasangka ras. Prasangka atau prejudice merupakan akar dari segala bentuk rasisme. Prasangka adalah pandangan yang buruk terhadap individu atau kelompok manusia lain dengan hanya merujuk kepada ciri-ciri tertentu seperti ras, agama, pekerjaan atau kelas.
Diskriminasi dan prasangka adalah dua hal yang saling menguatkan. Prasangka mewujudkan suatu rasionalisasi bagi diskriminasi, sedangkan diskriminasi acapkali membawa ancaman. Dalam suasana prasangka dan diskriminasi tidak ada tempat bagi toleransi dan keterbukaan.