Permudah Siswa Curhat Masalah Tanpa Buka Privasi, Guru di Madiun Bikin Aplikasi Ini
Perundungan di dunia pendidikan formal maupun informal adalah masalah besar yang harus dituntaskan secara komprehensif. Itu membuat Eko termotivasi untuk menciptakan sebuah aplikasi khusus untuk siswa.
Beberapa waktu lalu, jagat media sosial digegerkan dengan kasus perundungan yang menyebabkan seorang siswa SD di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami koma di rumah sakit. Peristiwa itu menambah daftar panjang masalah di dunia pendidikan.
Melihat kasus tersebut, seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Madiun, Eko Setyorini, mengungkapkan keprihatinannya.
Menurutnya, perundungan di dunia pendidikan formal maupun informal adalah masalah besar yang harus dituntaskan secara komprehensif. Itu membuat Eko termotivasi untuk menciptakan sebuah aplikasi khusus untuk siswa.
Ciptakan Aplikasi
©2022 Merdeka.com/Instagram @madiun_info
Eko punya perjuangan inspiratif untuk mencegah kasus perundungan di lingkungan sekolah dan tempat tinggalnya. Dia menciptakan dua aplikasi yang memudahkan siswa bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya. Aplikasi tersebut adalah Koin Star (Konseling Siswa Pendekar) dan Polisma (Pelayanan Online Konseling Siswa Madiun).
Warga Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun itu mengaku mengkreasikan aplikasi tersebut pada 2020 lalu dengan tujuan mempermudah kerjanya sebagai guru BK.
"Saat pandemi Covid-19 berlangsung, ketahanan psikis anak turun sehingga konseling harus semakin banyak dilakukan dan anak sangat butuh pendampingan," tutur Eko, Jumat (25/11/2022).
Permudah Konsultasi
©2022 Merdeka.com/liputan6.com
Keberadaan kedua aplikasi yang dikreasikan Eko ini mempermudah pelaksanaan konseling para siswanya. Selain mencegah perundungan, para siswa juga bisa memanfaatkan aplikasi tersebut untuk konsultasi bakat dan minat, serta mencari jati diri.
"Data pertemuannya detail, terekap semua, dan yang lebih penting bisa dibuat anonim sehingga bisa menjaga kerahasiaan," ungkapnya, dikutip dari akun Instagram @madiun_info.
Fitur anonim pada kedua aplikasi yang diciptakan bisa menjadi perantara komunikasi antara siswa dan guru BK.
"Anak-anak ini butuh proses komunikasi untuk bisa bercerita secara jujur. Mereka tidak mungkin langsung bercerita menjadi korban bullying ketika belum percaya dan nyaman dengan kita," tandasnya.