Peristiwa 4 Maret: Asal-Usul Sejarah Pembentukan Batavia
4 Maret 1621 merupakan salah satu sejarah penting perubahan nama kota Jakarta menjadi Batavia melalui kesepakatan De Heeren Zeventien (Dewan 17) dari VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).
Dalam sejarahnya, nama Ibu Kota Indonesia, Jakarta, telah mengalami beberapa kali perubahan. Untuk itu, sebagai warga Indonesia, kita harus mengetahui asal-usul perubahan nama Jakarta tersebut.
Sebelum berada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh-Pakuan di abad ke-12, nama kota ini adalah Sunda Kelapa. Eksistensi kota ini konon telah ada sejak abad ke-5 dan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.
Namun walaupun Kerajaan Tarumanegara meninggalkan tujuh prasasti, tak satu pun yang ditemukan di kawasan Jakarta sekarang. Lima prasasti ditemukan di kawasan Bogor, satu prasasti ditemukan di daerah Bekasi, dan satunya lagi di daerah Lebak Pandeglang (Banten).
Berdasarkan Prasasti Kebon Kopi (942 M), nama Sunda Kalapa diperkirakan baru muncul memasuki abad ke-10.
Beberapa sejarah panjang telah dilalui oleh Kota Jakarta seperti yang kita kenal saat ini. Contohnya saja perubahan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta hingga Batavia. Semua memiliki nilai historis yang tinggi.
4 Maret 1621 merupakan salah satu sejarah penting perubahan nama kota Jakarta menjadi Batavia melalui kesepakatan De Heeren Zeventien (Dewan 17) dari VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie).
Agar dapat mengetahui sejarahnya dengan lengkap, berikut ini merdeka.com telah merangkum asal-usul sejarah pembentukan Batavia yang dilansir dari Indonesia.go.id.
Asal Usul Nama Batavia
Sebelum dinamakan Batavia, Jakarta telah mengalami beberapa perubahan nama. Semenjak berada dalam kekuasaan Kerajaan Galuh-Pakuan di abad ke-12, nama kota ini adalah Sunda Kelapa.
Sejak pelabuhan Sunda Kelapa dikuasai oleh Fatahillah di tahun 1527, namanya diubah menjadi Jayakarta. Orang Barat yang singgah menyebut kota ini dengan nama Jacatra. Sampai 1619 orang Belanda masih menyebut dengan nama itu.
Namun pada 4 Maret 1621, Jan Pieterszoon Coen yang membawa 1.000 pasukan menyerang Kerajaan Banten dan menghancurkan Jayakarta pada 1619 hingga membuat kota ini dikuasai Belanda. Melalui kesepakatan De Heeren Zeventien (Dewan 17) dari VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), maka pada 4 Maret 1621 namanya diubah menjadi ‘Batavia’.
Nama batavia sendiri merupakan nama yang berasal dari nama etnis Jermanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein, serta dianggap sebagai nenek moyang bangsa Belanda dan Jerman, ‘Bataf’. Bangsa Belanda sangat mengagungkan nenek moyangnya sehingga mereka merasa perlu mengabadikan nama Batavia di negeri jajahannya, termasuk di Indonesia.
Batavia juga merupakan nama sebuah kapal layar yang cukup besar buatan Belanda (VOC). Dibuat pada 29 Oktober 1628, kapal ini dinahkodai oleh Kapten Adriaan Jakobsz. Tidak jelas sejarahnya, entah nama kapal tersebut yang merupakan awal dari nama kota Batavia, atau sebaliknya pihak VOC yang menggunakan nama Batavia untuk menamai kapalnya. Tapi, secara kronologis barangkali nama kapal itu ditorehkan lebih kemudian.
Nilai Histori Nama Batavia
Untuk merayakan peringatan 250 tahun usia Batavia, pada 1860 dibangun monumen JP Coen. Konon, monumen itu berlokasi di halaman Kementerian Keuangan saat ini, yaitu di Lapangan Banteng di Jakarta Pusat.
Di atas fondasi beton yang kokoh, berdiri patung Coen yang dengan angkuhnya menggambarkan keberhasilannya menaklukkan Jayakarta. Patung ini juga menjadi simbol dimulainya penjajahan Belanda.
Sebagai Nama yang Paling Lama Digunakan
Dalam sejarahnya, nama Batavia merupakan nama yang paling lama digunakan yaitu sekitar 3 abad lebih, tepatnya mulai dari tahun 1621 hingga 1942. Sejalan dengan kebijakan de-Nederlandisasi oleh Pemerintah Jepang, nama kota sengaja diganti dengan bahasa Indonesia atau Jepang. Walhasil, pada 1942 nama Batavia berubah menjadi ‘Djakarta’ sebagai akronim ‘Djajakarta’.
Pergantian nama ini bertepatan dengan Hari Perang Asia Timur Raya pada 8 Desember 1942. Nama lengkap kota Jakarta saat itu adalah Jakarta Tokubetsu Shi.
Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2 dan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, nama Jakarta tetap lazim dipakai orang Indonesia dengan meninggalkan nama Jepang-nya.
Memasuki zaman Indonesia merdeka, Menteri Penerangan RIS (Republik Indonesia Serikat) saat itu, yaitu Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, menegaskan bahwa sejak 30 Desember 1949 tak ada lagi sebutan Batavia bagi kota ini. Sejak saat itu, nama Ibu Kota Republik Indonesia adalah Jakarta.