LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATIM

Pengertian Ilmu Kalam dan Sejarah Perkembangannya, Menarik Diketahui

Pengertian ilmu kalam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perkataan atau kata (terutama bagi Allah). Sementara menurut bahasa dalam perspektif tauhid, pengertian ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan/membahas tentang masalah ketuhanan/ketauhidan (Mengesakan Allah).

2022-10-12 12:50:00
Ragam
Advertisement

Pengertian ilmu kalam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perkataan atau kata (terutama bagi Allah). Sementara menurut bahasa dalam perspektif tauhid, pengertian ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan/membahas tentang masalah ketuhanan/ketauhidan (Mengesakan Allah).

Masih banyak sekali pengertian ilmu kalam menurut para ahli yang menarik untuk Anda pelajari. Pun demikian dengan sejarah perkembangan ilmu ketuhanan yang satu ini.Ilmu Kalam menempatkan Tuhan sebagai fokus atau sentral bahasannya. Ilmu kalam dikenal sebagai ilmu keislaman yang berdiri sendiri, yakni pada masa khalifah al-Ma’mun (813-833) dari Bani Abbasiyah.

Menurut Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah Ibnu Khaldun, ilmu kalam adalah ilmu yang mengandung argument-argument rasional untuk membela aqidah-aqidah iman dan mengandung penolakan terhadap golongan bid’ah (perbuatan-perbuatan baru tanpa contoh) yang di dalam aqidah menyimpang dari mazhab salah dan ahli sunnah.

Advertisement

Berikut penjelasan pengertian ilmu kalam selengkapnya.

Pengertian Ilmu Kalam

Menurut ahli tata bahasa Arab dalam Ensiklopedi Islam 2, kalam adalah kata atau lafaz dengan bentuk majemuk (ketentuan atau perjanjian). Secara teknis, kalam adalah alasan atau argumen rasional untuk memperkuat perkataan.

Advertisement

Secara tata bahasa, kalam merupakan kata umum tentang perkataan, sedikit atau banyak, yang dapat digunakan untuk setiap bentuk pembicaraan (likullima yatakallamu bihi); atau ekspresi suara yang berturut-turut hingga pesan-pesan suara itu jelas maksudnya.

Dalam ayat 144 surah al-A’raf, menyebut bi kalami yang ditujukan kepada Nabi Musa AS, menurut al-Baidawi maksudnya bi kalami iyyaka (Aku berbicara langsung kepadamu). Dalam ayat 15 surah al-Fath, kalama Allah diartikan janji atau ketentuan Allah SWT yang harus diikuti oleh seluruh umat manusia.

Sebagai kata benda dari kata taklim, kalam mengandung dua pengertian, yaitu berbicara dan hukum (undang-undang). Ayat 75 surah al-Baqarah, kalam berarti Allah SWT berbicara langsung kepada Nabi Musa AS atau hukum Allah SWT yang dikenal dengan din al-Islam. Ayat 6 surah at-Taubah, kalam adalah firman Allah SWT atau isi yang terkandung dalam agama Islam secara nyata dan menyeluruh.

Pengertian ilmu kalam menurut para ahli pun ada beberapa. Menurut Hasbi al-Shiddieqy dalam buku Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam, pengertian ilmu Tauhid ialah ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menetapkan akidah agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil naqli, aqli ataupun dalil wijdani (perasaan halus).

Musthafa Abd ar-Raziq dalam buku Ilmu Kalam milik Abdul Rozak & Rosihon Anwar, menyebut ilmu kalam dengan beberapa nama, antara lain: ilmu ushuluddin, ilmu tauhid, fiqh al-Akbar, dan teologi Islam.

Disebut ilmu ushuluddin karena ilmu ini membahas tentang pokok-pokok agama. Sementara itu, ilmu tauhid adalah suatu ilmu yang di dalamnya dikaji tentang asma' (nama-nama) dan
sifat yang wajib, mustahil dan ja'iz bagi Allah, juga sifat yang wajib, mustahil dan ja'iz bagi Rasul-Nya.

Ilmu tauhid juga membahas tentang keesaan Allah SWT, dan hal-hal yang berkaitan denganNya. Sementara fiqhul akbar adalah ilmu yang membahas tentang keyakinan. Kondisi seperti ini menunjukkan kepada kita bahwa ilmu kalam sama dengan ilmu tauhid, hanya saja argumentasi ilmu kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan logika. Oleh sebab itu, sebagian teolog membedakan antara ilmu kalam dan ilmu tauhid.

Sementara Ahmad Hanafi dalam buku Teologi Islam (Ilmu Kalam) menyatakan pengertian ilmu kalam ialah ilmu yang membicarakan tentang wujudnya Tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang tidak ada padaNya dan sifat-sifat yang mungkin ada pada-Nya dan membicarakan tentang Rasul-rasul Tuhan, untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang tidak mungkin ada padanya dan sifa-tsifat yang mungkin terdapat padanya.

Sejarah Perkembangan Ilmu Kalam

Menurut Ibnu Khaldun (1333-1406), ilmu Kalam atau ilmu Tauhid ialah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman, dengan menggunakan dalil-dalil fikiran dan berisi bantahan-bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayan salaf dan ahl Sunnah.

Ilmu kalam dikenal sebagai ilmu keislaman yang berdiri sendiri, yakni pada masa khalifah al-Ma’mun (813-833) dari Bani Abbasiyah. Sebelum itu pembahasan terhadap kepercayaan Islam disebut al-fiqhu fi al-din sebagai lawan dari al-fiqhu fi al-‘ilmi.

Setelah itu, ulama-ulama Mu’tazilah mempelajari buku-buku filsafat pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun dan mereka mempertemukan sistem filsafat dengan sistem ilmu kalam, menjadikannya ilmu yang berdiri sendiri di antara ilmu-ilmu yang ada serta menamakannya ilmu kalam.

Ilmu Kalam adalah salah satu bentuk ilmu keislaman Kajian dalam ilmu kalam terfokus pasa aspek ketuhanan (devesivasinya) atau bentuk karena itu disebut teologi dialetika, dan rasional. Secara harfiah kata kalam artinya pembicaraan tetapi bukan dalam arti pembicaraan sehari-hari (omongan) melainkan pembicaraan yang bernalar dan logika (akal).

Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membahas soal-soal keimanan yang sering juga disebut Ilmu Aqaid atau Ilmu Ushuluddin. Ilmu ini adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya ialah disiplindisiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan Falsafah.

Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya kepada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya. Karena itu ia sering diterjemahkan sebagai Teologia, sekalipun sebenarnya tidak seluruhnya sama dengan pengertian Teologia dalam agama Kristen, misalnya.

Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran keislaman, ilmu kalam menempati posisi yang cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum Muslim. Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutan lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai Ilmu Aqd’id (Ilmu Akidah-akidah, yakni, Simpul-simpul [Kepercayaan]), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha-Esaan [Tuhan]), dan Ilmu Ushul al-Din (Ushuluddin, yakni, Ilmu Pokok-pokok Agama).

Sebab Penamaan Ilmu Kalam

Ilmu kalam dinamai demikian karena beberapa sebab, yakni;

1. Persoalan yang terpenting yang menjadi pembicaraan pada abad-abad permulaan Hijriah ialah apakah Kalam Allah (al-Qur’an) itu Qadim atau Hadis. Karena itu keseluruhan ilmu kalam itu dinamai dengan salah satu bagiannya yang terpenting.

2. Dasar ilmu Kalam ialah dalil-dalil fikiran dan pengaruh dalil fikiran ini tampak jelas dalam pembicaraan para Mutakallimin. Mereka jarang mempergunakan dalil naqli (al-Qur’an dan Hadis), kecuali sesudah menetapkan benarnya pokok persoalan terlebih dahulu berdasarkan dalil-dalil fikiran.

Poin lainnya adalah mengapa disiplin ini mendapat sebutan ilmu kalam dan kapan sebutan itu diberikan. Sebagian orang mengatakan bahwa sebutan kalam (secara harfiah, perkataan atau percakapan) diberikan kepada disiplin ini karena disiplin ilmu ini memberikan tambahan kemampuan berbicara dan berargumen kepada orang yang menguasainya.

Sebagian lagi mengatakan bahwa penyebabnya adalah karena para pakar di bidang ilmu ini suka mengawali penuangan fikiran mereka dalam buku-buku mereka dengan ungkapan al-kalamu fi kazda, mengutip Murtadha Muthahhari dalam bukunya yang berjudul Mengenal Ilmu Kalam.

Sebagian lain menjelaskan bahwa sebutan “kalam” diberikan karena disiplin ini membahas topiktopik yang ahli-ahli hadis lebih memilih sikap diam seribu bahasa. Namun, menurut sebagian lain lagi, sebutan ini jadi mode ketika topik apakah alQur’an yang disebut kalamullah (firman Allah) itu makhluk (ciptaan) atau bukan menjadi materi perdebatan seru di kalangan kaum muslimin.

(mdk/edl)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.