Mengenal Kesenian Pangkak, Tradisi Panen Padi dan Perjodohan ala Masyarakat Madura
Kesenian Pangkak memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi perjodohan di lingkungan setempat. Dari zaman dahulu kala, masyarakat tradisional di Kangean, Madura akrab dengan kata perjodohan. Perjodohan diyakini masyarakat setempat bisa mengikat erat tali kekeluargaan serta menjaga harta benda keluarga.
Kesenian Pangkak di Kangean, Madura, Jawa Timur digelar untuk merayakan masa panen padi. Pelaksanaan kesenian tradisi ini menjadi bentuk syukur atas hasil alam yang didapatkan masyarakat melalui pertanian.
Dikutip dari lontarmadura.com, pelaksanaan kesenian Pangkak memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi perjodohan di lingkungan setempat. Dari zaman dahulu kala, masyarakat tradisional di Kangean, Madura akrab dengan kata perjodohan.
Perjodohan diyakini masyarakat setempat bisa mengikat erat tali kekeluargaan serta menjaga harta benda keluarga agar tidak jatuh ke tangan orang asing.
Mengenal Kesenian Pangkak
2019 Merdeka.com/Arie Basuki
Kesenian Pangkak digelar ketika usia padi sudah tua, yang dibuktikan dengan daun yang menguning dan biji padi yang berisi dan batangnya semakin merunduk. Kesenian tradisional Pangkak digelar sebagai penanda musim panen padi telah tiba. Sementara para laki-laki menjadi pelaku kesenian Pangkak, para perempuan memotong padi di sawah.
Pangkak adalah bentuk kesenian gabungan dari musik mulut dan gerak tubuh berupa tari-tarian. Setiap kali digelar, kesenian ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat.
Dikutip dari lontarmadura.com, kesenian Pangkak menunjukkan kegembiraan masyarakat memasuki masa panen padi. Selain itu juga sebagai penyemangat para perempuan yang memanen padi di sawah. Para pemain dalam kesenian Pangkak mengenakan baju putih dan sarung berwarna merah, serta memakai blangkon.
Kesenian Pangkak dan Prosesi Perjodohan
2019 Merdeka.com/Pixabay
Secara tidak langsung, kesenian Pangkak memiliki keterkaitan dengan prosesi pertunangan. Sejumlah desa di Kangean, Madura menjadikan pelaksanaan adat sebagai pilihan untuk melaksanakan hajat hidupnya.
Dalam persoalan meminang gadis sampai pada pelaksanaan pernikahan, terdapat tata krama dan etika yang disepakati bersama oleh masyarakat di suatu daerah. Di Kangean, secara turun-temurun ada proses perjodohan yang harus dilalui.
Dikutip dari lontarmadura.com, orang tua kedua calon tanpa sepengetahuan anak-anaknya membuat kesepakatan pertunangan hingga pernikahan.
Setelah masa panen padi yang dirayakan dengan kesenian Pangkak, tibalah waktu yang tepat untuk menggelar pesta pernikahan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Masa ini merupakan masa bersuka cita.
Menjaga Harta Warisan
2014 Merdeka.com
Secara umum, perjodohan yang terjadi di daerah Kangean dikarenakan kedua belah pihak memiliki hubungan keluarga yang dekat. Perkawinan antara kedua keluarga yang demikian diyakini akan menjadi kekuatan besar.
Selain itu, supaya harta warisan dari para pendahulu tidak berpindah tangan ke luar lingkungan sanak saudara atau bahkan hilang.
Kendatipun tidak seperti dahulu lagi, kemungkinan terjadinya perjodohan masih tetap berlanjut di kalangan masyarakat tradisional. Sementara sebagian masyarakat Kangean lainnya tidak lagi menganut pola perjodohan sedemikian rupa.
Pisang Muda atau Pisang Tua
2016 merdeka.com/gede nadi jaya
Proses meminang dimulai oleh pihak keluarga laki-laki. Mereka melakukan pendekatan dan musyawarah dengan keluarga perempuan. Apabila mendapat respons baik, akan dilanjutkan dengan pertunangan atau peminangan.
Pada kunjungan kedua, keluarga pihak laki-laki membawa bawaan berupa pisang dan nangga sari. Dikutip dari lontarmadura.com, terdapat dua pilihan pisang yang dibawa saat kunjungan kedua ke rumah pihak perempuan.
Pisang muda untuk menandakan bahwa keberlangsungan pernikahan akan terjadi dalam jangka waktu lama. Sebaliknya, pisang tua menjadi tanda bahwasanya pelaksanaan pernikahan digelar dalam waktu dekat.