LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATIM

Mengenal Ampo, Camilan Tradisional Asal Tuban yang Terbuat dari Tanah Liat

Salah satu makanan unik di Jawa Timur berasal dari Kabupaten Tuban. Namanya Ampo, camilan tradisional yang bahan baku utamanya adalah tanah liat.

2020-03-15 14:00:00
Berita
Advertisement

Salah satu makanan unik di Jawa Timur berasal dari Kabupaten Tuban. Namanya Ampo, camilan tradisional yang bahan baku utamanya adalah tanah liat. Tanah yang digunakan untuk membuat Ampo juga bukan sembarang tanah, melainkan harus tanah yang teksturnya lembut dan bebas dari pasir, kerikil, maupun batu.

Selain di Tuban, Jawa Timur, Ampo juga dikenal di daerah Jawa Tengah dan Cirebon, Jawa Barat. Perbedaan Ampo Tuban dengan Ampo Cirebon terletak pada bentuknya. Di Tuban, Ampo memiliki bentuk berupa gulungan panjang dan ramping. Sementara di Cirebon bentuk gulungannya cenderung lebih pendek dan ukurannya lebih besar.

Masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah menyakini bahwa Ampo bisa menguatkan sistem pencernaan dan mendinginkan perut. Hal ini ternyata memang merupakan fungsi dari tanah.

Advertisement

Sebagai catatan, tanah liat yang dimaksud ialah tanah liat yang bersih alias tidak terkontaminasi misalnya oleh kotoran hewan. Tanah yang terkontaminasi kotoran hewan bisa saja mengandung telur parasit seperti cacing gelang. Oleh karena itu, pemilihan tanah untuk membuat Ampo harus dilakukan dengan cermat.

Cara Pembuatan Ampo

Advertisement

2020 Merdeka.com/brilio.net


Untuk membuat Ampo, hal pertama yang harus dilakukan adalah memilih tanah liat yang bersih dari kotoran maupun dari pasir dan kerikil. Setelah itu, membuat adonan dengan cara menambahkan air secukupnya sampai adonan kalis dan tidak lengket di tangan. Untuk membuat adonan berbentuk kotak, tanah liat yang ada ditambahkan air sedikit demi sedikit dan ditumbuk dengan palu dari kayu.

Setelah adonan berbentuk kotak, proses berikutnya yang perlu dilakukan adalah menyerut tanah dari bagian atas dengan menggunakan bilah pisau bambu. Proses menyerut ini harus dilakukan dengan sabar karena memang tanah yang diserut harus sedikit demi sedikit. Hasil serutan itulah yang kemudian disebut Ampo.

Hasil serutan yang sudah berupa Ampo itu kemudian ditempatkan di wadah periuk gerabah tanah liat untuk diasapi di atas tungku berbahan bakar kayu. Proses yang diperlukan untuk mengasapi Ampo ini sekitar 1 jam.

Keuntungan Mengonsumsi Ampo

2020 Merdeka.com

Ampo yang terbuat dari tanah liat bersih memiliki efek membuat kondisi perut menjadi nyaman. Selain itu, tanah liat yang steril juga membantu melindungi tubuh manusia dari serangan virus dan bakteri.

Tanah liat bisa mengikat hal yang berbahaya seperti mikroba, patogen, dan virus. Mengonsumsi camilan tradisional Ampo bisa menjadi tameng untuk melindungi usus manusia dari serangan virus dan bakteri.

Kerugian yang Mungkin Ditimbulkan

Shutterstock/Sebastian Kaulitzki

Masalahnya, tidak bisa dipastikan tanah yang digunakan untuk membuat Ampo benar-benar steril atau tidak. Nahas apabila tanah yang digunakan sebagai bahan baku Ampo ternyata terkontaminasi kotoran hewan atau manusia. Kemungkinan ada telur parasit seperti cacing gelang yang hidup di dalamnya. Tanah yang terkontaminasi kotoran juga rentan menimbulkan tetanus.

Sebagian masyarakat yang mengonsumsi tanah sudah paham risiko-risiko sebagaimana tersebut di atas. Anak-anak yang gemar mengonsumsi Ampo juga lebih rentan terhadap infeksi cacing.

Selain itu, mengonsumsi tanah juga bisa merusak enamel gigi, kemungkinan menelan berbagai macam bakteri, serta obstruksi usus. Kendatipun demikian, proses pengolahan tanah yang cukup bagus dengan cara memasak atau memanggangnya dapat mengurangi kadar risiko yang mungkin timbul.

Asal Mula Camilan Tradisional Ampo

2018 Merdeka.com

Sebagaimana dikutip Merdeka dari timurjawa.com, kebiasaan memakan Ampo bermula dari masyarakat Trowulan, Kabupaten Tuban. Ampo menjadi menu alternatif yang dipilih menghadapi masa-masa sulit pendudukan Belanda di kawasan Tuban.

Sebelum kedatangan Belanda, Tuban merupakan kota pelabuhan yang kaya raya. Kawasan ini menjadi jalur perdagangan penting yang disinggahi saudagar dari berbagai penjuru dunia sampai kemudian masa penjajahan tiba. Pemberlakukan sistem tanam paksa menyebabkan masyarakat Tuban jatuh dalam ceruk kemiskinan, kesulitan pangan, dan dilanda bencana kelaparan.

Harga bahan pokok seperti beras sangat mahal dan tidak lagi bisa dijangkau masyarakat Tuban. Keadaan itu membuat masyarakat Tuban memutar otak untuk tetap bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dari situlah, olahan Ampo muncul.

Ampo yang pertama kali ditemukan tidak dimasak terlebih dahulu. Ampo awalnya dibuat dari endapan lumpur dari air di tepi sungai Bengawan Solo. Endapan lumpur itu adalah tanah aluvial yang berbahan lempung. Endapan lumpur halus itu ditunggu hingga mengering untuk kemudian dikonsumsi.

Pada perkembangannya, masyarakat Tuban membuat Ampo dari endapan air tanah sawah dengan bahan dasar lempung di Desa Bektiharjo. Perbedaannya, tanah lempung yang sudah dikumpulkan itu diolah dahulu dengan cara diasapkan di atas tungku api.

(mdk/rka)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.