Lilies Handayani, Atlet Panahan Penyumbang Medali Olimpiade Pertama Indonesia
Di dunia olahraga Indonesia, nama Lilies Handayani sudah tak asing lagi. Lilies merupakan atlet panahan andalan Indonesia di masa silam. Ia juga menjadi atlet pahanan yang merebut medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade Seoul 1988.
Di dunia olahraga Indonesia, nama Lilies Handayani sudah tak asing lagi. Lilies merupakan atlet panahan andalan Indonesia di masa silam. Ia juga menjadi atlet pahanan yang merebut medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade Seoul 1988.
Kendati sudah tidak aktif bertanding di lapangan, Lilies tetap berkegiatan di cabang olahraga panahan. Bersama sang suami, ia mendirikan sekolah khusus panahan yang bernama Srikandi Archery School (SAS).
Sementara itu, putri Lilies, Dellie Threesyandinda mewarisi perjuangan ibunya di cabang olahraga panahan. Dinda, sapaan akrab Dellie Threesyandinda, termasuk sosok atlet yang mencolok di helatan Asian Games 2018 lalu, seperti dikutip dari Liputan6.com.
Raih Medali Pertama untuk Indonesia
©2020 Merdeka.com/Instagram @lies_archer
Di bawah bimbingan atlet panahan senior Donald Pandiangan, Lilies bersama Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani berhasil merebut medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Medali yang berhasil mereka bawa pulang yaitu medali perak.
Perempuan kelahiran Surabaya, 15 April 1965 itu dikenal sebagai sosok pekerja keras. Ia juga dikenal sangat fokus melakukan upaya-upaya untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
Atlet yang terkenal sebagai primadona di kalangan atlet nasional era 1980-an itu memiliki banyak keterampilan. Di antaranya memasak, menjahit, melukis, bercocok tanam, dan desain interior.
Peran Orang Tua
©2020 Merdeka.com/Instagram @lies_archer
Mantan atlet panahan nasional itu mengaku bahwasanya peran orang tua sangat besar dalam keberhasilan atlet panahan. Kebetulan ibu Lilies juga mantan atlet panahan nasional di tahun 1969. Sementara ayahnya seorang atlet pencak silat.
Awalnya, Lilies menekuni dunia pencak silat. Suatu hari, ibunya berujar bahwasanya untuk menjadi juara pencak silat, seorang atlet harus babak belur terlebih dahulu. Sementara di cabang olahraga panahan, sang juara tidak perlu babak belur.
Setiap kali Lilies mulai putus asa, orang tuanya selalu memberi nasihat-nasihat pelecut semangat. Mental Lilies akhirnya terbentuk kokoh. Belum terlalu lama setelah keputusannya terjun ke cabang olahraga panahan, ia berhasil merebut 1 medali emas dan 2 medali perunggu di kejuaraan nasional yang digelar di Bandung. Sejak itu kariernya terus meningkat hingga berhasil merebut medali perak Olimpiade 1988.
Keluarga Atlet
©2020 Merdeka.com/Instagram @lies_archer
Lilies Handayani menikah dengan Denny Trisyanto, mantan atlet pencak silat. Saat ini, Denny menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Daerah PERPANI Jawa Timur sekaligus Kepala Pelatih Nasional Cabang Olahraga Panahan.
Anak sulungnya, Dellie Threesyadinda bergelut di cabang olahraga panahan sejak usia 7 tahun. Dinda telah menorehkan banyak prestasi di bidang panahan. Beberapa di antaranya yaitu Perak Archery World Cup 2008 di Inggris, Emas Sea Games 2013 di Myanmar dan Perunggu Archery World Cup di Turkey.
Anak-Anak Berprestasi
©2020 Merdeka.com/Instagram @delliedinda
Senada, anak keduanya, Irvaldi Ananda Putra juga menekuni cabang olahraga panahan di usia 7 tahun. Prestasi Irvaldi di antaranya Peraih Medali Perunggu PON 2012 di Riau dan Emas PON 2016 di Bandung.
Anak ketiganya, Della Adisty Handayani (28 Juni 1997) bahkan mulai terjun ke cabang olahraga panahan di usia 5 tahun. Prestasi yang dirahi Della di cabang olahraga panahan antara lain meraih Medali Emas PON 2012 di Riau, Emas Sea Games 2013 di Myanmar, dan Perunggu PON 2016 di Bandung.
Dirikan Sekolah Panahan
©2020 Merdeka.com/Instagram @lies_archer
Menurut Lilies, kurangnya sosialisasi dan pengetahuan masyarakat mengenai cabang olahraga panahan membuat olahraga ini tak banyak diminati. Oleh karena itu, ia dan sang suami mendidikan sekolah panahan Srikandi Archery School (SAS) di Kota Surabaya.
Melalui sekolah yang didirikan pada tahun 1998 itu, Lilies ingin mengembangkan panahan di Indonesia. Di tahun 2017, sekolah panahan ini resmi berevolusi menjadi Lilies Handayani Srikandi Archery School (LHSAS) dan pengelolaannya dilakukan secara profesional.
LHSAS berhasil melahirkan para pemanah sukses. Mereka berprestasi tidak hanya di kancan nasional, tetapi juga di tingkat internasional. Seperti PON, Sea Games, Asian Games, Archery World Cup, dan lain sebagainya.
Terinspirasi dari Korea
©2020 Merdeka.com/Instagram @lies_archer
Dikutip dari lilieshandayani.com, Ide mendirikan sekolah panahan terbersit ketika Lilies berkunjung ke Korea Selatan. Di sana ia melihat banyak sekali peminat panahan di kalangan anak-anak.
Sepulangnya dari Korea Selatan, ia dan sang suami mendirikan sekolah panahan pertama di Indonesia. Di sekolah itu, cabang olahraga panahan juga diajarkan pada anak-anak.
Pada Tahun 2017, sekolah panahan ini berevolusi menjadi Lilies Handayani Srikandi Archery School (LHSAS). Penyematan nama “Lilies Handayani” dipercaya bisa menumbuhkan semangat seorang juara. Serta mendorong atlet-atlet untuk memperoleh prestasi yang lebih tinggi.