Lagu Kartonyono Medot Janji Punya Arti Penting untuk Ngawi, Ini Alasannya
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi diminta mengintensifkan promosi “Kartonyono Medot Janji” karya Denny Caknan. Ini alasannya.
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi mengintensifkan promosi “Kartonyono Medot Janji” karya Denny Caknan. Promosi melalui ikonik itu diharapkan menjadi salah satu upaya meningkatkan kunjungan wisata ke Kabupaten Ngawi.
“Harus banyak dimunculkan ‘Kartonyono Medot Janji’, dan dikuatkan bahwa itu punya Kabupaten Ngawi di Jatim, bukan daerah atau provinsi lain,” ujarnya di Surabaya, Minggu (7/3/2021) mengutip dari ANTARA.
Daya Tarik Wisatawan
©2021 Merdeka.com/YouTube DENNY CAKNAN
Menurut Khofifah, pendekatan budaya melalui seni atau musik bisa menjadi daya tarik tinggi untuk mendatangkan wisatawan. Selanjutnya, banyaknya wisatawan yang datang otomatis berbanding lurus dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat setempat.
Terlebih, lanjut mantan Menteri Sosial itu, Denny Caknan pelantun lagu tersebut pernah bekerja di Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Ngawi.
“Tugunya (Tugu Kartonyono) ada di Ngawi, Mas Denny juga dari sana. Harus maksimalkan untuk kemajuan dan kesejahteraan Ngawi,” ujar gubernur perempuan pertama di Jatim itu.
Wisata Andalan Ngawi
©2020 Merdeka.com/situsbudaya.id
Harapan itu juga telah disampaikan Gubernur Khofifah di hadapan bupati dan wakil bupati, pimpinan serta anggota DPRD Ngawi saat serah terima jabatan di Pendopo Pemkab Ngawi pada Kamis (4/3) malam.
Bahkan, dalam kesempatan tersebut, Khofifah sempat memutarkan lagu Kartonyono Medot Janji di bagian reff-nya. Pejabat setempat pun menyambutnya dengan riuh.
Selain Kartonyono, ungkap Khofifah, di Ngawi juga terdapat sejumlah destinasi wisata lain yang memiliki nilai sejarah tinggi, seperti Benteng Van Den Bosch dan Museum Trinil. Selain itu, ada pula wisata Waduk Pondok.
Di bidang kuliner, Ngawi memiliki Kebun Teh Jamus yang terletak di lereng Gunung Lawu sebelah utara. Kebun Teh yang terletak di Desa Girikerto, Kecamatan Sine itu luasnya mencapai 478 hektare.
“Teh di sana ada rasa semacam kopi. Inikan aneh, sebab minumnya teh, tapi rasanya kopi. Kalau tidak di Ngawi ya tidak ada,” ujar Khofifah.
Pasar Ekspor
Ngawi juga memiliki keunggulan di bidang kerajinan jati. Bahkan ada galeri khusus kerajinan jati yakni Kerajinan Gembol di Jalan Raya Solo-Ngawi KM 16.
Warga yang tinggal di kawasan hutan jati itu memiliki keterampilan dan kreativitas mengolah limbah kayu menjadi kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Produk kerajinan dari galeri Gembol ini menjangkau kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Surabaya, Solo, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta. Bahkan, banyak pula yang dikirim ke Bali.
Tidak hanya itu, produk kerajinan kayu dari Ngawi itu juga sudah menembus pasar dunia seperti Jepang, Spanyol, Belanda dan Prancis.