Kudeta Adalah Perebutan Pemerintahan Secara Paksa,Simak Sejarahnya di Berbagai Negara
Kudeta adalah perebutan kekuasaan pemerintah secara paksa, yang pernah terjadi di berbagai negara di dunia. Berikut ini kami telah rangkum sejarah kudeta di berbagai negara di dunia.
Pergantian rezim memang dapat dilakukan dengan berbagai cara dan latar belakang. Ada yang berlangsung normal karena berakhirnya masa jabatan presiden, tetapi ada juga yang terjadi akibat konflik. Tidak jarang pergantian rezim dilakukan secara paksa. Pergantian semacam itu dikenal dengan istilah kudeta.
Kudeta adalah perebutan kekuasaan pemerintah secara paksa, yang pernah terjadi di berbagai negara di dunia. Di Indonesia yang menganut sistem presidensial, pergantian rezim dilakukan setiap lima tahun sekali melalui pemilu. Jabatan presiden untuk dua periode. Hal ini sesuai dengan Pasal 7 UUD 1945 Perubahan Keempat.
Sementara, pergantian rezim di tengah masa jabatan presiden telah diatur di dalam konstitusi. Berdasarkan konstitusi yang berlaku di Indonesia dan mengacu kepada pasal 7A UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 menyebutkan bahwa impeachment bisa dilakukan terhadap presiden ataupun wakil presiden saja.
Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh MPR atas usul DPR, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun, apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.
Dari penjelasan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa negara kita Indonesia tidak mengatur mengenai pergantian rezim atau kudeta yang dilakukan secara paksa. Tetapi dalam sejarahnya, berbagai negara di dunia pernah mengalami kudeta saat masa pemerintahannya berjalan.
Dilansir dari laman Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, berikut ini kami telah rangkum sejarah kudeta di berbagai negara di dunia.
Kudeta di Thailand
Kudeta adalah perebutan kekuasaan secara paksa dan pernah terjadi di negara Thailand. Adanya krisis politik yang berkepanjangan menyebabkan munculnya kudeta dan ingin menumbangkan Perdana Menteri saat itu Thaksin Shinawatra.
Kudeta terjadi tahun 2006 karena krisis politik berkepanjangan yang melibatkan Thaksin Shinawatra dengan lawan politiknya. Militer melancarkan kudeta sebulan sebelum dilaksanakannya pemilu, rencananya digelar pada 15 Oktober.
Kudeta ini, tidak hanya membatalkan pemilu yang akan berlangsung, tapi juga membatalkan konstitusi, membubarkan parlemen, melarang adanya unjuk rasa, mengumumkan Undang-Undang dalam keadaan darurat, menangkap para anggota kabinet, dan juga memberlakukan sensor terhadap semua siaran lokal ataupun internasional di Thailand.
Kudeta Mauritania
Kudeta adalah adanya upaya penumbangan rezim atau kekuasaan suatu negara, dan pernah terjadi di negara Mauritania. Kudeta ini dilakukan pada tahun 2008 terhadap Pemerintahan Presiden Sidi Muhammad Ould Cheikh Abdallahi. Kudeta ini dipicu adanya pemecatan 4 orang pejabat militer oleh Abdallahi bersama dengan Perdana Menteri yahya Ould Ahmed Waqef.
Pemecatan dilakukan karena pejabat militer ini dicurigai berada di balik berbagai krisis politik yang mengganggu stabilitas negeri itu. Abdallahi terpilih sebagai Presiden Mauritania dalam pemilu demokratis tahun 2007, setelah masa transisi dari Dewan Militer tahun 2005 menggulingkan Presiden Maaouya Sid'Ahmed Taya juga dengan kudeta tidak berdarah.
Sidi Mohamed Ould Cheikh Abdallahi adalah politikus dan Presiden Mauritania dengan masa jabatan, dari 19 April 2007 hingga 6 Agustus 2008. Ironinya, Jenderal Abdul Aziz dan Kepala Angkatan Bersenjata Mauritania, Ould Cheikh Muhammad Ahmed adalah anggota dewan transisi yang mengantarkan Abdallahi menjadi presiden.
Walau pasukan militer memenuhi jalan-jalan kota dan menguasai keadaan, kudeta berjalan tanpa pertumpahan darah. Dalam kudeta itu, Abdallahi dan Yahya sempat disandera sekelompok militer di dalam Istana Negara. Pada saat itu, lebih dari separuh anggota parlemen Mauritania menuntut Abdallahi mundur dari jabatannya.
Kudeta Sudan
Kudeta adalah upaya perebuatan kekuasaan secara paksa dan juga pernah terjadi di negara Sudan. Kudeta ini terjadi pada tanggal 30 Juni 1989 yang dipimpin oleh Omar Hasan Albashir dan berupaya menggulingkan pemerintahan koalisi Sadiq Al-Mahdi yang telah terpilih dalam pemilu.
Setelah berhasil melakukan kudeta, Al-Bashir sendiri kemudian membentuk Pasukan Revolusi Penyelamat Bangsa (RCC), dan mengangkat dirinya sendiri sebagai Panglima Besar Militer. Hasan Albashir dikenal sebagai sosok diktator, karena dia mengatasi persoalan perang saudara yang terjadi di Sudan dengan keras.
Kudeta Uganda
Terjadi pada 25 Januari 1971 dipimpin oleh Jenderal Idi Amin Dada Oumee terhadap Presiden Milton Obote. Pengambilalihan kekuasaan terjadi ketika Obote menghadiri konferensi Kepala Negara Persemakmuran di Singapura.
Peristiwa kudeta yang dilancarkan Idi Amin membuat negara kecil di Afrika itu menjadi terkenal di dunia internasional. Sepak terjang Idi Amin dalam memimpin negaranya dengan tangan besi itu sering mewarnai pemberitaan di media.
Kudeta di Uganda termasuk kudeta yang diwarnai pertumpahan darah, karena banyak memakan korban jiwa dari kedua kubu pendukung. Idi Amin juga memerintahkan untuk membunuh semua tentara dan perwira yang masih mendukung Milton Obote. Sebaliknya, Milotn Obote juga melakukan perlawanan bersama pendukungnya.
Hingga pada akhirya, pemerintahan Idi Amin ditumbangkan juga melalui kudeta yang dilaksanakan oleh tentara nasionalis Uganda yang didukung Tanzania. Idi Amin kemudian melarikan diri ke Libya dan mendapatkan suaka politik di Jeddah, Arab Saudi.