LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATIM

Kisah Mbah Jabbar Tuban, Cucu Joko Tingkir yang Dianggap Musuh Besar Penjajah Belanda

Mbah Jabbar adalah keturunan bangsawan dan cucu Joko Tingkir. Begini kisah hidupnya yang dikenal sebagai musuh besar Penjajah Belanda.

2022-01-26 10:21:00
Jawa Timur
Advertisement

Syekh Abdul Jabbar atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Jabbar memiliki nama asli Pangeran Sumoyudo. Ia merupakan keturunan bangsawan dari nasab raja-raja Jawa. Dilihat dari garis keturunan jalur nenek maupun kakek, ia masih keturunan Raja Brawijaya V yakni Adipati Joyodiningrat.

Dikutip dari Manuskrip Gresik, Mbah Jabbar adalah anak dari Pangeran Benowo II sekaligus cucu Sulitan Hadiwijoyo (Joko Tingkir). Ia merupakan anak terakhir dari lima bersaudara.

Kakak pertamanya seorang perempuan bernama Ratu Emas. Selanjutnya, secara berturut-turut lahir bayi laki-laki bernama Pangeran Pringgodani alias Kyai Pengging, Pangeran Pringgokusumo alias Kyai Mojo, dan Pangeran Dadung Kusumo. Terakhir, lahirlah Pangeran Sumoyudo alias Mbah Jabbar.

Advertisement

Musuh Besar Belanda

©2022 Merdeka.com/Dok. Syakal IAIN Kediri

Advertisement

Tempat dan tanggal kelahiran Syekh Abdul Jabbar tidak diketahui secara pasti. Namun, dilihat dari masa kehidupan leluhurnya, diperkirakan Mbah Jabbar lahir di Pajang (wilayah Surakarta).

Peneliti dan penulis sejarah, Agus Sunyoto mengungkapkan bahwa Kerajaan Mataram pernah mempunyai seorang utusan bernama Pangeran Sumoyudo.

Mbah Jabbar dikenal sebagai Waliyullah dan panglima perang. Ia juga dianggap musuh besar Penjajah Belanda.

Suatu hari terjadi pertempuran sengit antara Mbah Jabbar dengan pihak Penjajah Belanda. Mbah Jabbar mengalami kekalahan kemudian melarikan diri dari Pajang menuju daerah Nglirip, Dusun Jojogan, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban.

Di sana ia tinggal di rumah seorang tokoh dan ahli ilmu kanuragan bernama Mbah Sarkowi alias Mbah Ganyong. Dari sinilah babak baru kehidupan Syekh Abdul Jabbar dimulai.

Pusat Aktivitas

©2022 Merdeka.com/Dok. Syakal IAIN Kediri

Mbah Jabbar menjadikan daerah Jojogan sebagai pusat aktivitasnya. Salah satu tempat yang menjadi pusat kegiatannya bernama Kedung Banteng.

Menurut cerita lisan yang berkembang di masyarakat Jojogan, Kedung Banteng adalah gudang pusaka dan tempat penyimpanan barang-barang kerajaan.

Kedung Banteng terletak di dalam hutan di pinggir kali sebelah utara air Sumber Krawak. Konon, tempat ini juga digunakan sebagai pertapaan dan markas agresi Mbah Jabbar melawan Penjajah Belanda.

Tempat tersebut menjadi bukti sejarah bahwa Mbah Jabbar adalah musuh besar dan buronan Penjajah Belanda. Ia pernah mengelabui Penjajah Belanda dengan mengganti namanya menjadi Purboyo.

Dikutip dari buku Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmoni (2013, hlm. 195-200), Mbah Jabbar meninggal dimakamkan di bukit Nglirip, Dusun Jojogan. Makamnya diapit oleh makam kedua istrinya.

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, sesaat setelah meninggal menyeruak aroma wangi dari jasad Mbah Jabbar. Bahkan, aroma wangi itu tercium sampai ke luar desa.

(mdk/rka)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.