LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATIM

Kisah Desa Begaganlimo Mojokerto, Dulu Hutan Belantara Jarang Dilewati Manusia

Sejarah Desa Begaganlimo tak bisa dipisahkan dari kisah lima pengikut Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari kepungan tentara Kerajaan Belanda. Kawasan desa tersebut dulunya adalah hutan yang jarang dilewati manusia. Ini kisah selengkapnya.

2021-12-31 10:49:00
Jatim
Advertisement

Desa Begaganlimo di Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur berdiri pada zaman Mataram Islam, tepatnya pada masa perang Diponegoro (1825-1830). Meski demikian, cikal bakal desa ini bisa dirunut hingga zaman Kerajaan Kerajaan Kahuripan Kediri-Jenggala-Singasari-Majapahit.

Desa di ujung selatan Kabupaten Mojokerto itu berada di lembah yang memotong pegunungan di lereng barat Gunung Arjuno-Gunung Welirang.

Desa Begaganlimo terletak di sisi utara hutan yang kini menjadi perbatasan antara Kabupaten Mojokerto dengan Kabupaten Malang (dulu kerajaan Singasari) bagian Barat.

Advertisement

Lembah di hutan tersebut dulunya adalah salah satu rute purba yang menghubungkan wilayah Singasari-Kediri di selatan dengan wilayah kerajaan-kerajaan di bagian utara, yaitu Jenggala/Kahuripan (sekarang sekitar Kabupaten Sidoarjo) dan Majapahit (sekarang Mojokerto).

Tempat Pelarian

Advertisement

©2021 Merdeka.com/Dok. LPPM Universitas Kristen Petra

Diceritakan para pengikut Pangeran Diponegoro yang terdesak oleh tentara Kerajaan Belanda yang ada di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) melarikan diri ke beberapa daerah.

Mereka yang lari ke arah timur memutuskan berhenti di pegunungan di sekitar gunung Kawi, Arjuno, dan Welirang di wilayah Jawa bagian timur (sekarang Jawa Timur).

Ada lima saudara yang merupakan pasukan Pangeran Diponegoro yang berhenti di hutan di selatan kota Mojokerto itu. Kelima orang tersebut menggunakan pakaian bercorak Islam sebagaimana corak pakaian yang menjadi ciri khas Pangeran Diponegoro.

Ribut Basuki, dkk, dalam buku berjudul Warisan Budaya dan Potensi Wisata Desa Begaganlimo (LPPM Universitas Kristen Petra, 2020) menjelaskan, lima orang pasukan Pangeran Diponegoro itu disebut dengan gelar Begawan yang merujuk pada konteks sisa-sisa Hindu-Budha di wilayah bekas Majapahit tempat mereka melarikan diri.

Nama Desa Begaganlimo berasal dari kata ‘Begawan Limo’ yang merujuk pada kelima pasukan Pangeran Diponegoro. Mereka dianggap sebagai orang yang melakukan babat alas alias membuka Desa Begaganlimo.

Dulu Hutan Belantara

©2021 Merdeka.com/Dok. LPPM Universitas Kristen Petra

Wilayah hutan yang kemudian menjadi Desa Begaganlimo bukanlah hutan belantara yang tidak pernah dilewati manusia. Dalam sejarah sebelumnya, ada Desa Sentono yang keberadaannya lebih jauh di dalam hutan yakni di perbatasan antara wilayah Mojokerto (bekas Kerajaan Majapahit) dan Malang (bekas Kerajaan Singasari) bagian barat yang berbatasan dengan Kediri (bekas Kerajaan Kediri).

Sementara itu, lima begawan yang disebut sebagai pembuka Desa Begaganlimo itu kemudian berpencar untuk membuka padepokan masing-masing. Mbah Paniah membuka padepokan di Pandan Sari, Kyai Pacet membuka Padepokan di daerah Pacet, Mbah Sinar membuka padepokan di daerah Manting. Sementara seorang begawan yang tinggal di Begaganlimo dikenal sebagai Mbah Sari.

Menurut catatan desa, Mbah Sari memiliki nama asli Muhammad Asy’ari. Ia dikenal sebagai pendiri Desa Begaganlimo sekitar 1865 hingga 1865.

Setelah kepemimpinan Mbah Sari, jabatan pemerintahan tertinggi di Begaganlimo secara berturut-turut dijabat oleh Begel Durrahim (1865-1885), Lurah Karim (1885-1925), Lurah Ki Suto Karyo (1925-1980) dan Lurah Wartoyo (1980-2000).

Tokoh ke lima ialah Mbah Klurak. Ia membangun padepokan di Desa Sentono yang kini tinggal sisa-sisa peninggalan di tengah hutan. Masyarakat Desa Begaganlimo menjadikan bekas padepokan Mbah Klurak sebagai punden.

Setiap kali ruwat desa atau bersih desa, beberapa orang Desa Begaganlimo masih memperingatinya di punden di bekas Desa Sentono ini. Mereka membawa tumpeng ke punden sebelum ke punden Mbah Sari di Desa Begaganlimo.

Biasanya, dalam ruwat desa, masyarakat Begaganlimo adakalanya juga menggelar pertunjukan budaya Wayang Kulit.

(mdk/rka)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.