LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATIM

Kisah Angling Dharma, Raja Mirip Nabi Sulaiman yang Gelisah hingga Akhir Hayat

Dalam cerita rakyat, Angling Dharma ialah sosok raja yang memiliki kemampuan berbicara dalam bahasa binatang. Selain itu, ada kisah menarik mengenai Angling Dharma yakni saat ia hendak meninggal dunia dan kemudian dipercaya mengalami moksa.

2021-08-04 12:42:00
Jawa Timur
Advertisement

Dalam cerita rakyat, Angling Dharma ialah sosok raja yang memiliki kemampuan berbicara dalam bahasa binatang. Perjalanannya hingga memiliki kemampuan seperti Nabi Sulaiman itu sering dikisahkan dalam seni pertunjukan.

Namun, di luar cerita tersebut, ada kisah menarik mengenai Angling Dharma yakni saat ia hendak meninggal dunia dan kemudian dipercaya mengalami moksa.

Advertisement

Pertentangan Batin

©2021 Merdeka.com/jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id

Gilang Bima Nugraha, dalang muda asal Kediri mementaskan lakon Angling Dharma Muksa dalam pagelaran wayang kulit periodic di Pendopo Jayengrono, Taman Budaya Jawa Timur yang berlokasi di Jalan Genteng Kali, Kota Surabaya pada Sabtu (24/2/2018).

Advertisement

Lakon ini menceritakan tentang kehidupan Angling Dharma sebelum meninggal dunia. Ia merasakan gelisah dan mengalami pertentangan batin hingga akhir hayat.

Pasalnya, Angling Dharma harus memilih satu dari dua hal yang sama-sama berat baginya. Antara kasih sayang anaknya yang bernama Angling Kusuma dengan amanat sepupunya, Prabu Jaya Amisena dari Kediri.

Prabu Jaya Amisena menitipkan kerajaan kepada Angling Dharma dengan harapan ketika putrinya, Kusumawicitra dewasa, kerajaan tersebut dikembalikan kepadanya.

Dikutip dari Majalah Seni Budaya Jawa Timur edisi 5 Maret 2018, cerita Angling Dharma merupakan salah satu cerita Wayang Madya yang terkenal. Bentuk figurnya merupakan perpaduan antara Wayang Purwa dan Wayang Gedog. Bagian bawahnya meniru Wayang Gedog yakni berkain rapekan dan memakai keris.

Gilang berharap, pertunjukan yang digelar akan membuat Wayang Madya lebih dikenal masyarakat.  “Kan wayang tidak hanya purwo saja. Di samping itu juga agar masyarakat mengetahui dan memahami sejarah Anglingdarma,” ungkapnya.

(mdk/rka)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.