LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATIM

Dibangun Raja Lucu yang Dicintai Rakyat, Begini Keunikan Candi Badut di Malang

Menurut sebagian ahli purbakala, Candi Badut dibangun atas perintah Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruan. Raja tersebut disebut memiliki perangai gemar melucu. Hal inilah yang kemudian menjadi alasan penamaan candi.

2021-07-21 17:25:00
Jawa Timur
Advertisement

Candi Badut yang terletak di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur ditemukan pakar arkeologi pada tahun 1923. Bangunan bersejarah yang juga disebut Candi Liswa itu diduga dibangun jauh sebelum masa pemerintahan Airlangga atau masa dimulainya pembangunan candi-candi di Jawa Timur. Dengan demikian, ada dugaan bahwa Candi Badut merupakan candi tertua di Jawa Timur.

Menurut sebagian ahli purbakala, Candi Badut dibangun atas perintah Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruan.

Advertisement

Penamaan Candi Badut

©2021 Merdeka.com/Perpusnas Indonesia

Kerajaan Kanjuruan mengalami puncak kejayaan di bawah pimpinan Raja Dewasimba dan putranya Sang Liswa. Kedua raja tersebut sangat dicintai rakyatnya karena terkenal adil dan bijaksana.

Advertisement

Sang Liswa yang bergelar Raja Gajayana sangat senang melucu (bahasa Jawa: mbadhut), sehingga candi yang dibangun atas perintahnya dinamakan Candi Badut. Namun, hingga kini belum ditemukan bukti kuat yang menunjukkan keterkaitan Candi Badut dengan Raja Gajayana, sebagaimana dilansir candi.perpusnas.go.id.

Beda dari Candi Lain

©2021 Merdeka.com/Perpusnas Indonesia

Selain usia yang lebih tua dibanding candi lain, Candi Badut juga memiliki ciri khas lain yakni pahatan kalamakara yang menghiasi ambang pintu.

Umumnya, relief kepala raksasa yang terdapat di candi-candi Jawa Timur dibuat lengkap dengan rahang bawah. Namun, kalamakara pada Candi Badut dibuat tanpa rahang bawah, mirip dengan yang ada pada candi-candi di Jawa tengah.

Selain itu, tubuh Candi Badut yang tambun juga mirip candi di Jawa Tengah. Candi ini memiliki kemiripan dengan Candi Dieng (di Jawa Tengah) berupa bentuk relief yang simetris. Candi Badut diyakini sebagai candi Syiwa, meskipun hingga kini belum ditemukan arca Agastya di dalamnya.

Bangunan Candi

©2021 Merdeka.com/Perpusnas Indonesia

Bangunan bersejarah itu terbuat dari batu andesit dan berdiri di atas batur setinggi 2 meter. Batur tersebut sangat sederhana tanpa hiasan relief, membentuk selasar selebar sekitar 1 meter di sekeliling tubuh candi. Di sisi kanan bagian depan batur terdapat pahatan tulisan Jawa (hanacaraka) yang tidak jelas waktu pembuatannya.

Tangga menuju selasar di kaki candi terletak di sisi barat, tepat di hadapan pintu masuk ke ruang utama pada tubuh candi. Pada bagian luar dinding pengapit tangga terdapat ukiran yang sudah tidak utuh, namun masih terlihat adanya pola sulur-sulur yang mengelilingi menggambarkan sosok orang sedang meniup seruling.

Jalan masuk ke ruang dalam tubuh candi dilengkapi bilik penampil sepanjang sekitar 1,5 meter. Pintu masuknya cukup lebar dengan hiasan kalamakara di atas ambang pintu.

Dalam tubuh candi terdapat ruangan seluas sekitar 5,53 x 3,67 meter2. Di tengah ruangan terdapat lingga dan yoni yang merupakan lambang kesuburan. Pada dinding di sekeliling ruangan terdapat relung-relung kecil diduga semula berisi arca.

Dinding candi dihiasi dengan relief burung berkepala manusia dan peniup seruling. Pada keempat sisi tubuh candi juga terdapat relung-relung berhiaskan bunga dan burung berkepala manusia.

Di dinding luar sisi utara tubuh candi terdapat arca Durga Mahisasuramardini, namun kondisinya sudah rusak. Di sisi selatan seharusnya terdapat arca Syiwa Guru dan di sisi timur seharusnya terdapat arca Ganesha. Namun, kedua arca tersebut sudah tidak ada di sana.

Pemugaran

©2021 Merdeka.com/Perpusnas Indonesia

Candi Badut pernah mengalami pemugaran pada tahun 1925-1926. Meski demikian, sudah banyak bagian yang hilang atau belum dapat dikembalikan ke bentuk asalnya. Misalnya, atap bangunan utama yang sudah tidak ada di tempatnya. Hanya pelipit di sepanjang tepi atas dinding yang masih tersisa.

Di bagian barat pelataran tepatnya di sisi kiri dan kanan halaman depan bangunan candi yang sudah dipugar terdapat fondasi bangunan lain yang masih belum dipugar. Selain itu, masih banyak onggokan batu di sekeliling pelataran candi yang belum dapat dikembalikan ke tempatnya semula.

(mdk/rka)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.