Cerita Bisnis Aquascape di Malang, Omzet Ratusan Juta di Awal Pandemi Kini Anjlok
Bisnis aquascape di Malang sempat mencapai omzet ratusan juta di awal pandemi. Namun, gelombang kedua Covid-19 di Indonesia menyebabkan penghasilan toko aquascape menurun drastis, bahkan lebih rendah daripada kondisi normal sebelum pandemi. Ini kabar selengkapnya.
Salah satu hobi yang popularitasnya naik di tengah pandemi Covid-19 adalah aquascape. Seorang penghobi aquascape di Kota Malang, Jawa Timur, Ricko Aditya (39) mengungkapkan, ia tidak pernah mengira akan memiliki hobi aquascape. Kegemaran itu baru muncul di tengah situasi pandemi.
Pandemi Covid-19 mengharuskannya bekerja dari rumah. Setelah beberapa bulan bekerja dari rumah, ia dan keluarga merasa jenuh dengan rutinitas kesehariannya. Pasalnya, kegiatan yang bisa dilakukan di rumah selama pandemi terbatas.
"Saat itu setelah beberapa bulan saya WFH, kondisi sudah mulai jenuh. Anak saya juga sekolah online, dan dia meminta sebuah aquarium untuk memelihara ikan," tuturnya, dikutip dari Antara (25/9/2021).
Awal Tertarik
©2020 Merdeka.com/Dwi Narwoko
Merespons permintaan sang buah hati, Ricko kemudian mengunjungi salah satu toko akuarium yang ada di Kota Malang. Rupanya toko tersebut tidak hanya menjual akuarium dan ikan saja, tetapi juga memamerkan sejumlah aquascape yang menarik.
"Akhirnya saya juga tertarik. Namun berbeda dengan anak saya, saya lebih menyukai aquascape ketimbang memelihara ikan. Kalau untuk total uang yang saya habiskan, cukup banyak," imbuhnya sembari tertawa.
Peminat Aquascape Melonjak
Pengelola Aquajaya Chapter Malang, Priya Eka Nugraha mengatakan, di awal pandemi Covid-19, peminat aquascape melonjak tinggi.
Aquajaya Chapter Malang merupakan salah satu toko grosir dengan skala Usaha Mikro Menengah (UKM) yang menawarkan jasa pembuatan aquascape. Selain itu, toko tersebut juga menyediakan berbagai bahan kebutuhan aquascape dalam jumlah besar. Penjualan toko tersebut tidak hanya menyasar pasar di wilayah Malang Raya, tetapi juga sejumlah wilayah lain hingga luar Pulau Jawa.
Priya mengungkapkan, pada masa awal pandemi Covid-19, puncak omzet yang pernah diraupnya mencapai Rp350 juta hingga Rp400 juta per bulan. Hal ini lantaran bertambahnya jumlah peminat aquascape.
"Pada saat puncaknya, nilai omzet tertinggi mencapai Rp350 juta, hingga Rp400 juta per bulan," tuturnya.
Dampak Gelombang Kedua
Liputan6 ©2020 Merdeka.com
Kenaikan omzet bisnis aquascape di awal pandemi Covid-19 tidak berlangsung selamanya. Gelombang kedua penyebaran Covid-19 yang disertai dengan pemberlakuan pembatasan sosial yang dilakukan pemerintah mengurangi mobilitas masyarakat.
Kebijakan pembatasan sosial tersebut berdampak pada bisnis aquascape. Aquajaya Chapter Malang misalnya mulai mengalami penurunan omzet cukup tajam, bahkan lebih rendah daripada kondisi normal sebelum pandemi.
Omzet Aquajaya Chapter Malang yang sebelumnya mencapai Rp400 juta per bulan, anjlok hingga Rp75 juta akibat gelombang kedua pandemi Covid-19. Omzet itu jauh merosot bahkan jika dibandingkan dengan kondisi normal sebelum pandemi Covid-19. Dalam kondisi normal, nilai omzet paling rendah yang didapatkannya berkisar antara Rp150 juta hingga Rp200 juta per bulan.
"Saat ini merosot hingga Rp75 juta. Itu di bawah omzet rata-rata. Kami kisaran Rp150 juta-Rp200 juta," ungkapnya.