LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Warga Jogja Ini Sulap Tempat Sampah Jadi Lahan Pertanian, Demi Ketahanan Pangan

Di Kampung Pugeran, Kota Yogyakarta, para warga berusaha menyulap sebuah lahan yang tadinya merupakan tempat pembuangan sampah menjadi sebuah tempat bercocok tanam. Mereka melakukan itu untuk mewujudkan ketahanan pangan yang sangat penting dilakukan di masa pandemi yang belum berakhir ini.

2021-02-09 12:30:00
DIY
Advertisement

Di masa pandemi ini, perekonomian dilanda krisis yang parah. Banyak penduduk yang terpaksa berhenti kerja, penghasilan menurun, dan pada akhirnya berdampak pada daya beli yang rendah. Namun, tetap ada jalan lain agar warga bisa bertahan hidup. Salah satunya adalah mewujudkan kemandirian pangan.

Selama masa pandemi, banyak kelompok warga yang memutar otak bagaimana caranya mendapatkan kemandirian pangan itu. Di Kampung Pugeran, Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, para warga berusaha mewujudkannya dengan menyulap sebuah lahan yang tadinya merupakan tempat pembuangan sampah menjadi sebuah tempat bercocok tanam. Untuk itulah warga bergotong royong meratakan sebuah lahan kosong di sana dengan alat-alat seadanya.

“Tetapi dengan alat tersebut tidak mampu meratakan tempat sampah ini. Akhirnya warga gotong royong satu dengan yang lainnya untuk menyewa buldoser untuk meratakan tempat sampah tersebut sehingga menjadi lahan yang rata,” ungkap Muhammad Fathoni, Ketua Kelompok Tani Ngudimulyo, dikutip dari kanal YouTube Cap Capung pada Jum’at (29/1).

Advertisement

Namun ternyata masalah tak sampai di situ. Apakah warga Pugeran berhasil memanfaatkan lahan kosong itu menjadi tempat bercocok tanam? Berikut selengkapnya:

Bukan Tanah Subur

Advertisement

©YouTube/Cap Capung

Fathoni mengatakan bahwa tanah yang menjadi tempat dia bersama warga lainnya bercocok tanam bukan merupakan tanah yang subur. Di dalamnya terpendam buangan-buangan material rumah. Hal inilah yang membuat tanaman yang ditanam di sana tidak bisa tumbuh dengan baik.

Namun kendala itu tidak menghalangi warga di sana untuk mencari solusi agar tanah di sana tetap bisa mendatangkan manfaat bagi mereka. Akhirnya mereka menyewa buldoser untuk meratakan tanah di sana. Namun kendala tak cukup sampai di situ, tanah di kawasan itu bukanlah tanah yang subur karena di dalamnya terpendam reruntuhan bangunan lama. Akhirnya mereka menciptakan solusi dengan memasukkan tanaman pada polybag.

“Akhirnya kita tanam tanaman yang punya nilai ekonomis, seperti cabe dan sebagainya, kita tanam di polybag. Karena kalau langsung di tanah kurang begitu bagus,” kata Fathoni mengutip dari kanal YouTube Cap Capung.

Tempat Budi Daya Ikan

©YouTube/Cap Capung

Selain tanaman, Fathoni mengungkapkan bahwa di lahan itu, para warga juga melakukan budi daya ikan. Tercatat ada tiga ikan pangan yang dibudidayakan pada kolam di sana adalah ikan patin, ikan lele, dan ikan nila.

Di luar itu ada pula warga yang mencoba lakukan budidaya ikan hias di kawasan itu. Justru keberadaan ikan hias inilah yang membuat antusiasme warga masyarakat menjadi cukup tinggi untuk mengunjungi gedung tersebut.

“Alhamdulillah antusiasme warga ataupun dari masyarakat luas begitu tinggi untuk mendapatkan ikan hias tersebut, “ kata Fathoni dikutip dari kanan YouTube Cap Capung.

Bantuan Pemerintah

©YouTube/Cap Capung

Fathoni menjelaskan, selain belajar ke berbagai pihak, kemampuan para warga di Kampung Pugeran dalam bercocok tanam tak lepas dari peran pemerintah baik dalam memberikan pelatihan maupun penyediaan fasilitas. Beberapa bantuan yang diberikan pemerintah adalah kolam lele, rumah bibit, dan lain sebagainya.

“Bantuan itu sebagai bentuk perhatian dari berbagai pihak atas keprihatinan kita terhadap kondisi lahan di sini. Ini semuanya terwujud berkat kepedulian berbagai pihak sehingga bisa menambah kemajuan dari kelompok tani ini,” terang Fathoni.

Akan Jadi Tempat Edukasi

©YouTube/Cap Capung

Tak hanya ingin sekedar menjadi lahan bercocok tanam, Fathoni dan teman-teman dari anggota Kelompok Tani Ngudimulyo ingin nantinya tempat itu menjadi tempat edukasi dan pariwisata. Merekapun memohon doa restu dari berbagai pihak agar cita-cita mulia mereka bisa terwujud di masa yang akan datang.

“Nantinya kita akan menggandeng sekolah-sekolah yang ada agar para siswa maupun siswi di sana bisa belajar bersama bagaimana menanamnya, bagaimana cara menyemainya, ataupun bahkan bagaimana cara memelihara lele dan sebagainya,” pungkas Fathoni mengutip dari kanal YouTube Cap Capung.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.