UGM Klaim Deteksi Gejala Sebelum Gempa Cianjur, Begini Penjelasannya
Gempa Cianjur hingga kini telah menyebabkan lebih dari 300 orang meninggal dunia. Banyak dari rumah yang runtuh karena tak sanggup menahan getaran gempa.
Gempa Cianjur hingga kini telah menyebabkan lebih dari 300 orang meninggal dunia. Banyak dari rumah yang runtuh karena tak sanggup menahan getaran gempa.
Belum lagi tanah longsor yang diakibatkan getaran gempa menimpa banyak rumah di suatu perkampungan.
Terkait gempa ini, Tim Peneliti Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol (SSTK) Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM mengklaim telah mendeteksi gejala sebelum gempa berkekuatan magnitudo 5,6 itu terjadi.
Tertangkap Sistem
©2020 Merdeka.com
Ketua Tim Peneliti Laboratorium SSTK UGM, Prof Sunarno mengatakan bahwa gejala tersebut sudah tertangkap melalui sistem peringatan dini (Early Warning System) gempa bumi yang dikembangkan dengan mengukur konsentrasi gas radon dan groundwater level 1-3.
“Data pengukuran konsentrasi gas radon dilakukan mulai dari tanggal 1 November 2022 hingga tanggal 22 November 2022 di stasiun telemonitoring konsentrasi gas radon Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata Prof Sunarno dikutip dari ANTARA pada Senin (28/11).
Ia menjelaskan dalam pemantauan itu, konsentrasi gas radon mengalami kenaikan hingga lebih dari sembilan kali lipat sebelum kejadian gempa bumi di Bengkulu berkekuatan magnitudo 6,8 pada 18 November 2022 dan di Cianjur magnitudo 5,6 pada 21 November 2022.
Cara Kerja Sistem
©2020 Merdeka.com/liputan6.com
Sunarno menjelaskan, alogaritma prediksi waktu terjadinya gempa pada alat yang ia kembangkan telah diintegrasikan dengan pesan otomatis aplikasi Telegram. Pesan otomatis itu kemudian memberi pesan peringatan akan potensi gempa bumi.
“Ketika sistem mengirimkan status ‘waspada’, maka prediksi gempa bumi satu sampai empat hari ke depan akan terjadi di daerah antara Aceh hingga Nusa Tenggara Timur dengan magnitudo lebih dari 4,5,” jelas Sunarno.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan berdasarkan status “waspada” pada tanggal 18 November tersebut, lebih detail menjelaskan kalau dalam waktu satu hingga empat hari ke depan akan terjadi gempa dengan kekuatan lebih darimagnitudo 4,5.
Masih Tahap Pengembangan
©Liputan6.com/Herman Zakharia
Walau sudah punya data yang lengkap, Sunarno mengakui kalau pihaknya tidak punya hak untuk menyampaikan informasi ke publik. Ia mengatakan bahwa United State of Geological Survey (USGS) menyampaikan bahwa sistem peringatan gempa bumi yang ideal terdiri dari tanggal dan waktu, magnitudo, dan lokasi.
“Sistem peringatan dini gempa bumi yang dirancang oleh tim peneliti EWS Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM ini masih dalam tahap pengembangan untuk mencapai sistem peringatan dini gempa bumi yang ideal yakni lebih spesifik pada waktu, magnitudo, dan lokasi gempa,” kata Sunarno.