Peristiwa 4 April: Berdirinya Organisasi NATO, Begini Sejarah Lengkapnya
NATO merupakan singkatan dari North Atlantic Treaty Organization, yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Organisasi militer ini memiliki tujuan untuk keamanan bersama para anggotanya
NATO merupakan singkatan dari North Atlantic Treaty Organization, yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Organisasi militer ini memiliki tujuan untuk keamanan bersama para anggotanya. Awalnya, NATO dibentuk untuk menekan pengaruh ideologi komunis dari Uni Soviet dengan aliansi saingannya, yaitu Pakta Warsawa pada era Perang Dingin.
Anggota NATO sendiri terdiri dari 2 negara Amerika Utara, 27 negara Eropa, dan 1 negara Eurasia. Pada hari ini, tepatnya pada 4 April 1949 silam, NATO secara resmi didirikan sebagai bentuk dukungan terhadap Persetujuan Atlantik Utara yang ditanda tangani di Washington DC pada April 1949.
NATO mempunyai markas besar di Brussel. Organisasi ini memposisikan diri sebagai murni aliansi pertahanan. Apabila salah satu negara diserang, negara anggota lainnya wajib untuk membela dan menunjukkan solidaritas.
Lantas, apa latar belakang terbentuknya NATO dan bagaimana sejarahnya? Simak ulasannya yang merdeka.com rangkum dari Liputan6.com dan BBC.com:
Sejarah Berdirinya NATO
©telegraph.co.uk
Sejarah berdirinya NATO dimulai pada tanggal 4 Maret 1947, Traktat Dunkrik ditandatangani oleh Prancis dan Inggris sebagai Treaty of Alliance and Mutual Assistance dalam hal kemungkinan serangan yang dilakukan Jerman atau Uni Soviet setelah Perang Dunia II. Kemudian pada 1948, aliansi ini meluas hingga mencakup negara-negara Benelux yang juga disebut sebagai Organisasi Perjanjian Brussel (BTO), yang didirikan oleh Perjanjian Brussel.
Berkat pembicaraan untuk aliansi militer baru, akhirnya NATO terbentuk dan menghasilkan penandatanganan Perjanjian Atlantik Utara pada 4 April 1949. Adapun negara yang tergabung dengan NATO, yaitu anggota Western Union ditambah Amerika Serikat, Italia, Norwegia, Denmark, Islandia, Portugal, dan Kanada.
Selain itu, pada akhirnya negara-negara dari blok timur yang dulu bersitegang dengan blok barat, juga bergabung dengan NATO. Sejumlah negara tersebut, antara lain Jerman Timur, Polandia, Hongaria, Bulgaria, Estonia, Ceko, Lativa, Lituania, Rumania, Slovenia, Slowakia, Montenegro, Albania, dan Makedonia.
Adapun jabatan Sekretaris Jenderal NATO ditetapkan sebagai kepala organisasi sipil pada 1952. Pada saat itu juga, latihan maritim besar pertama NATO terjadi. Setelah Konferensi London dan Paris, Jerman Barat diizinkan untuk dipersenjatai kembali secara militer, ketika mereka bergabung dengan NATO pada Mei 1955.
Isi Perjanjian NATO
CNN.com
Tanggal 4 April 1949, menjadi hari yang cukup penting bagi NATO. Pada hari tersebut, para anggota NATO menandatangani sejumlah perjanjian. Adapun isi dari perjanjian tersebut adalah bahwa para anggota setuju bahwa apabila salah satu negara anggota NATO yang diserang, maka dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.
Selain itu, negara yang bergabung dalam NATO juga memiliki hak untuk mempertahankan diri secara pribadi maupun secara bersama-sama. Lebih lengkapnya, berikut pasal V yang membahas mengenai persetujuan tersebut, yakni:
"Para anggota setuju bahwa sebuah serangan bersenjata terhadap salah satu atau lebih dari mereka di Eropa maupun di Amerika Utara akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota. Selanjutnya mereka setuju bahwa, jika serangan bersenjata seperti itu terjadi, setiap anggota, dalam menggunakan hak untuk mempertahankan diri secara pribadi maupun bersama-sama seperti yang tertuang dalam Pasal ke-51 dari Piagam PBB, akan membantu anggota yang diserang jika penggunaan kekuatan semacam itu, baik sendiri maupun bersama-sama, dirasakan perlu, termasuk penggunaan pasukan bersenjata, untuk mengembalikan dan menjaga keamanan wilayah Atlantik Utara."
Sementara, pasal ini diberlakukan untuk menghadapi anggota Pakta Warsawa jika sewaktu-waktu menyerang. Pasal tersebut digunakan pertama kali dalam sejarah pada 12 September 2001 sebagai tindak balasan terhadap peristiwa serangan teroris 11 September 2001.
(mdk/jen)