Penyebab Gangguan Kepribadian Ambang dan Gejalanya, Perlu Diketahui
Borderline Personality Disorder, atau disebut juga dengan gangguan kepribadian ambang adalah salah satu gangguan mental yang banyak terjadi. Gangguan mental ini mempengaruhi cara seseorang berpikir tentang diri sendiri dan orang lain.
Borderline Personality Disorder, atau disebut juga dengan gangguan kepribadian ambang adalah salah satu gangguan mental yang banyak terjadi. Gangguan mental ini memengaruhi cara seseorang berpikir tentang diri sendiri dan orang lain. Sering kali gangguan ini melibatkan masalah citra diri hingga kesulitan dalam pengelolaan emosi dan perilaku.
Biasanya, kondisi ini kerap mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Di mana seseorang dengan gangguan ini, tidak dapat melakukan aktivitas dan berfungsi dengan baik seperti orang pada umumnya. Jika tidak ditangani dengan baik, maka kondisi ini bisa membawa lebih banyak masalah dalam kehidupan.
Dengan begitu, penting bagi Anda untuk mewaspadai risiko gangguan mental ini. Terutama jika salah satu anggota keluarga Anda memiliki gangguan kepribadian ambang, maka risiko penurunan gangguan ini bisa semakin besar. Selain faktor genetik, terdapat penyebab gangguan kepribadian ambang lain yang perlu Anda ketahui.
Dengan mengetahui berbagai penyebabnya, Anda bisa lebih berhati-hati dengan peluang yang ada. Meskipun begitu, Anda tidak bisa mendiagnosis diri sendiri, melainkan butuh pemeriksaan mendalam oleh psikolog untuk memastikan keadaan.
Dilansir dari Mayoclinic, berikut kami merangkum penyebab gangguan kepribadian ambang, gejala, hingga komplikasinya, bisa Anda simak.
Pengertian dan Penyebab Gangguan Kepribadian Ambang
Pengertian
Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan kesehatan mental yang memengaruhi cara seseorang berpikir dan merasa tentang diri sendiri dan orang lain, yang umumnya menyebabkan masalah fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Ini termasuk masalah citra diri, kesulitan mengelola emosi dan perilaku, dan pola hubungan yang tidak stabil.
Orang yang memiliki gangguan kepribadian ambang, memiliki ketakutan yang kuat akan pengabaian atau ketidakstabilan. Selain itu, mungkin Anda mengalami kesulitan dalam menoleransi kesendirian. Meskipun Anda memiliki hubungan sosial yang suportif dan penuh kasih sayang, tetapi emosi kemarahan yang tidak tepat, sifat impulsif, dan suasana hati yang sering berubah bisa membuat orang-orang di sekitar Anda menjauh.
Jika Anda memiliki gangguan kepribadian ambang, tidak perlu berkecil hati. Banyak orang dengan gangguan ini dapat mengelola gejala dan kondisi lebih baik dari waktu ke waktu. Tentu ini dilakukan dengan pengobatan dan perawatan yang baik oleh psikolog profesional.
Penyebab
Sejauh ini, penyebab gangguan kepribadian ambang belum diketahui secara pasti. Dalam hal ini, faktor lingkungan seperti riwayat pelecehan atau penelantaran anak sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian ambang.
Namun, secara umum orang yang mengalami gangguan kepribadian ambang dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu genetik dan kelainan otak. Berikut faktor penyebab gangguan kepribadian ambang, perlu diketahui:
- Genetika. Beberapa penelitian terhadap saudara kembar dan keluarga menunjukkan bahwa gangguan kepribadian mungkin adalah kondisi yang diturunkan dalam keluarga. Bukan hanya gangguan kepribadian ambang, tetapi juga jenis gangguan mental lainnya.
- Kelainan otak. Beberapa penelitian menemukan terjadi perubahan di area otak tertentu, khususnya yang terlibat dalam regulasi emosi, impulsif, dan agresi pada orang yang mengalami gangguan kepribadian ambang. Selain itu, bahan kimia otak tertentu yang membantu mengatur suasana hati, seperti serotonin, biasanya tidak berfungsi dengan baik sehingga menyebabkan gangguan mental ini.
Gejala dan Faktor Risiko Gangguan Kepribadian Ambang
Gejala
Seperti disebutkan, gangguan kepribadian ambang umumnya memengaruhi bagaimana seseorang berpikir dan merasa tentang dirinya sendiri dan orang lain. Dalam hal ini, orang dengan gangguan kepribadian ambang biasanya mengalami beberapa tanda atau gejala, yaitu meliputi:
- Ketakutan yang kuat akan pengabaian, bahkan melakukan tindakan ekstrem untuk menghindari perpisahan atau penolakan yang nyata atau yang dibayangkan.
- Pola hubungan intens yang tidak stabil, seperti mengidealkan seseorang sesaat dan kemudian tiba-tiba meyakini bahwa orang tersebut kejam.
- Perubahan identitas diri dan citra diri yang cepat. Ini mencakup pergeseran tujuan dan nilai, dan melihat diri sendiri sebagai sosok yang buruk atau seolah-olah Anda tidak ada sama sekali.
- Periode paranoia akibat stres dapat menyebabkan pikiran yang tidak nyata seperti halusinasi. Ini berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa jam.
- Perilaku impulsif dan berisiko, seperti berjudi, mengemudi secara sembrono, seks yang tidak aman, menghabiskan banyak uang, makan berlebihan atau penyalahgunaan narkoba, atau mengakhiri hubungan tanpa alasan yang jelas.
- Ancaman atau perilaku bunuh diri atau melukai diri sendiri, sering kali terjadi sebagai respons terhadap ketakutan akan perpisahan atau penolakan.
- Perubahan suasana hati yang berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari, Ini dapat mencakup kebahagiaan yang intens, lekas marah, rasa malu, atau kecemasan.
- Perasaan kosong yang berkelanjutan.
- Kemarahan yang tidak pantas dan intens, seperti sering kehilangan kesabaran, menjadi sarkastik, atau bertengkar fisik.
Faktor risiko
Gangguan kepribadian ambang ini dapat terjadi pada siapa saja. Namun, terdapat beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan mental jenis ini. Pertama, orang yang memiliki riwayat anggota keluarga dengan gangguan kepribadian ambang dinilai lebih rentan mengalami gangguan yang sama. Ini tidak lain karena faktor genetik memiliki pengaruh yang besar dalam penurunan gangguan mental pada seseorang.
Kedua adalah orang yang memiliki pengalaman masa kecil penuh tekanan. Seperti pengalaman pelecehan seksual di masa kecil, atau faktor diabaikan oleh orang tua atau orang-orang terdekat selama masa kanak-kanak. Selain itu, anak yang terkena konflik hubungan keluarga yang tidak stabil juga rentan terhadap gangguan kepribadian ambang.
Komplikasi yang Dapat Terjadi
Setelah mengetahui penyebab, gejala dan faktor risiko, terakhir akan dijelaskan risiko komplikasi yang bisa terjadi pada gangguan kepribadian ambang. Orang yang memiliki kondisi ini perlu mendapatkan penanganan dan perawatan yang tepat dari psikolog profesional untuk membantu mengelola gejala.
Jika tidak, kondisi gangguan kepribadian ambang ini akan semakin parah dan menyebabkan banyak masalah dalam kehidupan. Berikut berbagai risiko komplikasi gangguan kepribadian ambang yang perlu diwaspadai:
- Perubahan atau kehilangan pekerjaan yang berulang.
- Tidak menyelesaikan pendidikan.
- Tersandung berbagai masalah hukum, bahkan risiko hukuman penjara.
- Hubungan yang dipenuhi konflik, stres perkawinan atau perceraian.
- Mencederai diri sendiri sehingga sering dirawat di rumah sakit.
- Berisiko memiliki hubungan yang kasar dan tidak sehat.
- Kehamilan yang tidak direncanakan, infeksi menular seksual, kecelakaan kendaraan bermotor dan perkelahian fisik akibat perilaku impulsive.
- Bunuh diri.
Selain itu, Anda mungkin mengembangkan gangguan kesehatan mental lainnya, seperti:
- Depresi
- Alkohol atau penyalahgunaan zat lainnya
- Gangguan kecemasan
- Gangguan makan
- Gangguan bipolar
- Gangguan stres pascatrauma (PTSD)
- Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD)
- Gangguan kepribadian lainnya