Pemkab Gunungkidul Mulai Kewalahan Tangani COVID-19, Ini 3 Faktanya
Di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah setempat mulai kewalahan menangani virus itu. Mereka juga mengalami kendala berupa kurangnya sumber daya manusia (SDM) hingga oksigen yang terbatas.
Pelanggaran-pelanggaran terhadap protokol kesehatan yang terjadi di berbagai tempat membuat kasus COVID-19 makin tak terkendali. Belum lagi muncul varian baru dari India yang menurut penelitian lebih cepat menular dan lebih mematikan.
Di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah setempat mulai kewalahan menangani virus itu. Mereka juga mengalami kendala berupa kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) hingga oksigen yang terbatas.
“Kurangnya SDM dan juga oksigen yang terbatas membuat kami sedikit kewalahan dengan kondisi saat ini. Semoga tidak melonjak lagi kasusnya. Kita maksimalkan dulu rumah sakit yang ada. Kalau mendesak, kita akan gunakan taman budaya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty dikutip dari ANTARA pada Selasa (22/6).
Tempat Tidur Menipis
Instagram/@andreli48 ©2021 Merdeka.com
Dewi mengatakan, angka pasien COVID-19 yang terus meningkat membuat ruang perawatan dan tempat tidur semakin menipis. Apalagi, jumlah kasus aktif di tempat itu mencapai 1.062 kasus.
Dari data yang ada, total kasus COVID-19 di wilayah itu ada 4.550 orang dengan rincian 3.296 orang sembuh, 1.062 pasien dirawat, dan 192 orang meninggal dunia.
“Kami mengharapkan masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Jangan sampai lengah,” kata Dewi.
16 Pedagang di Pantai Drini Terpapar COVID-19
©2016 Merdeka.com/isn
Sementara itu di kawasan wisata Pantai Drini, Tanjungsari, Gunungkidul, sebanyak 16 pedagang di sana terkonfirmasi positif COVID-19. Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono, memastikan bahwa belasan pedagang yang terpapar COVID-19 itu tidak termasuk bagian dari klaster rasulan yang selama ini menjadi salah satu sumber penularan terbesar COVID-19 di Gunungkidul.
Hary menjelaskan, para pedagang itu merupakan orang tanpa gejala yang terkena virus dari aktivitas sosial masyarakat. Oleh karena itu, kasus tersebut tidak akan mempengaruhi aktivitas wisata di sana.
Jangan Panik
©©2012 Shutterstock/Andrey Armyagov
Menanggapi tingginya kasus COVID-19 di Gunungkidul, Bupati Sunaryanta meminta agar warganya untuk tidak panik. Dia mengatakan, ke depan Pemkab Gunung Kidul akan meningkatkan sinergi bersama untuk memutus mata rantai COVID-19 di Gunungkidul.
“Kami berpesan tidak usah panik menghadapi kondisi ini. Tapi kami minta masyarakat untuk tetap waspada dengan mematuhi protokol kesehatan. Terkait dengan aturan baru seperti apa, saya akan rapat dulu di provinsi. Kami juga akan berusaha semaksimal mungkin menambah relawan COVID-19 dan bantuannya,” kata Sunaryanta.