Pandji Pragiwaksono Jadi Penyiar Gara-gara Utang di Kantin Kampus, Begini Ceritanya
Momen itu terjadi ketika Pandji Pragiwaksono masih menempuh kuliahnya di ITB, Bandung. Bagaimana kisahnya? Simak!
Pandji Pragiwaksonokini dikenal sebagai komika stand-up comedy. Namun siapa sangka jika Ia mengawali karier di dunia hiburan sebagai penyiar radio.
Bagaimana langkah awal Pandji Pragiwaksono menjadi penyiar radio memang tidak diketahui banyak orang. Fakta tersebut ternyata cukup unik dan menarik untuk dibahas.
Momen itu terjadi ketika Pandji Pragiwaksono masih menempuh kuliahnya di ITB, Bandung. Bagaimana kisahnya? Berikut selengkapnya:
Ngutang di Kantin
Youtube - Pandji Pragiwaksono
Cerita unik itu diungkapkan oleh Pandji Pragiwaksono dalam videonya yang diunggah di kanal Youtube pribadinya beberapa hari lalu. Dalam video itu, Pandji Pragiwaksono menceritakan awal kariernya.
Awalnya, Pandji Pragiwaksono ingin mengisi perut di kantin setelah bermalam di kampus. Setelah sampai di kantin, Pandji Pragiwaksono tak sengaja melihat lowongan di koran yang terletak di meja kantin.
"Salah satu hari yang benar-benar membantu gue sampai hari ini itu gue mau ngutang. Gue habis begadang di kampus, terus turun ke kantin mau makan mie goreng," kenang Pandji Pragiwaksono.
"Terus sambil gue nunggu makanan gue dateng, gue duduk itu di kantin terus ada koran Pikiran Rakyat ke buka di lowongan pekerjaan," imbuhnya.
Penyiar Radio
Tak perlu pikir panjang, akhirnya Pandji Pragiwaksono langsung memutuskan untuk melamar pekerjaan menjadi penyiar radio. Ia mengatakan bahwa penyiar radio adalah langkah awalnya untuk menjadi seorang presenter pertandingan liga basket yang diimpikannya.
"Terus gue baca tulisannya ada lowongan pekerjaan untuk jadi penyiar Hard-Rock FM, di Bandung," kata Pandji Pragiwaksono.
"Gue dari dulu pengen jadi presenter NBA, gue tau awalnya itu jadi presenter radio dulu baru presnter NBA. Jadi gue ngelamar, itu gara-gara mau ngutang di kantin," tambahnya.
Kembali ke ITB
Lebih lanjut, setelah bertahun-tahun Pandji Pragiwaksono lulus dari kampus, ia kembali untuk menemui pemilik warung tersebut. Mengingat utangnya masih ada, Pandji Pragiwaksono memberikan pemilik warung tersebut uang senilai Rp5 juta.
"Nah bertahun-tahun setelah gue lulus dari ITB, udah nikah udah punya anak, gue balik ke Bandung dan gue memutuskan untuk nyari warung Roti Bakar Dodi itu," ungkap Pandji Pragiwaksono.
"Terus gue cari ternyata gue nemu. Terus gue kasih uang lima juta waktu itu," ucapnya.