LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Merapi Erupsi 4 Kali dalam Dua Hari, Ini Penjelasan Pakar Terkait Tipe Letusan

Gunung Merapi erupsi empat kali dalam rentan waktu dua hari. Pakar Gunung Api dari ITB Mirzam Abdurrachman mengatakan, Gunung Merapi merupakan salah satu gunung aktif di dunia selain Gunung Sakurajima di Jepang dan Gunung Mauna Loa di Hawaii. Sehingga intensitas erupsi yang banyak merupakan hal yang wajar.

2020-03-31 08:30:00
DIY
Advertisement

Gunung Merapi mengalami erupsi sebanyak empat kali dalam rentan waktu dua hari, yaitu pada Jum’at (27/3) sampai Sabtu (28/3). Erupsi pertama terjadi pada Jum’at pagi pukul 10.56, dilanjut erupsi kedua yang terjadi pada pukul 21.56.

Keesokan harinya, erupsi di Gunung Merapi kembali terjadi pada pukul 5.21 pagi, dan dilanjut malamnya pukul 19.25. Walaupun begitu, status Gunung Merapi tetap berada di level II atau Waspada.

Menurut KepalaBalai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi(BPPTKG) Hanik Humaida, terjadinya erupsi itu mengindikasikan adanya suplai magma yang bergerak ke permukaan.

Advertisement

“Kejadian letusan macam begini masih dapat terus terjadi. Erupsi yang berurutan dalam waktu dekat mengindikasikan adanya suplai magma ke permukaan. Sekarang kita belum tahu magma sejauh mana. Kita tunggu saja perkembangannya seperti apa,” ujar Hanik dikutip dari Liputan6.com pada Minggu (29/3).

Sementara itu pakar Gunung Api dari ITB Mirzam Abdurrachman mengatakan, Gunung Merapi merupakan salah satu gunung aktif di dunia selain Gunung Sakurajima di Jepang dan Gunung Mauna Loa di Hawaii. Sehingga intensitas erupsi yang banyak merupakan hal yang wajar.

Advertisement

Erupsi Setiap Tahun

SYAFA ART/via REUTERS

Menurut Mirzam, baik Gunung Merapi, Sakurajima, dan Gunung Mauna Loa merupakan gunung yang bisa saja mengeluarkan erupsi setiap tahunnya. Sementara itu Gunung Merapi merupakan gunung dengan periode letusan pendek setiap empat tahun sekali dan jangka panjang setiap 10-15 tahun sekali. Menurutnya, hal itu seharusnya tidak menjadi kekhawatiran penduduk

"Hal itu tidak akan menjadi kekhawatiran penduduk apabila mereka mengenal self mitigation yang baik," kata Mirzam dikutip dari Liputan6.com.

Volcanic Explosivity Index Gunung Merapi

REUTERS/Dwi Oblo

Mirzam menjelaskan, besar letusan sebuah gunung berapi dapat diukur dengan skala Volcanic Explosivity Index (VEI) yang memiliki rentan nilai 0-8. Menurut Mirzam, VEI Gunung Merapi berada pada skala VEI-3 yang artinya berada di posisi tengah. Penentuan nilai itu dapat diukur salah satunya dari tinggi kolom Merapi saat erupsi.

"Melalui kejadian Erupsi Gunung Merapi, masyarakat sebetulnya bisa mengetahui berdasarkan data yang ada bahwa ketinggian kolom 6.000 meter itu berada dalam skala VEI-3," ujar Mirzam.

Peningkatan Aktivitas Gunung Merapi

Reuters

Secara sekilas, Mirzam melihat peningkatan aktivitas yang terjadi pada Gunung Merapi dibandingkan erupsi yang pernah terjadi pada tahun 2018. Pada waktu itu, Gunung Merapi pernah mengeluarkan erupsi dengan tinggi kolom mencapai 5.500 meter. Namun untuk mengetahui secara lebih rinci apakah aktivitasnya naik atau turun, perlu beberapa parameter lagi dalam mengukurnya.

"Untuk mengetahui ini kita perlu pemantauan secara komprehensif beberapa parameter seperti seismisitas, perubahan ukuran tubuh gunung api, pendeteksian jenis gas yang dilepaskan, dan juga perubahan temperatur," ujar Mirzam dilansir dari Liputan6.com.

Bahaya Gunung Merapi

2020 Merdeka.com

Menurut Mirzam, ada dua macam bahaya dari letusan sebuah gunung api, yaitu bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer adalah bahaya yang terjadi bersamaan saat gunung api meletus. Sementara itu bahaya sekunder adalah bahaya yang terjadi setelah letusan berakhir.

"Contoh dari bahaya primer itu adalah dengan adanya abu vulkanik sehingga menyebabkan gangguan kesehatan dan gangguan pandangan. Sementara itu bahaya sekunder itu seperti ancaman lahar dingin atau lahar hujan," pungkas Mirzam.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.